Kaynara

Kaynara
Bahagia



"Aku mengerti perjalanan hidup yang kini kau lalui. Ku berharap meski berat, kau tak merasa sendiri. Kau sudah berjuang sejauh ini. menaklukkan hari-harimu yang tak mudah. Izin kan aku menemanimu, membasuh lelahmu. Izin kan aku mendengar segala cerita mu. Tangis dan tawamu, menemani mu pada saat titik terpuruk mu, menghapus luka mu secara perlahan. Hingga kau merasa bahagia. Aku di sini, walau kau merasa lelah aku berharap kau terus mencoba lagi untuk menjadi kuat. Meski berat, aku berharap kau tak merasa sendiri. Ada aku di sini. Izin kan aku menemani dan menjaga mu dan anak ini hingga kita menua." Rangga menetes kan air mata, dia mencium tangan Kaynara. Kaynara pun merasa terharu dan menetes kan air mata. Ternyata, masih ada yang melamar diri nya dengan rasa hormat dan cinta.


"Iya-iya, aku ingin menua bersama mu. Dan kau menemani di saat suka atau pun duka ku. Aku juga ingin berada di samping mu di saat kau suka atau pun duka. Ak-aku menerima lamaran mu." mendengar jawaban Kaynara, Rangga pun memeluk Kaynara dengan spontan, dia merasa sangat terharu.


Rangga pun memakai kan cincin yang tadi dia bawa ke jemari manis Kaynara.


"Beberapa hari lagi aku akan datang ke rumah keluarga angkat mu dan melamar mu."


"Pernikahan kita akan di langsung kan seminggu lagi. Apa kau setuju?" Kaynara pun mengangguk setuju. Rangga tersenyum melihat Kaynara yang setuju tanpa ada penolakan.


"Aku akan pergi dan segera menyiapkan segala pernikahan kita." ucap Rangga. Kaynara pun mengiya kan. Rangga segera menghapus air mata Kaynara juga diri nya lalu bergegas keluar dari ruangan itu.


Kaynara yang senyum-senyum sendiri, bagaimana ia tak merasa bahagia baru saja Rangga datang dan memberi kan nya sebuah cincin dan bunga yang terdapat surat berisi WILL YOU MARRY ME?


Iya, benar. Rangga melamar nya dan sudah membicara kan tanggal pernikahan yang akan segera di langsung kan. Besok Kaynara akan kembali ke rumah Syafa. Orang tua angkat nya, ia akan memberitahu kabar baik ini besok pada semua orang. Kaynara turun dari ranjang dan menuju cermin yang tidak terlalu besar yang lengket di ruangan itu. Ia memandangi wajah nya yang tersenyum tersipu, sangat jelas di mata nya menyinar kan kebahagiaan. Ia memegang jantung nya yang berdetak kencang.


"Mengapa ini? apa aku menyukai nya?" ucap Kaynara yang sedang berdiri memandangi diri nya di depan cermin. Semua yang melihat diri nya pun sangat tahu tau bahwa wanita ini sedang bahagia.


"Apa kau sebegitu senang nya hingga tak melihat ku datang? ayo beritahu aku apa yang membuat mu sangat bahagia." tanya Aini


"Hust, diam lah! aku hanya sedang bercermin saja. Tidak lebih!" jawab Kaynara dengan menyembunyikan wajah tersipu nya.


"Hey, jangan membohongi ku ya! aku tahu kau sangat bahagia. Wah apa ini, bunga?" Aini melihat bunga yang begitu indah dan membaca surat yang berisi Will you marry me.


"Pria itu melamar mu? aku ikut senang Kay. Selamat." heboh Aini yang langsung memeluk sahabat baru nya itu.


"Ayo kata kan bagaimana orang nya? apakah ia tampan seperti artis korea? atau pemain india? ayo kata kan bagaimana wajah nya."


"Kau ini terlalu banyak bicara! Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan mu yang begitu banyak? sudah lah nanti kau akan tahu sendiri bagaimana wajah nya." kedua nya melepas kan peluk kan mereka.


"Ayo lah beritahu aku bagaimana wajah nya?"


"Nanti dia akan datang, kau tunggu saja dan lihat bagaimana paras nya." jawab Kaynara yang kembali tersenyum mengingat Rangga. Aini memonyong kan mulut nya dan bergerutu tidak jelas.


"Kau ini tidak asyik sekali. Bagaimana aku bisa melihat wajah nya. Ia datang selalu malam sedang kan sore aku sudah harus kembali ke rumah. Dan menjaga ibu ku yang sedang sakit. Aku tidak bisa membuang waktu ku hanya menunggu kekasih mu itu."


"Kalau begitu lihat saja nanti saat pesta pernikahan kami. Kau harus datang Ai. Semenjak aku di rawat di sini kita menjadi dekat. Walau begitu singkat rasa nya aku menemukan teman ku. Aku sedari kecil tidak mempunyai teman bercerita."


"Kau baik sekali." ucap Kaynara pada Aini. Ia melepas kan pelukkan mereka berdua. Kaynara menceritakan perasaan nya saat ini pada Aini. Kaynara sekarang lebih terbuka dan mau berbagi perasaan nya tidak seperti dahulu yang hanya memendam apa yang selalu ia rasa kan dan ia pikir kan.


"Apa kau tahu, dulu aku merasa menjadi manusia yang paling menyedih kan. Iya, se menyedih kan itu kehidupan ku. Tetapi, sekarang aku merasa seperti manusia paling beruntung. Aku di kelilingi oleh orang-orang yang baik dan tulus. Ibu dan Ayah yang menyayangi ku seperti anak mereka sendiri. Kakak Caca dan suami nya. Kakak Shinta, suami dan anak-anak nya, ada pria yang sangat baik dan aku mempunyai teman seperti mu." Aini begitu sangat ber antusias mendengar kan Kaynara. Selain menjadi seorang teman, ia juga bekerja membantu psikolog untuk menyembuh kan luka batin Kaynara. Jadi, tugas nya mendengar kan cerita para Klien mereka dengan baik.


"Aku mempunyai keponakan yang sangat baik dan menggemas kan. Ada Syifa dan si kembar Alan dan Alana."


"Benar kah? kau memiliki keponakan yang kembar? pasti sangat menyenang kan bukan?"


"Iya, begitu sangat menyenang kan. Bermain pada mereka. Rasa nya aku begitu sangat tidak sabar untuk pulang ke rumah. Aku sangat merindu kan mereka semua."


"Itu pasti sangat menyenang kan bukan. Kau akan pulang dan berkumpul pada keluarga mu. Dan." ucapan Aini terhenti. Raut wajah nya tiba-tiba terlihat murung. Kaynara memegang pipi Aini


"Aku pasti akan merindu kan mu. Tetapi tenang saja, jika kau ada waktu kita akan bermain ya. Berkeliling kota, kau teman ku. Aku tidak akan melupakan mu percaya lah pada ku." ucap Kaynara. Aini pun mengangguk dan tersenyum.


"Ayo makan lah makanan mu, setelah itu istirahat lah Kay."


"Tidak! aku belum lapar."


"Ayo lah, Kay! jangan keras kepala seperti itu. Nanti, aku bisa di marahi jika dia datang dan melihat makanan mu belum kau makan."


"Tetapi aku masih kenyang, bagaimana jika kau saja yang makan?"


"Apa kau sudah tidak waras? tidak! aku tidak bisa memakan punya mu."


"Mengapa tidak?"


"Nanti aku bisa di marahi, Kay.".


"Siapa yang memarahi mu? tidak ada siapa pun di sini."


"Kay, coba lah untuk tidak keras kepala. Ayo makan! atau kau tidak bisa pulang besok."


"Sudah, kau saja yang makan. Tidak ada siapa pun, jadi mereka tidak akan tahu. Ayo lah, aku sangat tidak lapar ai." bujuk Kaynara. Aini menghela nafas dengan kasar.


.