
Selama menunggu jalannya operasi, ponsel Marvin terus berdering di dalam saku celananya. Tetapi Marvin sama sekali tidak berminat untuk mengangkatnya. Pria itu hanya fokus menatap pintu ruang operasi tempat istri dan anaknya berada.
"Marvin, angkat dulu teleponnya siapa tau itu penting"
"Tidak ada yang lebih penting daripada keselamatan istri dan anakku, Ma" Marvin berujar datar, masih mengabaikan ponselnya.
Marvin tahu yang menelponnya adalah salah satu anak buahnya yang sedang mengurus perusahaannya. Ia tidak ingin emosinya kembali meluap karena sudah pasti orang tersebut akan membahas masalah di perusahaannya.
"Bos, biar aku yang mengangkatnya" James berjalan mendekati Marvin lalu meminta ponselnya. Setidaknya ia harus bisa membantu meringankan beban Marvin saat ini.
Kali ini Marvin memberikan ponselnya dan membiarkan James mengangkatnya. James berjalan sedikit menjauh dari Marvin dan Yasmine.
James sudah tahu masalah yang menimpa perusahaan Marvin di Jepang dan ia sudah memikirkan banyak cara untuk memperbaikinya.
Setelah urusan dengan si penelpon selesai, James kembali memberikan ponselnya pada Marvin.
"Kau tenang saja, masalah di Jepang biar aku yang urus. Sekarang fokus saja dengan bayimu dan Brianna. Jangan pikirkan yang lain, Oke?"
James menepuk bahu Marvin memberi semangat, membuat ekspresi Marvin sedikit melunak.
"Terima kasih James, kau memang paling bisa diandalkan". Marvin tersenyum tipis pada James.
"Besok pagi aku akan berangkat ke Jepang, aku pastikan semuanya akan baik-baik saja"
"Hmm aku percaya padamu"
"Kalau begitu aku pergi. Jika terjadi sesuatu hubungi aku"
"Ya, terima kasih James. Hati-hati"
Sekarang beban Marvin sedikit terangkat setelah James ingin membantunya mengurus anak perusahaannya yang bermasalah. Sekarang ia harus fokus dengan Brianna dan juga anaknya. Bagaimana pun juga ini semua salahnya. Ia harus memastikan bahwa dua orang yang dicintainya baik-baik saja, Marvin tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada mereka.
Marvin belum bisa tenang selama pintu ruang operasi tersebut masih tertutup. Ia berharap dokter segera keluar dan menyampaikan kabar baik untuknya.
****
"A..apa Jepang?"
Mia terlihat terkejut saat sang kekasih tiba-tiba mendatanginya di paviliun. Sepulang dari rumah sakit, James langsung menemui Mia dan memberitahunya jika ia akan pergi ke Jepang dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.
Raut kesedihan pun tak luput dari wajah cantik Mia, gadis itu terlihat tidak rela James akan meninggalkannya. Apalagi pria itu tidak tahu kapan akan kembali.
"Kenapa mendadak sekali" mata Mia berubah berkaca-kaca.
"Keadaan saat ini sedang genting, Marvin kakak mengalami masalah di perusahaannya sedangkan ia harus menjaga Brianna dan anaknya. Kau tadi lihat sendiri kan bagaimana kondisi Brianna? Dia mengalami pendarahan hebat, dan sekarang ia harus menjalani operasi. Jadi ini adalah saatnya aku membantu meringankan beban Marvin. Aku harap kau bisa mengerti maksudku".
"Aku janji akan sering menghubungimu" James menatap Mia rasa bersalah, ia pun berat harus meninggalkan Mia. Ingin rasanya ia mengajak sang kekasih. Namun itu semua tidak mungkin, Emily pasti melarangnya.
"Baiklah kakak aku mengerti" Mia memaksakan senyumnya. Ia pun ikut khawatir dengan kondisi Brianna saat ini. Mendengar alasan James pergi, membuatnya merasakan simpati pada Marvin. Ia pun tidak bisa berbuat apapun untuk menolong majikannya tersebut, yang bisa ia berikan hanyalah untaian do'a.
"Mia.." James mengelus pipi gadisnya, lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Saat itu juga air mata Mia tumpah. Selama mereka berpacaran ini kali pertama James pergi meninggalkan nya keluar negeri. Apa boleh buat? Ia tidak ada hak untuk melarang James pergi, dirinya masih berstatus kekasih pria itu bukanlah istri.
"Maafkan aku"
James mengecupi pucuk kepala gadisnya beberapa kali. Dihirupnya aroma tubuh Mia yang pasti akan sangat ia rindukan.
"Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat, setelah itu aku akan segera pulang"
Tanpa berpikir panjang Mia langsung merespon dengan anggukan cepat. "Aku pasti akan sangat merindukanmu".
"Kau pikir aku tidak? Aku yang lebih tersiksa karena tidak bisa melihat wajahmu, merasakan kopi buatan mu, dan juga ini... " James tiba-tiba mencium bibirnya, membuat Mia terkejut sekaligus malu.
"Kakak!" Mia memukul dada James kesal, ia takut ada pelayan lain yang melihat.
"Kenapa? Itu adalah ciuman terakhirku malam ini, karena di Jepang nanti aku tidak bisa melakukannya"
"Jangan katakan ciuman terakhir, bagaimana jika itu benar terjadi? Kakak tidak kembali pulang dan menemukan gadis yang lebih cantik di sana"
Mia mencebik kesal, membuat James tertawa gemas.
"Itu tidak akan pernah terjadi, bunuh saja aku jika berani melakukan itu"
"Lihat saja nanti" ketus Mia.
"Hey jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku tidak bisa tenang pergi ke sana jika kau berpikiran buruk seperti itu" James mengelus kepala Mia penuh sayang.
"Aku ke sana untuk bekerja, bukan liburan mencari wanita cantik. Hanya kau satu-satunya wanita yang ingin aku miliki seumur hidup"
Kata-kata romantis James selalu berhasil membuat hati Mia luluh. Padahal dulu saat mereka belum saling mengenal, James terlihat seperti pria yang kaku dan juga membosankan. Namun siapa sangka, James selalu menunjukkan sisi romantisnya pada Mia. Ia selalu memperlakukan gadisnya dengan istimewa.
Sepertinya James belajar banyak dari Marvin.
James kembali mengikis jarak dengan Mia, memberikan ciuman manis yang kali ini langsung di balas oleh Mia. Tangannya melingkar apik di pinggang ramping kekasihnya tersebut, membuat ciuman mereka semakin intens.
James tidak peduli jika ada pelayan lain yang melihat, lagipula semua penghuni rumah di sana sudah tahu dengan hubungan spesial mereka. Jadi tidak perlu lagi di tutup-tutupi.
Keduanya saling melempar senyum begitu ciuman tersebut terlepas. Mia kembali memeluk James, menikmati sisa kebersamaan mereka sebelum James benar-benar pergi.
"Besok, boleh aku ikut mengantarmu ke bandara?"
"Tentu, aku akan sangat senang. Huh apa sebaiknya aku membawamu ke sana?"
"Ckkk itu tidak mungkin, kau tau sendiri kan kakak bagaimana Nyonya Emily. Aku masih terikat kontrak kerja di rumah ini"
"Setelah kita menikah nanti aku pastikan akan membawamu keluar dari rumah ini"
"Apa??"
"Aku akan menjadikanmu Nyonya di rumah kita nanti" James mengulum senyumnya menatap gadisnya, jantung Mia tiba-tiba berdebar membayangkan hal tersebut.
"Astaga menikah? menjadi Nyonya?"
Cupp
James tiba-tiba mengecup keningnya, membuat Mia tersadar. James lagi-lagi terkekeh melihat ekspresi bingung Mia saat ini.
"Sudah malam, waktunya istirahat. Sepertinya Emily sebentar lagi datang menegurku" canda James, Mia tertawa mendengarnya. Dan benar dugaan James, Emily muncul dari arah gerbang penghubung rumah utama. Layaknya seorang security yang sedang melakukan patroli.
"Aku pergi, good night" James mencuri kecupan singkat di bibir Mia, lalu berlari keluar sebelum Emily benar-benar mengusirnya. Wajar saja jika wanita tua itu mengusirnya karena ini sudah pukul 11 malam.
Mia tak kuasa menahan senyumnya melihat kelakuan konyol sang kekasih. Kemudian ia pun berlari memasuki kamarnya.