
Marvin terdiam mencerna apa yang diucapkan gadis di depannya ini, Marvin tidak mengerti "Mengakhiri apa maksudmu?"
"Hubungan kita" cicit Brianna pelan.
Sorot mata Marvin berubah menajam, bibirnya terkatup rapat. Apa dirinya salah dengar? Pandangannya menatap lurus ke arah Brianna. Sedangkan gadis itu hanya menunduk tak berani menatap Marvin.
"Apa yang kau katakan hah?" Tanyanya dingin.
"Aku sadar selama ini hubungan kita terlalu jauh, dari awal aku hanya maidmu di sini. Kau adalah majikanku, seharusnya..."
"Aku tidak peduli!" Marvin tahu kemana arah bicara Brianna.
"Hikss tapi aku tidak bisa" Brianna tidak bisa menutupi kesedihannya. "Mamamu tidak menyukaiku, apa yang bisa aku harapkan?"
"Lantas? Kau mau menyerah begitu saja hah?"
Brianna terdiam menahan sesak di dadanya. Ini pertama kalinya ia menjalin sebuah hubungan, tapi kenapa serumit ini? Terkadang Brianna tidak bisa memahaminya, ia bingung harus seperti apa. Ia tidak tahu keputusan yang ia ambil ini tepat atau tidak. Brianna masih terlalu awam dengan hubungan seperti ini.
Marvin menarik Brianna ke dalam pelukannya. Sungguh ia tidak suka melihat gadisnya menangis. Hatinya ikut sesak melihatnya.
"Apakah mamaku yang memintanya?"
Brianna seketika menggeleng tidak membenarkan. Sekarang ini Livy memang belum memintanya untuk berpisah dengan Marvin. Tapi ia merasa cepat atau lambat Livy akan melakukannya mengingat bagaimana reaksi wanita itu tadi.
"Mamamu?" Tebak Marvin tepat sasaran. Kali ini Brianna tidak langsung menjawab. Mamanya memang tidak terang-terangan memintanya untuk putus dengan Marvin, tapi nasihat mamanya lah yang membuat dirinya sadar. Ia tidak pantas bersanding dengan Marvin.
Melihat reaksi Brianna seperti itu Marvin sudah bisa mengambil kesimpulan jika Yasmine lah penyebabnya.
"Baiklah jika kau ingin kita berpisah, dalam mimpimu saja. Karena aku tidak mau melakukannya"
Marvin melepas pelukannya menatap Brianna intens. Ia berdiri dari duduknya lalu meraih tangan Brianna "Dimana mamamu sekarang?"
"Kenapa mencari mamaku? Ini bukan karena mama, tapi kemauanku sendiri"
"Benarkah? Tapi matamu tidak bisa berbohong sayang" Marvin tersenyum miring, ia yakin isi hati gadis itu berbanding terbalik dengan ucapannya tadi.
"Baiklah kita cari mamamu sekarang" Marvin menarik tangan mungil itu untuk mencari Yasmine. Ia akan mengatakan keseriusannya terhadap Brianna, agar wanita itu yakin bahwa Brianna pantas bersanding dengannya.
Brianna hanya bisa pasrah ketika Marvin menariknya berjalan mengelilingi rumah besar Marvin. Kini mereka berjalan menuju paviliun, Marvin yakin Yasmine berada disana sekarang.
Begitu sampai di halaman paviliun dari kejauhan Marvin maupun Brianna bisa mendengar suara gelak tawa. Marvin memicingkan matanya saat melihat seluet seseorang yang ia yakini pemilik suara tawa tadi. Marvin menghentikan langkahnya sejenak membuat Brianna ikut berhenti.
Dihadapannya Marvin bisa melihat dua wanita paruh baya tengah asik mengobrol. Keduanya terlihat begitu akrab sehingga mereka tidak menyadari keberadaan Marvin dan Brianna.
"Mama" keduanya kompak bersuara.
Livy dan Yasmine, ya mereka lah pemilik suara tawa tersebut. Kedua wanita itu sama-sama terkejut melihat Marvin dan Brianna. Sejak kapan mereka disana?
*
Flashback
Yasmine telah duduk di hadapan Livy Xavier, wanita itu terlihat sangat gugup begitu menghadap nyonya besarnya itu. Ini untuk pertama kalinya mereka bertemu secara langsung. Yasmine bertanya-tanya ada gerangan apa Livy memanggilnya?
Apa ini ada hubungannya dengan Brianna?
"Ekhmm.. maaf mengganggu pekerjaanmu" ucap Livy mulai berbicara. Nada suaranya tampak tenang namun terdengar berwibawa.
"Tidak apa-apa Nyonya" jawab Yasmine dengan senyuman tipis di bibirnya dengan kepala tertunduk.
"Rileks saja tidak usah tegang seperti itu, aku tidak akan menggigit" kekeh Livy pelan, wanita itu ingin mencairkan suasana yang terasa canggung. Ketahuilah Livy tidak sedingin Marvin Xavier, putranya.
"Ada apa nyonya memanggil saya?" Tanya Yasmine penasaran.
Livy memperhatikan Yasmine dengan seksama, ia benar-benar merasa tidak asing dengan wanita di hadapannya ini. Ia menjadi penasaran dengan sosok Yasmine dan juga Brianna pastinya.
"Apa benar kau ibu dari Brianna Carissa?"
"Be.. benar Nyonya" jawab Yasmine gugup. Sudah ia duga wanita itu pasti akan membicarakan putrinya.
"Emm tadi aku sudah bertemu dengan putrimu, putraku yang mengenalkannya langsung padaku. Apa kau sudah tahu mereka menjalin hubungan? Aku dengar putrimu juga bekerja sebagai madi pribadi putraku?"
Yasmine menelan ludahnya susah payah. Apa yang harus ia katakan sekarang? Inilah yang ia khawatirkan.
"Putriku pada awalnya memang bekerja sebagai maid disini. Jujur saja Nyonya saya baru tahu jika putriku menjalin hubungan dengan Tuan muda. Maaf jika itu membuat Nyonya tidak nyaman, saya tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Maafkan saya". Sesal Yasmine.
"Jadi Brianna & Marvin menyembunyikan hubungan mereka darimu?"
"Benar Nyonya, maaf jika putriku lancang menjalin hubungan dengan Tuan muda" Yasmine bisa mendengar helaan nafas Livy, namun detik berikutnya wanita itu tersenyum.
"Tidak perlu meminta maaf, hubungan mereka tidak menjadi masalah bagiku"
"A.. Apa??"