My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Kemarahan Marvin



Hari sudah mulai gelap, matahari sudah bergulir ke bagian bumi yang lainnya. Kesunyian itu semakin Brianna rasakan saat langit benar-benar gelap. Sudah hampir 2 jam ia berjalan kaki menapaki jalan tersebut, seperti tidak ada ujungnya. Sejak tadi, tidak ada satupun mobil yang lewat. Kakinya sudah mulai pegal dan lecet, Brianna kelelahan dan ia tidak bisa melanjutkan perjalanan dalam kondisi gelap seperti ini. Hanya ada cahaya bulan yang menerangi jalannya.


Suara berbagai jenis binatang mulai terdengar, seperti burung, jangkrik, bahkan ia sempat mendengar suara longlongan anjing liar, benar-benar menakutkan.


Semilir angin mulai menusuk kulit tubuhnya, sialnya lagi ia tidak memakai jaket tebal. Brianna hanya bisa memeluk tubuhnya sendiri.


"Hikss mama.. dingin" Brianna terlihat menggigil, matanya menyapu keadaan sekitarnya yang nampak gelap gulita membuat rasa takutnya kian membucah.


Tak lama kemudian ia melihat gubuk kecil yang berjarak sekitar 20 meter di depannya. Dengan langkah pelan Brianna pun mendekati gubuk tersebut.


#


Di gubuk tua itulah Brianna dapat beristirahat. Setiadaknya tempat itu aman untuk dirinya berteduh hingga esok hari.


Kryuuukk!!


Brianna mendengar perutnya bersuara, tidak hanya kedingingan Brianna pun merasa lapar. Terakhir ia makan saat sarapan pagi, setelahnya ia belum makan apa-apa.


"Sssshhhh..." Brianna nampak meringis merasakan perutnya yang terasa perih. Ia sangat lapar dan haus.


"Tahanlah Brianna, disini tidak ada makanan. Kau pasti kuat" Brianna berusaha menyemangati dirinya sendiri.


Tak lama kemudian ia mendengar suara longlongan anjing kembali, ah tidak sepertinya itu suara seekor serigala di dalam hutan. Bulu kuduk Brianna seketika berdiri, ia merapatkan tubuhnya ke dinding bilik yang sudah rapuh.


Brianna semakin ketakutan saat suara serigala itu terus terdengar, lagi-lagi Brianna hanya bisa menangis sambil memeluk lututnya.


"Ya Tuhan tolong lindungi aku" batinnya terus berdo'a.


***


2 jam telah berlalu, Marvin tidak kunjung mendapatkan kabar dari James. Anak buah Marvin masih dalam proses pencarian. Hal ini semakin membuat Marvin kalang kabut, akhirnya pria itu memutuskan untuk terjun langsung mencari keberadaan gadisnya, menyusul James.


"Bagaimana hasil cctvnya James?"


"Maaf bos, toko ini tidak memasang kamera cctv. Ini membuat kami kesulitan"


"Oh yang benar saja, apa tidak ada satupun petunjuk?"


"Aku akan menghubungi taxi yang dinaiki oleh Brianna dan wanita itu, mungkin dari sana kita tahu kemana Brianna pergi"


Marvin mengangguk mengerti, ia yakin James pasti akan melakukannya dengan baik.


"Bos, aku rasa wanita itu berbohong"


"Maksudmu pelayan tadi?"


"Ya, aku sudah menanyakan pada pemilik tokonya, bahwa tadi siang tidak ada wanita yang membeli gelas di tokonya"


"Sial!! Apa wanita itu mencoba mempermainkan aku?"


"Entahlah, itu hanya perasaanku saja. Biar aku yang menyelidikinya langsung"


"Tidak James, soal pelayan itu biar aku yang urus. Lanjutkan saja tugasmu sekarang"


"Baiklah"


Tanpa mereka sadari wanita yang sedang mereka bicarakan ada di tempat tersebut. Samantha, wanita itu diam-diam mengikuti Marvin untuk mengetahui sejauh mana pria itu mencari keberadaan gadis yang menjadi rivalnya itu.


"Sial!!! Aku bisa tamat jika begini" umpat Samantha kesal. Ia pun segera pergi dari tempat tersebut. Samantha yakin setelah ini Marvin akan menemuinya.


***


Setelah hampir 5 jam pencarian, akhirnya James berhasil menemukan keberadaan Brianna. Informasi awal James dapatkan dari supir taxi yang mengantarkan Brianna dan Samantha, sebuah fakta mengejutkan bahwa Brianna benar-benar tidak pergi ke toko tadi, melainkan ke tempat lain yang jauh dari pusat kota.


Dari tempat Brianna di culik, disana rupanya ada sebuah kamera cctv yang berada di persimpangan jalan yang tak jauh dari posisi Brianna. Dari kamera cctv itulah James bisa melihat plat nomor mobil yang berhenti di depan Brianna.


"Cihh tikus-tikus kecil itu sangatlah bodoh, mereka sungguh payah melakukan penculikan seperti ini" James tersenyum remeh, rupanya ini jauh lebih mudah dibanding apa yang ia bayangkan.


Tak butuh waktu lama James dan yang lainnya berhasil membekuk dua pria yang menculik Brianna. Kali ini Marvin sendiri yang langsung menghajar keduanya hingga babak


belur.


Bugh!!! Bugh!!!


"Sialan!!! Kalian bawa kemana gadisku hah!!!"


Bugh!!!


"A..ampun Tuan"


"Katakan brengsek!"


Bugh!!!


"Bos tenanglah, mereka bisa mati" James berusaha menenangkan Marvin, emosi pria itu benar-benar tak terkendali. Marvin bisa saja membunuh mereka dalam satu kali pukulan lagi.


"Ka..kami membawanya ke hutan"


Bugh!!!


"Bedebah kalian berdua!! Pergi kalian ke neraka!!"


Yang terakhir kalinya Marvin menendang tubuh keduanya, hingga mereka nyaris kehilangan kesadarannya.


Marvin menarik kerah baju salah satu dari mereka, matanya menyalang marah ke arah pria itu. Nafasnya tampak memburu hingga penculik tersebut tak berani menatapnya.


"Siapa yang menyuruh kalian menculik gadisku hah?!"


"I..itu.. Sam.."


"Katakan dengan jelas brengsek!!!"


"Sam.. Samantha Tuan"


Marvin langsung mendorong pria itu dengan kasar, ternyata dugaan James memang benar. Wanita itulah dalang dibalik penculikan ini. Marvin baru sadar, jika wanita itu memang terlihat tidak menyukain Brianna sejak awal.


"Sialan kau Samantha, kau akan menyesal!"


Lihatlah seorang Marvin Xavier bisa saja berubah menjadi monster yang mengerikan jika kalian berani mengusik miliknya.


Jadi masih adakah yang berani bermain-main dengan Marvin Xavier?