My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Aku Merindukanmu



Brianna menatap sedih kotak bekal di atas pangkuannya. Saat ini ia sedang menunggu James menjemputnya. Sejak insiden tadi pagi, mood Brianna benar-benar buruk. Bahkan gadis itu melewatkan jam istirahatnya dan memilih diam di perpustakaan tanpa mempedulikan perutnya yang minta diisi. Nina pun tidak tinggal diam, gadis itu berusaha membujuk Brianna untuk makan namun Brianna terus menolak.


Bunyi klakson mobil berhasil menyadarkan Brianna, rupanya James sudah tiba. Brianna langsung masuk ke dalam mobil tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Gadis itu terus menekuk wajahnya mengabaikan sapaan James. Pria itu mengernyit heran melihat sikap Brianna yang tak biasa. Biasanya gadis itu selalu menyapanya.


"Brianna, apa kau baik-baik saja?" Tanya James. Namun Brianna tetap bungkam, sepertinya gadis itu benar-benar tidak mau diganggu. Brianna memilih untuk menatap keluar jendela daripada menanggapi pertanyaan James.


Helaan nafas keluar dari mulut James. Sebelum ia menyalakan mesin mobil, James mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu di sana.


"Sepertinya Brianna ada masalah, dia terus diam dan menekuk wajahnya"


Send


"Kak, ayo pulang" tegur Brianna. Jangan sampai James menambah buruk suasana hatinya.


"Baiklah, ayo kita pulang" jawab James cepat, ia melirik kembali ponselnya setelah ada notifikasi masuk. Baru setelah itu James melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Brianna.


#


"Kak, ini bukan arah jalan pulang, kita mau kemana?" Tanya Brianna yang mulai menyadari bahwa ini bukanlah jalan menuju rumah Marvin.


"Kita akan menemui Marvin di kantornya"


"Untuk apa?"


"Sepertinya dia merindukanmu, dia memintaku untuk mengantarmu kesana"


Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai di kantor Marvin. Brianna hanya menurut dan mengikuti James. Seperti biasa Brianna akan menjadi pusat perhatian orang-orang di sana. Sudah lama Brianna tidak mendatangi kantor kekasihnya itu, terakhir ia datang sebelum mereka menjalin kasih dan ia masih menjadi maid Marvin.


Ting!


Pintu lift terbuka di lantai 20 tempat ruangan Marvin berada. Disana ada sekretaris Marvin yang sedang sibuk dengan layar komputernya. Sadar akan keberadaan James, wanita itu segera berdiri menyambutnya.


"Apa Tuan Marvin ada di dalam?"


"Ya, beliau ada di dalam Tuan"


"Brianna masuklah ke dalam, aku akan menunggu di bawah"


"Kenapa kakak tidak ikut masuk?"


"Karena Marvin hanya ingin bertemu denganmu" kekeh James lalu mengacak rambut Brianna dengan gemas.


"Jangan memasang wajah cemberut lagi, bicaralah jika ada masalah terutama pada Marvin, pria itu sangat khawatir"


"Kapan aku cemberut? Aku baik-baik saja"  kilah Brianna.


"Cepat masuk Marvin sudah menunggumu" James membukakan pintu ruangan Marvin lalu mendorong Brianna untuk masuk.


Rupanya Marvin memang sudah menanti kedatangan sang kekasih. Pria itu sedang duduk santai di sofa sambil menikmati segelas wine di tangannya. Senyumannya seketika mengembang melihat gadis yang dicintainya telah tiba.


"Kemarilah" Marvin menepuk tempat kosong di sisinya. Brianna hanya menurut lalu duduk di samping Marvin tanpa ragu.


Marvin memperhatikan ekspresi Brianna dengan seksama. Benar apa yang dikatakan James, wajah gadisnya tidak berseri seperti biasanya.


"Kenapa kakak memintaku kemari? Kakak tidak bekerja?" Tanya Brianna.


"Aku merindukanmu" jawab Marvin sambil menyelipkan helaian rambut yang menghalangi pipi tembam gadisnya. Wajah Brianna seketika merona mendengarnya.


"James bilang kau menekuk wajahmu sejak pulang sekolah tadi. Apa ada masalah?" Tanya Marvin to the point.


"Aku baik-baik saja, mungkin itu perasaannya saja" ketus Brianna. Ia merasa kesal pada James, kenapa hal kecil seperti ini saja harus melapor pada Marvin. Sekarang ia harus menerima wawancara dari prianya itu.