My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Ponsel Baru



Brianna benar-benar gugup luar biasa, ia tidak habis pikir jika Marvin akan memperkenalkannya pada sang ibu. Brianna benar-benar belum siap, ia merasa tidak percaya diri. Banyak spekulasi muncul di kepalanya, membuat perasaannya semakin tidak tenang.


Tidak hanya Brianna yang merasa gugup, Marvin pun juga merasakan hal yang sama namun bedanya pria itu begitu pintar menutupi rasa gugupnya. Ia hanya bisa berdo'a agar sang ibu mau menerima Brianna sebagai kekasihnya. Marvin menggenggam tangan Brianna dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menyetir.


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Marvin.


"Tenanglah semuanya akan baik-baik saja"


"Kak, bukankah ini terlalu cepat? Bahkan mamaku belum tahu tentang hubungan kita" Brianna melontarkan kegelisahannya.


"Aku akan bicara juga dengan ibumu mengenai hubungan kita. Mau sampai kapan kita akan menutupinya? Cepat atau lambat mamamu pasti mengetahuinya"


"Tapi aku takut"


"Semuanya akan baik-baik saja, percaya padaku"


Usapan lembut di tangannya membuat Brianna merasa lebih baik. Marvin menepikan mobilnya sejenak di bahu jalan yang terlihat sepi.


"Kenapa berhenti?"


"Hampir saja aku melupakan sesuatu"  Marvin mengambil sebuah goodie bag di kursi belakang.


"Bukalah" Marvin memberikan goodie bag tersebut pada Brianna, gadis itu menyerngit heran tapi tetap menerimanya lalu membukanya.


"I..ini..." Brianna terkejut melihat isinya, rupanya itu sebuah ponsel. Dilihat dari tampilan luar saja, harga ponsel tersebut pasti sangatlah mahal.


"Gunakan ponsel itu agar aku lebih mudah menghubungimu" Marvin tersenyum simpul. Ia tahu Brianna belum memiliki ponsel pribadi. Bahkan Marvin membeli ponsel keluaran terbaru dengan harga fantastis untuk kekasihnya. Hal tersebut tidaklah seberapa bagi Marvin, mengingat betapa kaya nya pria itu.


"Ini pasti mahal" batin Brianna. Rupanya gadis itu ragu untuk menerimanya.


"Kenapa diam? Kau tidak suka?"


"Aku suka.. sangat suka, tapi apa ini tidak berlebihan?"


"Tapi, aku tidak bisa menerimanya kak" Brianna memasukkan kembali ponsel tersebut ke dalam tempatnya lalu memberikannya pada Marvin.


Marvin mendengus, rupanya Brianna masih sungkan padanya. "Aku tidak akan jatuh miskin hanya karena membelikanmu ponsel. Jadi terimalah".


"Tapi..."


"Terima ini atau aku akan mencium bibirmu hingga sesak nafas"


Mendengar ancaman tersebut Brianna segera menutup bibirnya. Sebuah ide jahil muncul, selama ini Brianna selalu menolak ketika Marvin ingin menciumnya khususnya di bibir.


Menurutnya ia masih terlalu kecil untuk melakukan hal dewasa tersebut. Pernah suatu hari Marvin lepas kendali ingin mencium lebih gadis itu, saat itu juga Brianna berlari ketar-ketir seolah-olah Marvin pria cabul yang akan melakukan hal kotor padanya. Harga diri seorang Marvin Xavier merasa jatuh saat itu juga. Brianna hanya ingin berciuman setelah umurnya 17 tahun, begitulah prinsipnya. Dan itu artinya Marvin harus menunggu kurang lebih 8 bulan lagi untuk bisa menikmati manisnya bibir Brianna.


Walaupun begitu Marvin kerap sekali mencuri ciuman dari gadis itu, ya walaupun sekedar kecupan tidak lebih.


"Bagaimana? Kau mau terima ponsel  itu atau terima ciumanku?" Marvin tersenyum menyeringai, wajahnya mulai mendekat mengikis jarak di antara mereka.


Brianna panik, bola matanya bergerak gelisah. Marvin semakin mendekatkan wajahnya, tangannya sudah terulur menyentuh pundak Brianna. Membuat jantung Brianna berdebar.


Marvin tidaklah main-main jika Brianna benar-benar menolak pemberiannya maka persetan dengan prinsip konyol itu, Marvin akan meruntuhkan pertahanannya.


Jarak mereka kian mendekat, wajah Brianna memanas saat wangi nafas mint menerpa kulit wajahnya. Sebenarnya Brianna sedikit penasaran bagaimana rasanya berciuman versi orang dewasa.


"Sial! Singkirkan pikiran kotormu Brianna Carissa!"


"Baik! Baik! Aku akan terima ponsel ini!" Brianna menyerah.  Lagipula percuma saja ia menolak, Marvin pasti akan tetap memaksanya. Ingat! Marvin benci penolakan!


Marvin tersenyum menang, di kecupnya pipi gadis itu dengan cepat. Lagi-lagi Brianna salah tingkah, kenapa Marvin hobi sekali mengusik kinerja jantungnya.


"Gadis pintar" dielusnya kepala gadis itu dengan lembut. Posisinya kembali ke tempat semula. Marvin kembali menjalankan mobilnya dengan senyuman mengembang di bibirnya, layaknya anak remaja yang tengah di landa kasmaran. Pria itu bahagia.