
Ryan menatap Kaynara dengan jengkel, "Apa yang anda inginkan, Kay?"
Kaynara mendekati seseorang yang baru beberapa waktu lalu ia kenal "Maafkan aku, mungkin aku tidak mengetahui apapun tentang kalian. Namun, jika aku boleh bicara. Mengapa kamu begitu membencinya? Aku sudah tahu hubungan kalian, dan kalian sempat tinggal bersama bukan? Mengapa sulit bagimu menerimanya kembali?" Ryan tidak menjawab, jika saja bukan Kaynara yang ada di hadapannya mungkin Ryan akan membunuh wanita itu.
"Mengapa? Mengapa, Kay?" Ryan bertanya dengan begitu serius, mood nya kembali kacau karena melihat keberadaan Clara. Kaynara menggeleng "Aku hanya mengikuti kata hati ku yang menurutku benar. Dan hatiku yakin, jika kalian bersatu itu yang terbaik."
"Kau bukan Tuhan, Kay!" Ryan memukul tembok, matanya memerah. Emosinya memuncak namun ia tidak bisa melampiaskannya kepada wanita yang ia cinta.
"Ryan, tolong cobalah mengerti dan Sekali saja menerima dia. Dia adalah adikmu!"
"Dia bukan adikku, Kay! Kau tidak tahu bagaimana dia dan mamanya telah merebut kebahagiaan ku dan mamaku. Hingga akhirnya mama ku meninggal!" Kaynara melihat mata Ryan yang mulai berkaca-kaca, mungkin itu kesakitan yang bertahun-tahun Ryan sembunyikan.
Ryan juga tidak mengerti, mengapa tiba-tiba air matanya menetes. Namun saat bicara dengan Kaynara hatinya menjadi tenang, Kaynara memegang bahu Ryan "Bagaimana pun, kalian satu ayah. Dan dia anak dari papamu, walau kalian berbeda ibu namun kalian satu papa. Jangan seperti itu, Ryan! Aku mungkin tidak mengerti apa yang kamu rasakan, tapi kamu sangat beruntung memiliki adik seperti Clara. Dia wanita yang begitu baik dan juga hatinya sangat tulus!"
Ryan menatap Kaynara, ia mengatakan jika Clara tidak sebaik yang wanita itu bayangkan!
"Kau salah! Dia itu sangat licik, dan buruk! Ia tidak sebaik yang kau kira! Dia dan mamanya itu sama saja!"
Kaynara menghela nafas panjang, ia menatap mata Ryan "Aku boleh bertanya sesuatu?" Ryan mengangguk.
"Aku percaya padamu, jika Clara itu licik sama seperti ibunya. Namun saat dahulu kau tinggal bersama mereka, apakah mamanya Clara atau Clara pernah jahat kepadamu? Baik ada atau tidak ada papamu?" Ryan menggeleng, ia pun mengakui jika ibu tirinya tidak pernah memarahi nya.
"Kau tidak mengerti, Kay! Mamanya sudah merebut papaku dari pelukan kami."
"Aku memang tidak mengerti, mengapa papa mu lebih memilih ibunya Clara, aku tidak mengatakan jika mamanya Clara lebih baik. Namun saat itu kamu kecil, tidak mengetahui masalah kedua orang tuamu yang sebenarnya. Dan jika mama Clara itu jahat, bisa saja ia menjahati kamu. Saat kamu tinggal bersama mereka, bisa saja ia menyiksa atau membagi kasih sayangnya dengan tidak adil. Seperti membagi makanan atau mainan, apakah mamanya Clara seperti itu?" Ryan menggeleng, Kaynara menatap Ryan dengan serius.
"Clara dan mamanya sangat menyayangi kamu. Saat ini, hanya kamu yang Clara punya. Tolong jangan menganggapnya seperti musuh, dia sangat menyayangi mu. Bahkan sangat ingin kalian sangat dekat!"
"Maaf, aku enggak bisa Kay! Aku masih sangat Sulit melupakan disetiap tangisan mamaku karena ibunya."
"Jika ibunya yang bersalah, mengapa anak yang tanpa dosa yang harus menanggung kesalahannya?"
"Ayok, sebaiknya kita makan bersama. Aku tidak akan memaksamu harus berdekatan atau menyayangi Clara. Tapi aku hanya minta, kamu bisa terbiasa didekatnya ,tidak harus saling berbicara namun jangan menghindar. Aku mohon, Ryan. Di sini, hanya kalian temanku. Aku tidak bisa melihat temanku saling membenci seperti itu!"
Kaynara memohon dengan mata sendunya, ia bahkan menceritakan jika hari ini Rangga sudah mengirimkan surat perceraian untuknya. Mereka sudah resmi bercerai.
Ryan merasa sedih melihat air mata Kaynara, ia memeluk Kaynara dengan lembut "Tolong jangan menangis, Kay!"
Ryan tidak bisa melihat air mata Kaynara, "Aku sudah sangat terluka dengan kepergian anakku dan juga perceraian ini. Tolong jangan membuat ku sedih, dengan kalian saudara namun begitu asing." Kaynara benar-benar terisak, ia hanya ingin melihat semua orang bersatu. Tidak seperti dirinya yang memiliki nasib yang tidak beruntung.