Kaynara

Kaynara
Pertemuan dengan Aini



Rangga menjaga Kay dengan sepenuh hati. Mengingat penjelasan tentang kondisi Kay. Kay masih terlelap dalam tidur nya. Mungkin pengaruh dari obat penenang yang dokter berikan.


Rangga keluar dari kamar, ia bergegas pergi entah kemana. Tidak lama kemudian masuk seorang perawat wanita yang sangat cantik. Memiliki tubuh tinggi dan putih. Identik dengan rambut cokelat muda. Perawat itu bernama Aini. Aini memberikan suntikan pada infus Kaynara. Kay membuka mata nya perlahan, ia melihat perawat sedang menyuntik kan obat ke dalam infus nya.


"Kau sudah bangun?" tanya Aini yang tersenyum ramah.


"Aku berada di mana?"


"Kau berada di klinik Dr. Clara."


"Dr.Clara? siapa itu?" tanya Kay dengan nada yang masih lemah, tubuh nya juga masih melemah dan kepala yang terasa berat.


"Tidur saja, jangan terlalu banyak bergerak." pinta Aini. Kay pun mengingat kejadian saat ia kehilangan kendali.


"Astaga kak Caca." Kaynara ingin turun dari ranjang. Namun, tubuh nya yang masih lemah membuat nya terjatuh. Dengan sikap Aini membantu Kay untuk bangun.


"Sudah aku kata kan, sebaik nya kau istirahat saja dahulu."


"Aku harus pulang."


"Tidak bisa, kau harus di rawat."


"Aku harus pulang, tolong mengerti lah! Aku harus meminta maaf pada seseorang." ucap Kay yang memasang wajah memelas.


"Maaf kan aku ya, tetapi aku tidak bisa membantu mu. Keluarga mu juga sudah setuju untuk kau di rawat sampai benar-benar sembuh." ucap Aini yang merasa sangat bersalah. Kay pun hanya terdiam dan menangis.


"Sudah jangan menangis ya? ini semua demi kebaikan mu."


"Aku hanya ingin meminta maaf pada kakak ku. Aku sudah melukai nya."


"Aku mengerti perasaan mu." Aini mencoba memeluk Kaynara. Kay pun membalas pelukan itu dan menangis di peluk kan Aini. Ini pertama kali nya mereka bertemu, bahkan tidak mengenal dan mengetahui nama masing-masing. Mereka saling melepas kan pelukkan satu sama lain. Aini mencoba menenang kan Kaynara yang menangis, ia memberi kan segelas air minum untuk Kaynara.


"Minum lah, kau akan lebih tenang setelah itu." pinta Aini, Kaynara pun mengambil gelas yang di berikan Aini dan meminum nya.


"Terimakasih." kini Kaynara sudah lebih membaik.


"Sama-sama, perkenal kan aku Aini." Aini mengulur kan tangan nya pada Kay, Kay pun tersenyum dan mengulur kan kembali tangan nya pada Aini


"Aku Kaynara. Sedang bertemu dengan mu." Mendengar nama Kaynara membuat Aini mengingat seseorang. Namun, Aini merasa sangat pusing jika harus memaksa kan diri untuk mengingat.


"Aku juga senang bertemu dan bisa merawat mu."


semenjak saat itu Kaynara dan Aini menjadi dekat, setiap hari Aini membawa kan makanan masakan ibu nya untuk Kaynara. Kaynara menikmati masakan Ibu nya Aini.


"Ohiya Kay. Jika aku boleh tahu, di mana orang tua mu?" mendengar pertanyaan Aini membuat Kay bersedih. Iya mengingat kenangan bersama kedua orang tua nya.


Flashback.


Di saat Kaynara sedang sakit, seisi rumah bisa di heboh kan oleh kepanikan kedua orang tua dan juga kakek nenek nya. Kaynara anak tunggal, dia juga kesayangan semua orang. Jika terluka sedikit, seluruh pelayan akan di sibuk kan oleh keluarga Kaynara. Pernah suatu ketika, Kaynara demam tinggi dan memiliki sakit biduran. Kakek yang begitu menyayangi nya langsung memanggil dokter yang paling bagus dari luar negeri. Ia tak ingin cucu kesayangan nya kesakitan akibat gatal di tubuh yang luar biasa. Bahkan seisi rumah tidak bisa tidur hanya karena Kaynara terus rewel karena gatal.


"Sayang, kamu harus memakan ini ya. Mama lihat di google kalau ini sangat bagus untuk sakit biduran." Kaynara dan Ibu nya sedari kecil selalu berlimpah kekayaan. Sebab dari itu Ibu nya pun tak tahu cara nya memasak dan mengerjakan rumah. Menghandal kan begitu banyak pelayan. Bahkan di rumah nya ada 10 pelayan.


Flashback end.


"Kay?" Lamunan Kaynara pecah saat Aini memegang bahu nya.


"Aku bertanya, di mana keluarga mu?"


"Ke-keluarga kk-ku, kelua-keluarga kk-ku suddah tiada." ucap nya. Rasanya begitu sakit jika harus menceritakan hal itu lagi kepada orang lain. Namun, entah mengapa Kay menceritakan segala kejadian yang menimpa kehidupan nya pada Aini. Kaynara juga merasa sangat plong saat bercerita dengan Aini. Terkadang Kaynara menetes kan air mata nya. Namun, ia segera menghapus nya lagi dan tersenyum.


"Tetapi aku tidak apa, semua nya sudah membaik." ucap Kaynara.


"Kau pasti beruntung memiliki keluarga yang masih utuh." ucap Kaynara pada Aini.


"Tidak! Kau salah besar, Kay."


"Maksud mu? bukan kah Ibu mu begitu menyayangi diri mu? bahkan ia juga sangat baik setiap hari memberi kan ku makanan."


"Dia bukan Ibu kandung ku, Kay."


"Apa maksud mu?" tanya Kaynara bingung.


"Pada saat umur ku 15 tahun aku mengalami kecelakaan. Bahkan aku harus menjalani operasi wajah karena luka ku yang begitu parah. Aku tak mengingat apapun sampai sekarang, bahkan aku tak tahu siapa nama asli ku. Hingga akhir nya aku di pertemukan oleh Ibu ku ini. ia sangat menyayangi ku, dia juga memberi ku nama Aini. Dia menyekolah kan ku hingga aku menjadi perawat. Sampai sekarang aku juga masih tidak tahu bagaimana latar belakang ku. Siapa aku? di mana rumah ku?apakah aku memiliki seorang saudara atau siapa orang tua kandung ku. Rasa nya aku ingin sekali mengingat segala nya. Namun, semakin aku mengingat kepala ku terasa sangat sakit. Berbagai cara aku lakukan agar ingatan ku kembali, Namun. Aku tidak bisa." Aini menangis mencerita kan kehidupan nya pada Kaynara.


"Yang aku tahu kehidupan aku setelah menjadi Aini. Yang lain nya aku tidak ingat." Aini bersedih, Kay mendekati Aini dan memeluk nya.


"Aku yakin, kau akan mengingat segala nya." ucap Kaynara.


"Terimakasih."


"Sudah jangan bersedih ya, suatu saat nanti kau akan kembali berjumpa dengan keluarga mu." entah mengapa Kaynara merasa sangat dekat dengan Aini.


"Ketika aku mendengar nama mu, Kaynara. Aku seperti tidak asing dengan nama itu. Seolah nama itu sudah melekat dalam kehidupan ku." Aini pun bangkit dari tepi ranjang Kaynara.


"Mungkin karena aku bekerja di sini, dan nama nya Kaynara juga bukan seorang saja ya? haha." tawa nya yang ingin memecah kan keheningan. Kaynara melihat Aini yang mencoba tegar padahal diri nya hampa. Bagaimana tidak? seseorang yang tak mengenal diri nya sendiri.


"Aku berharap jika aku bisa lupa ingatan seperti mu Ai, agar aku tak selalu mengingat rasa sakit ku ini." batin Kaynara


Aini