
"Brianna Carissa!"
Brianna menoleh ketika seseorang memanggilnya. Ryan datang menghampirinya dengan senyuman mengembang di bibirnya.
"Mau pulang?"
"Tentu saja, kau pikir aku akan menginap di sini" jawab Brianna ketus lalu buru-buru menjauh dari Ryan.
"Tunggu!" Ryan menahan tangan Brianna "Akhir-akhir ini kau terlihat menghindariku"
"Ryan lepas, aku harus pergi"
Brianna berusaha melepas pegangan tangan Ryan, tapi pria itu semakin mengeratkan cengkramannya. Brianna sangat takut Marvin akan melihatnya lagi.
"Apa karena kejadian di perpustakaan waktu itu?" Ryan menatap Brianna dalam, sedangkan yang di tatap justru enggan menatapnya.
"Maaf Ryan aku harus pulang"
"Jawab pertanyaan ku!"
Brianna menghela nafasnya gusar, lalu menatap Ryan kesal.
"Mungkin itu perasaanmu saja" Dalam satu tarikan pegangan tangan Ryan akhirnya terlepas. Brianna dengan cepat menghampiri James yang sudah berdiri di depan gerbang sekolah.
Kali ini Ryan menyerah, tapi ia tidak puas dengan jawaban Brianna. Seperti ada sesuatu yang gadis itu sembunyikan.
"Apa ini karena Marvin Xavier?"
#
Sementara itu Marvin baru saja keluar dari salah satu restoran ternama. Pria itu telah bertemu dengan salah satu clientnya untuk membahas proyek barunya yang ada di Jepang.
Sambil berjalan menuju mobilnya, Marvin membuka layar ponselnya untuk melihat beberapa pesan yang masuk. Pria itu terdiam saat melihat wallpaper ponselnya, di sana tampak jelas ada foto Brianna yang sedang tersenyum manis ke arah kamera.
Foto itu ia ambil ketika mereka makan di restoran tempat mereka berlibur beberapa hari yang lalu. Marvin turut tersenyum melihat foto gadisnya yang cantik
"Aku merindukanmu gadis kecil"
Karena terlalu fokus memainkan ponsel, Marvin tidak sadar ada sebuah mobil Audi hitam tengah melaju kencang ke arahnya.
"Tuan awas!!!"
Seseorang berhasil menarik tubuh Marvin hingga tubuh mereka jatuh ke atas trotoar.
"Tuan anda tidak apa-apa?"
Marvin mendongak untuk melihat siapa yang menolongnya, rupanya gadis itu adalah Steffy. Sungguh tidak terduga, sedang apa gadis itu di sini?
"Kau?"
"Hai! Kita bertemu lagi Tuan Marvin"
Marvin berdiri dari duduknya tanpa merespon sapaan Steffy, dengan cekatan Steffy langsung membantu Marvin. Walaupun sempat ada penolakan namun Steffy tetap membantunya.
"Terima kasih" ucap Marvin dengan ekspresi datar.
"Apa Tuan baik-baik saja?"
"Hmm ya"
"Syukurlah, kenapa mobil itu ngebut sekali. Dia pikir ini jalan nenek moyangnya apa" dengus Steffy.
"Sedang apa kau di sini? Kau mengikutiku?" Tanya Marvin dengan tatapan penuh selidik.
Steffy tertawa mendengar tuduhan Marvin, lantas gadis itu menunjuk salah satu gedung yang ada di sana "Tuan lihat apartemen itu, aku tinggal di sana".
Steffy mengulum senyumnya, membuat Marvin berdehem malu. "Oh"
Steffy mendengus kesal melihat respon Marvin, ia mencoba bersabar melihat sikap Marvin Xavier yang seperti itu.
"Lain kali Tuan Marvin harus berhati-hati" Steffy memberikan senyuman termanisnya, tetapi itu terlihat memuakkan bagi Marvin.
"Kalau begitu aku pulang dulu Tuan Marvin, sampai jumpa!"
Steffy pergi namun baru beberapa langkah gadis itu meringis sambil memegangi lututnya. Marvin mencoba tidak peduli tapi semakin lama ringisan itu semakin kencang, sehingga mau tidak mau Marvin mendekati gadis itu.
"Hey kau baik-baik saja?"
Marvin terkejut melihat lutut gadis itu terluka. Pasti itu karena Steffy menolongnya tadi.
"Lutut mu terluka"
"Aku baik-baik saja, aku akan mengobatinya di rumah". Steffy kembali berjalan namun tubuhnya oleng, dengan cepat Marvin menahan tubuhnya.
"Tunggu di sini!" Marvin membawa Steffy untuk duduk di salah satu bangku yang berada di depan restoran, lalu pergi menuju mobilnya untuk kotak P3K yang selalu ia bawa di dalam mobilnya. Steffy bersorak dalam hati, rupanya rencananya kali ini berhasil. Marvin telah terjebak dalam perangkapnya.
Steffy merubah ekspresinya menjadi terlihat kesakitan saat Marvin kembali dengan obat antiseptik di tangannya, tentu saja untuk menarik simpati Marvin.
Sejujurnya Marvin malas harus mengurusi gadis ini, tapi karena Steffy sudah menolongnya tadi anggap saja ini sebagai balas budi.
"Terima kasih, Kakak"
Marvin lantas menatap Steffy tajam, ketika satu kata menganggu indera pendengarannya.
"Kakak, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?" Tanya Steffy memohon.
Marvin mendesis pelan, sungguh ia tidak suka mendengarnya. Hanya Brianna yang boleh memanggilnya seperti itu.
"Tidak!"
"Kenapa?" Tanya Steffy dengan raut masam.
"Hanya Brianna yang boleh memanggilku seperti itu, kau bukan siapa-siapaku Steffy, jadi jangan lancang kau!"
Steffy menggerutu dalam hati, ternyata tidak semudah itu mengambil hati Marvin Xavier. Pria itu terlalu dingin untuk ia sentuh. Tapi ia tidak akan menyerah begitu saja, Steffy akan berusaha untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Kak, bisa antar kan aku pulang?"
"Aku sibuk, telfon ibumu saja jika memang rumah mu dekat sini"
"Kakak, ibuku sedang tidak ada di rumah". Steffy sama sekali tidak mempedulikan larangan Marvin, ia terus memanggil Marvin dengan sebutan Kakak dan itu sangat menjengkelkan bagi Marvin.
"Apa Kakak tega membiarkan aku pulang dengan keadaan terluka seperti ini?" Steffy mengeluarkan ekspresi sedihnya.
"Aishhhh baiklah, kali ini aku berbaik hati padamu karena kau telah menolongku tadi"
Senyuman Steffy seketika mengembang. Lantas ia berdiri lalu melingkarkan tangannya di lengan Marvin dengan manja.
Marvin melotot tajam, tapi Steffy tidak peduli . Marvin mengacak rambutnya kesal mencoba meredam emosinya.
"Sabar Marvin Xavier kau hanya perlu mengantarnya!"
Mereka berjalan beriringan meninggalkan halaman restoran. Namun baru beberapa langkah, Steffy mengeluh kesakitan, tubuhnya nyaris ambruk ke tanah dan dengan refleks Marvin melingkarkan tangannya di pinggang Steffy. Sedangkan Steffy mencari kesempatan mengalungkan tangannya di leher Marvin.
Keduanya terdiam dengan jarak begitu dekat, tanpa Marvin sadari ada seseorang yang lebih terluka di banding Steffy.
#
Sepulang sekolah Brianna langsung meminta James mengantarkannya ke kantor Marvin. Brianna ingin sekali bertemu Marvin sebelum pria itu pergi Ke Jepang. James bilang pesawat Marvin akan terbang malam ini.
"Kakak bisa kita mampir sebentar ke restoran itu?" Brianna menunjuk salah satu restoran yang berjarak beberapa meter lagi. Itu adalah restoran yang sering ia datangi bersama Marvin. Brianna ingin membeli beberapa menu favorit Marvin di sana.
"Baiklah"
"Kakak tunggu di sini saja" Brianna buru-buru keluar dari mobil. Bibir manisnya terus mengembang membayangkan Marvin memakannya nanti. Pasti kekasihnya itu sangat senang.
Saat sampai di halaman depan restoran langkah Brianna terhenti melihat seseorang yang amat sangat ia kenal.
"Kakak?"
Hati Brianna mendadak sesak melihat pemandangan di sana. Marvin Xavier tengah memeluk seorang wanita.
Dan Marvin tidak menyadari keberadaan Brianna.
Brianna mendekati Marvin dengan langkah sangat berat, air matanya sudah berkumpul di pelupuk matanya. Brianna ingin melihat siapa wanita yang sedang bersama Marvin itu.
"Kak Marvin sepertinya aku menyukaimu"
Deg!!
Air mata Brianna jatuh mendengar suara itu. Gadis itu adalah Steffy dan sekarang Brianna bisa melihatnya dengan jelas. Posisi Marvin dan Steffy benar-benar menyakiti perasaan Brianna.
Sejak kapan Steffy dekat dengan Marvin? Itulah yang ada di pikiran Brianna saat ini.
"Kak Marvin" panggil Brianna dengan nada suara yang tersendat.
Lantas Marvin menoleh dan terkejut mendapati gadisnya tengah menatapnya dengan pandangan terluka.
"A..Anna?"
Refleks Marvin mendorong tubuh Steffy menjauh hingga terjungkal.
"Kakak!" Teriak Steffy kesal, ia mendelik tajam ke arah Brianna.
"Brianna Carissa kau merusak momentku!"
"Apa ini alasanmu menghindariku?"
"Anna ini tidak seperti yang kau lihat"
Brianna tersenyum masam, lalu mengusap air matanya dengan kasar. "Lanjutkan, maaf sudah menganggu waktu kalian"
Brianna berlari menjauh dari Marvin. Air matanya semakin deras membasahi pipinya. Ia tidak peduli dengan teriakan Marvin yang terus memanggilnya. Marvin ingin mengejar Brianna tapi tangan Steffy menahannya, emosi Marvin meledak saat itu juga. Persetan dengan luka gadis itu, yang terpenting adalah ia harus mengejar Brianna.
Blam!!
"hiks, kak James ayo kita pulang!"
"Brianna apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?"
James panik melihat Brianna kembali dengan keadaan menangis.
"Kak, ku mohon bawa aku pulang sekarang juga!" Teriak Brianna dengan tangisan yang semakin kencang, wajahnya ia tutup dengan telapak tangannya membuat James bingung setengah mati sekaligus khawatir.
Tapi pria itu tetap memenuhi permintaan Brianna yaitu membawanya pulang ke rumah.