Kaynara

Kaynara
Melupakan



Pesawat yang di naiki Kaynara dan Rangga sudah tiba di Bandara Internasional Charles De Gaulle, Kaynara memegang kursi roda dan membantu Rangga untuk berjalan menggunakan kursi roda. Keadaan Rangga yang masih lemah, tidak memungkin kan diri nya untuk berjalan sendiri. Tim medis juga memantau keadaan Rangga.


"Aku akan baik-baik saja jika bersama mu." goda Rangga pada Kay, ia tak ingin Kay merasa tertekan. Mereka semua pun menuju apartemen yang sudah di siap kan oleh Revan dan Arvan sebelum nya.


Residence Charles Floquet


Kini, Kay dan Rangga sudah sampai di apartemen pilihan keluarga nya. Pemandangan dari dalam apartamen begitu indah, apalagi tempat mereka tidak jauh dari menara Eiffel. Di apartemen juga ada pelayan yang di bawa oleh Revan dari Indonesia. Revan sengaja membawa pelayan dari Indonesia agar Kaynara dan Rangga tidak sulit berkomunikasi pada pelayan yang membantu mereka. Awal nya Kaynara menolak, Namun kedua kakak nya begitu memaksa


Kay membaring kan tubuh Rangga, ia juga ingin memasak untuk suami nya.


"Kamu tidur saja, di sini. Aku akan membuat kan makanan untuk mu." Kay ingin meninggal kan Rangga, namun Rangga mencegah dan menggenggam tangan isteri nya. Menarik, membawa Kaynara ke dalam peluk kan nya.


"Kita baru saja sampai, kau pasti lelah." bisik Rangga begitu lembut di telinga Kay, deru nafas Rangga membuat bulu kudu wanita itu merinding dan memejam kan mata nya.


"Istirahat lah dulu, lagi pula aku tidak lapar."


"Tetapi kau harus makan." kini Kaynara menatap suami nya lebih dekat, ia begitu merasa nyaman dan menemukan kehangatan di dalam diri Rangga.


***********


"Apa kita memerlu kan bahan ini?" Clara menunjuk kan sesuatu pada Aini, Aini pun menggeleng.


"Aku jarang memakai ini, sebaik nya tidak usah." Aini pun mencari barang yang lain. Setelah selesai mencari bahan-bahan yang mereka perlu kan. Clara dan Aini pun segera kembali ke rumah.


Di dalam rumah, Clara membantu Aini memasak. Aini mengingat masa-masa ia bersama sang mama tercinta. Air mata Aini pun menetes, Clara yang melihat sahabat nya bersedih segera memeluk dan menghibur nya. Ia tahu, apa yang Aini rasakan.


"Semua akan baik-baik saja. Aku juga pernah merasakan hal yang sama, ini memang terasa sakit tapi kau harus kuat dan tetap melanjut kan kehidupan mu. Lagipula, kau masih mempunyai saudara bukan? tetap lah tegar agar kau bisa menemu kan saudara mu itu Aini. Aku percaya bahwa semua akan baik-baik saja." ucapan Clara membuat Aini kembali menangis dengan terisak, hidung nya memerah. Aini pun mengerat kan peluk kan nya tiba-tiba ia teringat pada seseorang.


"Astaga, aku melupakan nya." Aini melepas kan peluk kan nya bersama Clara.


"Ada apa?" tanya Clara yang bingung, Aini mencari ponsel nya. Ketika memegang ponsel terlihat banyak sekali notif panggilan juga Chatting dari seseorang.