My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Berhenti Membuatku Khawatir



Brianna merapatkan kakinya begitu James membawa kotak P3K di tangannya, kini mereka sedang berada di ruang tamu. Pelayan yang selalu bertugas di dapur turut membantu membersihkan luka Brianna. James mengambil tempat samping Brianna, setelah luka tersebut selesai dibersihkan James mengeluarkan satu botol cairan antiseptik berukuran sedang.


Ekspresi gadis itu berubah gelisah melihat James menuangkan obat tersebut ke sebuah kapas, Brianna sangat tidak suka dengan cairan alkohol karena itu terasa sangat perih. Walaupun rasa sakitnya hanya sebentar, tetap saja itu terasa menyakitkan bagi Brianna.


"Ayo angkat kakimu, biar ku obati"


"Aku bisa melakukannya sendiri kak" Brianna menghindar, tubuhnya sedikit mundur saat James mulai mengarahkan kapasnya pada kaki Brianna. James mengerti dengan sikap Brianna, gadis itu ketakutan.


"Tidak apa-apa tidak usah takut".


"Tapi itu sangat sakit" cicit Brianna pelan, menahan malu.


"Sakitnya hanya sebentar, setelah itu lukamu akan segera kering"


Brianna menggeleng tidak mau, dulu saat ia kecil mamanya sering jengkel menghadapi dirinya yang keras kepala ketika tidak mau di obati.


"Lalu kau akan membiarkan lukamu semakin parah hmm?"


"Ini hanya luka kecil"


James berdecak menahan kesal, pasalnya Marvin bisa mengamuk jika mendapati gadis kecilnya ini terluka.


"Brianna Carissa!!"


Teriakan seseorang berhasil menarik perhatian Brianna maupun James. Dibalik pintu utama Marvin muncul dengan wajah paniknya setelah berlari dari taman. Beberapa menit yang lalu ia mendapat kabar dari James bahwa Brianna terluka, saat itu Marvin sedang membeli minuman untuk pelayan kesayangannya tersebut, tanpa berpikir panjang lagi Marvin langsung pulang ke rumah untuk memastikan gadisnya baik-baik saja.


"Kau baik-baik saja?" Marvin duduk di samping Brianna melemparkan satu buah minuman kaleng yang sempat ia beli untuk Brianna. Marvin melemparnya asal ke arah James, untung saja pria itu menangkapnya dengan sigap.


Ekspresi Marvin terlihat begitu khawatir, nafasnya menderu karena lelah berlari. Marvin meneliti sekujur tubuh Brianna dengan teliti untuk mencari luka gadisnya.


"Dia menginjak paku" James bersuara sambil menunjuk telapak kaki kanan Brianna


"Menginjak paku? Bagaimana bisa?"


Marvin menarik kaki Brianna hati-hati, membuat gadis itu meringis.


"Aku juga tidak mengerti, paku itu ada di dalam sepatunya"


"Sebaiknya kita ke rumah sakit"


"Tidak perlu Tuan, saya baik-baik saja"


"Dia sangat keras kepala, sedari tadi ia menolak diobati" bisik James pada Marvin, alhasil Marvin langsung melemparkan tatapan intimidasinya pada Brianna.


Brianna seketika menunduk melihat tatapan dingin Marvin, tangannya mencengkram erat sisi kaos yang Brianna kenakan untuk menghalau rasa takutnya.


Apa Marvin marah?


Marvin merebut antiseptik di tangan James, jika Brianna menolak diobati maka ia sendiri yang akan melakukannya. Ditariknya kaki Brianna ke atas pangkuannya membuat gadis itu terkejut. Brianna ingin menarik kembali kakinya, namun dengan sigap Marvin menahannya


"Tuan..."


Brianna bungkam, jika berurusan dengan gaji maka ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut. Wajah dingin Marvin benar-benar membuat Brianna takut.


"Tahanlah, mungkin ini sedikit perih"


Brianna memejamkan matanya begitu Marvin mengarahkan cairan alkohol tersebut pada lukanya.


"Ahhhh sakiiiiit" Brianna tak kuasa menahan sakit berdenyut-denyut di kakinya. Bibirnya ia katup dengan rapat agar tidak menjerit di hadapan Marvin. James yang melihatnya pun ikut meringis.


"Tuan hentikan kumohon" Brianna memohon pada Marvin untuk berhenti mengobati lukanya. Bahkan matanya sudah memerah menahan tangis.


"Panggil dokter sekarang juga!"


"Tidak!" Tolak Brianna refleks, alhasil Marvin kembali melayangkan tatapan tajamnya. Kenapa gadisnya ini begitu keras kepala?


"James cepat panggil dokter sekarang juga, suruh dia datang kemari"


Marvin tidak menggubris penolakan Brianna, sementara James langsung melaksanakan perintah Marvin. Pria itu pergi meninggalkan Marvin dan Brianna berdua.


Marvin kini fokus membalut luka Brianna dengan perban. Setelah selesai, ia langsung memandang Brianna yang masih meringis menahan sakit, tangannya terulur mengusap pipinya.


"Berhenti membuatku khawatir" ucap Marvin pelan nyaris tak terdengar.


Brianna merasa terkejut dengan ucapan Marvin. Kenapa Marvin khawatir padanya? Dirinya hanyalah seorang pelayan.


"Kita pindah ke kamar"


"A.. apa?"


Detik berikutnya mata Brianna membulat sempurna merasakan tubuhnya melayang, Marvin mengangkat tubuhnya ala bridal style lalu membawanya menuju lantai atas.


"Tuan?!" Brianna ingin mengajukan protesnya, namun ucapan Marvin kembali membuat mulutnya bungkam.


"Aku tidak suka penolakan!"


Marvin terus berjalan dengan wajah seriusnya menuju kamarnya di lantai dua. Dari kejauhan ada seseorang yang memperhatikan mereka berdua, orang itu adalah Samantha.


Tangan wanita itu terlihat mengepal kuat melihat segala perlakuan Marvin maupun James terhadap Brianna. Rupanya niat jahatnya terhadap Brianna justru semakin mendatangkan keuntungan terhadap rivalnya tersebut.


Pada awalnya ia senang melihat Brianna terluka akibat paku yang sengaja ia simpan di sepatu Brianna. Ya Samantha lah pelaku utamanya, wanita itu yang sudah mencelakai Brianna.


Pada saat Marvin sarapan, ia sudah mengetahui bahwa Brianna akan pergi berolahraga dengan Marvin, untuk itu sengaja menaruh paku tersebut di sepatu Brianna agar acara olahraga mereka gagal.


Namun apa yang terjadi sekarang? Marvin justru semakin menunjukkan rasa empatinya pada Brianna, mereka semakin dekat dan ini membuat Samantha muak, bukan ini yang ia harapkan.


"Sialan! Sepertinya aku harus memikirkan cara lain".


Samantha tidak terima melihat segala bentuk perhatian Marvin pada Brianna, bahkan gadis itu diperlakukan dengan istimewa oleh pria itu.