
Marvin terbangun saat hari masih gelap, wajar saja karena ini masih tengah malam. Tenggorokannya terasa kering dan haus, itu sebabnya ia terbangun. Ia melirik ke arah meja nakas dimana selalu ada air minum yang selalu Brianna siapkan setiap kali mereka akan tidur.
Namun kali ini meja itu terlihat kosong. Apa Brianna lupa menyiapkannya?
Marvin menoleh ke arah sisi ranjang, tidak ada istrinya yang berbaring di sana. Kemana Brianna?
Akhirnya Marvin memutuskan untuk bangun. Ia mencari Brianna ke kamar mandi dan setiap ruangan yang ada di kamar mereka. Namun hasilnya nihil, Brianna tidak ada.
"Sayang kau dimana?"
Marvin keluar dari kamarnya, mungkin saja Brianna ada di kamar Maxime. Kini putranya sudah memiliki kamarnya sendiri. Namun lagi-lagi Marvin tidak menemukan istrinya, hanya ada Maxime yang tidur lelap sambil memeluk sebuah boneka penguin.
"Ahh mungkin dia di dapur"
Suasana rumah terlihat gelap dan sepi. Marvin menyalakan lampu di sana, cukup heran juga karena Brianna biasanya akan memintanya untuk menemani wanita itu jika kondisi gelap seperti ini.
Dan kecemasan mulai melanda Marvin, rasa kantuknya meluap begitu saja manakala Brianna tidak berhasil ia temukan.
"Sayang!!!"
Marvin kembali berteriak, ia berlari membuka pintu utama lalu menuju kandang Murphy. Mungkin saja istrinya sedang ada di sana, seperti saat mengidam dulu.
Lagi-lagi Brianna tidak ada.
"Astaga Brianna Xavier jangan membuatku panik" Marvin mengacak rambutnya kesal sekaligus cemas.
Akhirnya ia memutuskan untuk mencarinya ke seluruh penjuru rumah megahnya. Ia melupakan rasa hausnya karena istrinya yang terpenting sekarang.
Suasana rumah terlihat begitu sepi, tentu saja karena ini sudah tengah malam. Semua pelayan di rumahnya telah kembali ke paviliun, ibu mertuanya pun pasti sudah tidur.
Kini ia berjalan menuju ruang home teater. Itu adalah ruangan terakhir yang belum Marvin masuki. Entah kenapa ia merasakan istrinya berada di sana. Dengan langkah mantap Marvin membuka pintu ruangan tersebut secara perlahan.
Gelap
Itulah yang Marvin lihat. Tidak mungkin juga Brianna berada di tempat gelap seperti ini, pergi ke dapur malam-malam saja wanita itu pasti meminta Marvin untuk mengantarnya. Oh istrinya begitu penakut.
Marvin berjalan beberapa langkah untuk masuk lebih dalam, tak lama kemudian tiba-tiba saja lampu menyala dilengkapi suara ledakan balon.
"HAPPY BIRTHDAY KAK MARVIN!''
Marvin terkejut bukan main saat melihat isi ruangan tersebut. Isi ruangan home teater nya kini sudah dihias dengan sedemikian rupa dengan pernak-pernik ulang tahun.
Hari ini Marvin tengah berulang tahun di usianya yang sudah memasuki 34 tahun. Marvin tidak bisa menahan senyum haru nya melihat kejutan dari sang istri.
Brianna selalu mengingat hari ulang tahunnya, padahal ia sendiri hampir melupakannya.
Di sana tidak hanya Brianna, tetapi ada juga Yasmine, kepala pelayang Emily dan juga beberapa pelayan. Mereka semua turut merayakan hari ulang tahunnya.
"Ayo tiup lilinnya" Brianna membawa sebuah cake berukuran sedang di tangannya. Wanitanya tak bosan-bosan menebar senyum padanya, membuat Marvin tak kuasa untuk tidak mencium sang istri.
Cup
Dikecupnya kening Brianna penuh sayang.
"Terima kasih istriku" Marvin tersenyum bahagia.
"Terima kasih sudah selalu mengingatnya"
"Tentu saja Kak, mana mungkin aku lupa dengan hari spesial suamiku"
"Selamat ulang tahun Marvin"
Kini giliran ibu mertuanya yang memberi selamat, kemudian di susul kepala pelayan Emily dan pelayan lainnya.
"Kak sebelum tiup lilin, buat harapan terlebih dahulu"
Marvin mengangguk lalu memejamkan matanya. Brianna memperhatikan suaminya dengan seksama. sepertinya ia penasaran, kira-kira harapan apa yang suaminya panjatkan?
Marvin membuka matanya dengan cepat lalu meniup lilin nya. Riuh tepuk tangan para pelayan langsung menggema memenuhi ruangan tersebut.
"Apa yang Kau harapkan?" Tanya Brianna penasaran.
"Rahasia" kekeh Marvin membuat Brianna mendengus.
Marvin memperhatikan penampilan Brianna, pria itu baru sadar jika istrinya kini memakai seragam maid.
"Kenapa kau memakai seragam ini lagi?"
"Ah ini, emm hanya ingin saja aku rindu memakai seragam ini. Ternyata masih muat, walaupun sedikit sesak hehe"
"Kenapa harus dipakai jika itu membuatmu tidak nyaman?"
"Ku bilang hanya sedikit Kakak, lagipula seragam ini mengingatkan aku akan pertemuan pertama kita" Brianna tersenyum malu, tiba-tiba pipinya merona. Ia ingat sekali saat ia jatuh dari pohon dan menimpa tubuh Marvin, hingga prianya kesakitan. Hari itu adalah hari pertama ia bekerja di rumah Marvin.
"Ekhmm sepertinya kalian butuh waktu untuk berdua" ucap Yasmine tiba-tiba. "Ayo sebaiknya kita kembali beristirahat"
"Mama, terimakasih untuk semuanya" ucap Marvin, lalu memeluk Yasmine.
"Jangan berterimakasih padaku, istrimu yang paling bekerja keras untuk menyiapkan semua ini".
Marvin mengangguk "Putrimu memang luar biasa, terima kasih sudah mengizinkan aku untuk menikahinya"
"Mama bisa membunuhku jika aku melakukannya" Yasmine tertawa mendengarnya. "Baiklah lanjutkan saja acara ini berdua, sepertinya ini waktu yang tepat untuk bernostalgia"
Yasmine dan para pelayan lain akhirnya meninggalkan pasangan suami istri tersebut. Setelah semuanya pergi, Marvin langsung memeluk istrinya dengan erat.
"Kau benar-benar membuatku panik. Aku mencari mu kemana-mana"
Brianna membalas pelukan suaminya
"Maaf membuatmu panik, tapi kejutan ini berhasil kan Kak?"
"Ya, berhasil membuatku gila" Marvin melepas pelukannya lalu mencubit hidung istrinya gemas. Bukannya kesakitan, Brianna justru tertawa dengan ekspresi yang makin menggemaskan di mata Marvin.
Melihat Brianna saat ini, Marvin seperti melihat gadis kecilnya kembali. Memory lama dimana ia pertemukan dengan Brianna untuk pertama kalinya, kini berputar kembali bak roll film.
Gadis kecil yang dulu menolongnya, lalu menghilang dengan cukup lama, hingga pada akhirnya Tuhan mempertemukan mereka kembali dengan cara yang begitu indah sekaligus tidak biasa.
"Ah kadonya, hampir saja lupa" Brianna beranjak dari sofa lalu mengambil sebuah kotak merah berpita putih.
"Kado untuk suamiku"
Marvin menerimanya dengan senang hati "Boleh aku membukanya sekarang?"
"Tentu saja"
Marvin membukanya dengan perlahan. Kado tersebut berisi sebuah syal yang dirajut oleh tangan Brianna sendiri.
"Emm sebenarnya aku bingung harus memberi kado apa. Jika membeli barang mewah sepertinya Kakak sudah memiliki semuanya. Jadi aku memutuskan untuk membuat syal ini saja, aku harus memastikan suamiku tetap hangat di musim dingin saat ini". Brianna tersenyum dengan tulus membuat hati Marvin terenyuh mendengarnya. Walaupun hadiah tersebut sangat sederhana, tetapi sanngat berharga di mata Marvin.
Brianna pun memasangkan syal tersebut di leher Marvin. Namun tak lama Marvin mengambil alih syalnya, ia melingkarkan syal tersebut di leher Brianna terlebih dahulu lalu sisanya ia lingkarkan di lehernya. Sekarang mereka merasakan kehangatan syal tersebut bersama-sama.
"Aku tidak bisa menerima kehangatan ini seorang diri, istriku juga harus merasakannya". Brianna tersenyum mendengarnya, lalu memeluk Marvin.
Marvin jadi teringat kejadian masa lalu saat pertama kali mereka bertemu. Brianna menyelamatkan nyawanya, dan Brianna kecil memberikan syalnya untuk menghangatkan tubuh Marvin. Hal itulah yang membuat Marvin jatuh cinta pada Brianna, ketulusan hati gadis itu berhasil menggetarkan hati Marvin yang telah lama mati. Dan sensasi itu masih Marvin rasakan hingga sekarang.
"Kakak suka?"
"Terimakasih aku sangat-sangat menyukainya. Kapan kau membuatnya?"
"Disaat Kakak pergi bekerja dan Maxime pergi tidur"
"Itu pasti melelahkan, kenapa tidak dimanfaatkan untuk istirahat?"
"Tidak apa-apa, aku senang melakukannya".
"Ahh istriku memang luar biasa"
Marvin mengecup kening Brianna, lalu turun ke hidung, kemudian ke pipi dan terakhir mendarat di bibir cherry Brianna. Marvin mengecupnya beberapa kali hingga akhirnya mulai **********. Sebuah ciuman penuh rasa bangga dan penuh damba.
Brianna membalasnya dengan senang hati, tangannya mulai melingkar di leher Marvin membuat ciuman mereka semakin intens.
Mereka mencurahkan seluruh perasaan mereka melalui ciuman tersebut. Semakin lama ciuman Marvin semakin menuntut. Entah sejak kapan posisi mereka telah berubah, Marvin sudah menindih tubuh Brianna yang kini berbaring di atas sofa. Lenguhan pertama berhasil keluar, keduanya telah dipenuhi api gairah.
Brianna melepas ciumannya untuk mengambil oksigen sejenak. Nafas mereka saling beradu dengan kening saling bersentuhan. Marvin memejamkan matanya mengumpulkan sisa kewarasannya. Selalu saja seperti ini, ia akan lepas kendali jika sudah menyentuh istrinya.
"Aku menginginkanmu" bisik Marvin parau dengan suara serak yang terdengar sexy di telinga Brianna. Jantung Brianna berdebar kencang, seolah-olah ini kali pertama bagi Brianna.
Tangan Marvin terangkat menyentuh pipi Brianna dengan lembut penuh hati-hati, seperti menyentuh porselen yang mudah hancur. Brianna memejamkan matanya merasakan sentuhan lembut telapak tangan Marvin. Tak bisa dipungkiri ia pun menginginkan sentuhan Marvin.
"Boleh aku memintanya di sini?"
"A..apa?" Mata Brianna terbuka dengan raut sedikit terkejut. Mata keduanya saling bertemu. Marvin kembali mencium istrinya dengan hisapan-hisapan kecil di bibir mungil Brianna. Namun tak berlangsung lama Marvin melepaskannya kembali.
"Kita belum pernah mencobanya di ruangan ini bukan?"
Blushhh
Wajah Brianna yang sudah memerah semakin memerah mendengar ucapan Marvin. Dengan senyuman malu-malu, wanita itu menganggukkan kepalanya lalu melingkarkan tangan dan kakinya di tubuh Marvin. Memberi sinyal jika gadis itu siap memberikan apa yang Marvin inginkan.
"Terimakasih aku mencintaimu, istriku"
"Aku juga sangat mencintai Kakak"
"Kita harus memberikan Maxime hadiah secepatnya"
"Huh hadiah apa?"
"Hmm adik perempuan kurasa itu cocok"
"Tuhan terima kasih atas takdir yang telah kau garis kan untukku. Aku sangat mencintainya. Harapanku hanya satu, aku ingin hidup bahagia bersama istri dan anak-anakku sampai maut yang memisahkan".
~ Marvin ~
...END...
...****************...
Akhirnya tamat juga, makasih buat yang udah support dengan kasih like, komen & vote 🙏