
Alunan musik klasik menemani ritual makan malam James dan Mia. Saat ini mereka sedang berada di sebuah restoran bintang lima yang berada di daerah Itaewon. Ini pertama kalinya bagi Mia makan di restoran mewah apalagi dengan seorang pria tampan seperti James. Mia merasa dirinya berada di negeri dongeng yang bertemu dengan pangeran berkuda putih.
Suasana restoran terlihat tenang, tidak banyak pengunjung yang datang dan hal itu menguntungkan bagi mereka karena bisa mengobrol dengan nyaman tanpa diganggu oleh keributan dari para pengunjung yang lain.
"Bagaimana makanannya apa kau suka?" Tanya James.
"Umm ini makanan terenak yang pernah aku makan" jawabnya malu. Mia merasa dirinya begitu kampungan saat melihat makanan tersebut tersaji di depannya. Menahan diri agar tidak melahap makanan tersebut secara serampangan seperti orang yang kelaparan. Ia harus menjaga image di depan James dan tidak membuat pria itu malu membawanya ke restoran tersebut.
James senang mendengarnya, itu berarti pilihannya sangat tepat.
"Lain kali aku akan membawamu ke restoran yang menunya jauh lebih enak dari ini"
"Benarkah?" tanya Mia berbinar.
"Kau bisa memilih makanan apa saja yang kau mau"
"Emm gratis kan?" Tanya Mia dengan senyuman jenaka, James tertawa mendengarnya. "Tentu saja, selama kau mau pergi denganku"
Perbincangan mereka malam ini terdengar sangat santai, keduanya terlihat nyaman satu sama lain tanpa ada rasa canggung sama sekali. Sesekali Mia tertawa mendengar lelucon James, gadis itu tidak menyangka James adalah pria yang humoris.
Setelah selesai makan malam, James memutuskan mengajak Mia ke suatu tempat yang romantis. Dimana tempat tersebut sering di rekomendasikan untuk di datangi bersama pasangan.
Pemandangan kota A menyambut retina mata Mia begitu sampai di puncak. Mulutnya tak henti-hentinya bergumam takjub melihat lampu-lampu cantik menghiasi kota A. Sudah lama sekali ia tidak datang ke tempat ini, terakhir ia berkunjung saat dirinya masih SMA.
"Apa kau pernah ke sini sebelumnya?"
"Umm pernah, dulu sekali. Rasanya tempat ini banyak berubah, dulu tidak seindah ini".
Mia menatap gembok-gembok cantik yang terpasang di sepanjang pagar. Bibirnya melengkung ke atas melihat tulisan-tulisan yang tertera di sana.
Dalam hati ia merasa iri dengan tulisan-tulisan tersebut, kapan ia bisa menuliskan nama pasangannya di sana? Sedangkan sampai sekarang ia masih belum juga mendapat kekasih.
"Mia, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan" James membuka suara.
Mia mengalihkan pandangannya menatap James, ekspresi pria itu terlihat serius.
James menarik tangan Mia yang sedang berpegangan pada sisi pagar. Jantung Mia mulai berdetak sangat cepat begitu merasakan sentuhan James lagi. Tubuh mereka kini saling berhadapan, keduanya diam untuk beberapa saat.
James terlihat beberapa kali menghela nafas, membasahi bibirnya yang terasa kering, pertanda jika pria itu gugup. James menunduk sejenak menatap telapak tangan mereka yang saling bertaut. Mia masih diam menunggu apa yang ingin James sampaikan.
"Aku ingin berbicara jujur padamu"
"Katakan saja"
James mengangkat wajahnya kembali, menatap Mia dengan intens
"Jujur, selama ini aku memiliki perasaan padamu"
Kecepatan detak jantung Mia semakin bertambah, gadis itu belum merespon. Ia masih menunggu apa lagi yang akan di ucapkan James selanjutnya.
"Aku menyukaimu"
"Se..sejak kapan?"
"Sejak kau mulai bekerja di rumah Marvin. Selama ini aku memperhatikanmu secara diam-diam. Awalnya aku pikir ini hanya perasaan sesaat. Tapi semakin lama aku semakin tertarik padamu dan ingin mengenalmu lebih jauh. Maaf mungkin aku terlihat pengecut, aku baru berani mendekatimu sekarang. Jujur, aku takut sekali kau akan menolakku".
"Maaf mungkin ini terlalu cepat untukmu, tapi aku sangat yakin dengan perasaanku bahwa kau adalah gadis yang tepat untukku" James menarik nafasnya sejenak. Ia tidak bisa menahan perasaannya lagi, sudah cukup selama beberapa tahun ini ia memendamnya, sudah saatnya gadis itu tau.
"Mia... Apa kau mau jadi kekasihku?"
Mia terkejut dengan ucapan James, beberapa kali gadis itu mengerjap tak percaya dengan ucapan pria itu. Tanpa sadar ia meremas tangan James yang masih menggenggamnya. Gadis itu tidak menyangka, di balik sikap James yang dulu cuek ternyata diam-diam memperhatikan dirinya.
"Oh Tuhan apa ini mimpi?" Mia bisa melihat ketulusan dari mata James, tidak ada keraguan ataupun kebohongan di sana.
"Aku tidak akan menuntut mu untuk menjawabnya sekarang, aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku saja" James tersenyum kecil, lalu mengelus pucuk kepala Mia dengan lembut. Mencoba menenangkan gadis itu yang nampak tegang. James melepas genggamannya lalu berbalik menatap pemandangan di sana.
Tidak bisa di pungkiri pria itu sangat gugup dan takut jika gadis itu menolaknya. Melihat reaksi Mia saat ini membuat James kembali tidak percaya diri, ini pertama kalinya bagi James menyatakan perasaannya pada seorang gadis. Jadi wajar saja jika pria itu sangat gugup. Selama ini James selalu menutup hatinya pada wanita lain, mata dan hatinya selalu ia jaga untuk gadis yang disukainya yaitu Mia.
"Kakak" Mia akhirnya membuka suara, James kembali menatapnya dengan secercah Miapan di matanya.
"Sebelumnya, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu"
"Kenapa kakak menyukaiku? Padahal aku hanya seorang pelayan" cicit Mia pelan, kini giliran gadis itu yang tidak percaya diri. Ia tidak menyangka saja pria sekeren James bisa menyukai gadis biasa sepertinya, padahal di luar sana pasti banyak wanita yang berkelas yang cocok bersanding dengan James.
James tersenyum mendengar pertanyaan Mia, di sentuhnya kedua pundak Mia dengan lembut membuat pandangan mereka kembali bertemu.
"Karena kau gadis yang sederhana itu salah satunya, selebihnya aku tidak tahu mengapa aku begitu menyukaimu. Ah bukan, aku mencintaimu Mia. Aku ingin kau selalu berada di sisiku, itu yang aku rasakan"
Mata Mia berubah berkaca-kaca, ia terharu mendengar penuturan James. Gadis itu merasa begitu di cintai, tatapan pria itu berhasil membuat hatinya menghangat dan berdebar. Jujur saja, ia pun memiliki perasaan yang sama dengan James. Namun gadis itu takut dirinya tidak pantas bersanding dengan pria itu. Tetapi setelah mendengar alasan James barusan, akhirnya ketakutan itu terpatahkan.
Air mata Mia jatuh di pelupuk matanya, James seketika khawatir melihatnya. "Hey kenapa menangis?" James dengan cepat menyentuh ke dua pipi Mia, mengusap air mata itu dengan ibu jarinya.
"Kakak... Aku mau jadi kekasihmu" Mia tersenyum, masih dengan air mata yang menetes. Gadis itu terlalu bahagia mendapatkan kasih sayang dari James.
"K..kau serius?" Tanya James tak percaya
"Kalau aku bercanda mana mungkin sampai menangis begini" Mia menundukkan kepalanya merasa malu, menyembunyikan wajahnya yang berubah merona.
Hati James membuncah senang, di tariknya tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Hatinya lega sekarang, akhirnya perasaan yang ia pendam selama ini terbalaskan.
"Terima Kasih, terima kasih banyak Mia" James mengecupi pucuk kepala Mia beberapa kali, senyuman merekah menghiasi wajah keduanya. Penantian James selama ini akhirnya berbuah manis.
"Aku yang harus berterima kasih, karena kakak bersedia mencintai gadis biasa sepertiku" jawab Mia lalu membalas pelukan hangat pria yang kini menjadi kekasihnya itu.
James melepas pelukannya sejenak, menatap Mia penuh cinta. Di elusnya pipi halus Mia dengan gerakan pelan membuat gadis itu memejamkan matanya. James mendekatkan wajahnya, mencium bibir Mia dengan sangat lembut dan hati-hati.
Mia terkejut saat merasakan ada sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya, kelopak matanya terbuka. Jantungnya kian berdebar setelah di suguhi wajah James yang begitu dekat, bahkan tak berjarak dengan kondisi mata tertutup. Perlahan James menggerakan bibirnya, membelai bibir manis Mia dengan lidahnya, menyesapnya dengan hati-hati.
Terbuai dengan ciuman James, Mia kembali memejamkan matanya. Bibirnya mulai bergerak membalas ciuman pria itu, tangannya turut melingkar di pinggang James. Mereka tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang kebetulan ada di sana, keduanya larut mencurahkan perasaan mereka lewat ciuman manis tersebut. Sesekali James mengusap pipi Mia agar gadis itu lebih nyaman.
James melepas tautan bibir mereka begitu pasokan udara mereka mulai menipis. Wajah Mia seketika merona begitu tatapan mereka bertemu dengan nafas memburu. Saling berebut oksigen akibat ciuman tersebut.
James kembali menarik tubuh Mia ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala gadis itu di dadanya. Udara semakin dingin, James tidak akan membiarkan gadisnya kedinginan. Mia tersenyum dalam diam, ia belum pernah merasa sebahagia ini.
"Aku mencintaimu"