Kaynara

Kaynara
Terharu



Dua hari berlalu, Kaynara memutuskan untuk pulang kerumah. Walau tubuhnya sudah membaik, namun hatinya masih hancur. Dokter melarang Kaynara untuk pulang kerumah.


"Kaynara, jangan membantah. Dokter menginginkan yang terbaik untukmu!" Semenjak anak Kaynara meninggal, Ryan dan Kaynara semakin dekat. Namun Kaynara masih menutup hatinya rapat-rapat.


"Aku harus pulang! Aku tak sanggup jika harus menerus disini."


Kaynara menangis, dia pun merasa tidak punya tujuan hidup lagi.


"Aku sudah tidak mempunyai tujuan lagi untuk hidup karena hidup ku sudah pergi."


Ryan yang mendengar ucapan Kaynara pun merasa sedih.


"Kay. Jangan mengatakan itu! Ada aku di sini."


Kaynara menatap Ryan, ia mengingat Rangga juga dulu seperti itu. Di saat dirinya terjatuh, walau tidak kenal. Rangga mau menikah dengan Kaynara.


Dan sekarang Ryan. Kaynara belum terlalu mengenal Ryan.


Kaynara menyuruh Ryan untuk pergi menjauh


"Pergi!"


Ryan kaget dengan perubahan sikap Kaynara.


"Pergi! Semua lelaki sama saja! Aku tidak butuh rasa kasihanmu!"


"Kay, aku tidak pernah merasa kasihan kepadamu. Aku benar menyayangimu!"


Kaynara tidak percaya, ia mengatakan jika Ryan sama seperti mantan suaminya


"Semua lelaki itu sama saja! Kau tau? Dulu Rangga juga seperti itu! Bagai pahwalan. Namun nyatanya apa? Dia menghancurkan hatiku!" Air mata Kaynara terus berlinang.


Dadanya sangat sesak, kaynara mengatakan jika dirinya sudah tidak percaya lagi dengan omongan dan janji palsu para lelaki


Jo pun meminta Ryan untuk tenang, menuruti permintaan kaynara untuk sementara.


"Lepasin!" Pinta Ryan kepada Jo, Jo melepas kan bosnya itu.


Kaynara!


Terdengar suara pintu terbuka, langkah kaki seorang wanita yang mendekat ke arah Kaynara.


Ryan dan Jo sangat kaget dengan wanita yang memeluk kaynara, wanita itu adalah Clara.


"Jangan membuat Nona Kaynara semakin membenci anda, Tuan! Kendalikan diri anda!" Jo berbisik kepada Ryan.


Ia pun berusaha menahan emosinya walau sangat sulit sekali.


"Kay, aku turut berduka atas kepergian anak kamu" Clara menangis. Kaynara hanya terdiam, pandangannya kosong.


Rasa sakitnya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bahkan air mata pun sudah tak sanggup lagi


"Maafkan aku, seharunya aku tidak meninggalkan mu sendirian disini."


Clara menyesal dan merasa sangat bersalah namun kaynara mengatakan jika itu bukan kesalahan dari Clara


Clara masih tidak sadar dengan kehadiran Ryan dan Jo.


"Clara, ini bukanlah kesalahanmu. Aku tahu itu, jangan menyalahkan dirimu!"


Luka yang paling menyakitkan di saat hati terluka namun tidak bisa untuk mengungkapkannya


Ingin rasanya Ryan menghabisi nyawa Clara namun emosinya bisa terkendali saat bersama Kaynara.


Dokter masuk dan memberitahu Ryan jika Clara adalah Psikiater terbaik yang akan bisa menyembuhkan luka batin Kaynara.


Mendengar suara Ryan, Clara membalikkan tubuhnya. Ia begitu kaget melihat Ryan dan Jo yang ada di ruangan kaynara.


Clara gemetar sekaligus senang karena bertemu dengan kakaknya.


Ryan menatapnya dengan penuh kebencian. Clara menunduk takut, kaynara melihat Clara dan Ryan secara bergantian


Apakah mereka memiliki hubungan?


Namun kaynara tidak mau memikirkan hal lain.


"Hai, apa kabar?"


Walau tahu kakaknya tidak akan menjawab, namun Clara tetap bertanya tentang keadaan kakaknya


"Baik." Jawab Ryan singkat, Clara kaget bukan main. Untuk pertama kalinya Ryan menjawab tanpa adanya hinaan.


Clara tersenyum, menangis terharu. Ini momen yang langkah untuk dirinya.