Kaynara

Kaynara
Air Mata Bahagia



"Aku tidak perduli Kay! Apa yang aku katakan memang lah benar. Untuk apa mereka sakit hati?"


"Iya terserah mu saja tapi lebih baik tolong diam lah sekarang!" Pinta Kaynara kepada Ryan


"Mari kita makan bersama, tuan Jo duduk lah!" Jo pun duduk di samping Clara. Sedangkan Ryan duduk di depan Kaynara ia ingin memandang wajah cantik Kaynara saat sedang menikmati makanan "Mengapa melihat ku seperti itu?" Kaynara seakan salah tingkah namun ia juga risih


"Tidak ada! Kau jangan merasa kepedean ya bidadari!" Ryan masih saja memanggil kaynara dengan sebutan bidadari


Hal itu semakin membuat Kaynara merasa malu apalagi di depan Clara juga Jo. Namun sepertinya, Ryan tidak ada malunya


Ternyata kakak ku sedang jatuh cinta dengan Kaynara namun bagus lah, dengan Kaynara aku yakin ia menjadi pria yang lebih baik lagi


Clara memasukkan nasinya dengan sendok ke dalam mulut, dengan perlahan ia mengunyahnya. Bahkan Kaynara tidak berani menatap ke arah Ryan. Itu pasti akan membuat Ryan merasa risih, mau makan bersama aja sudah membuat Clara merasa senang


Ryan ingin memberikan suapan makanannya kepada Kaynara namun wanita itu menolak. Sungguh, pria yang dahulunya pembunuh berdarah dingin kini berubah menjadi pria yang begitu bucin


"Ayo lah Kay! Ini bukan racun!" Pintanya dengan manja, kini tidak ada lagi image yang terjaga dari seorang Ryan. Mafia kelas atas, pembunuh berdarah dingin.


Tuan, anda telah kehilangan jati dirimu! ~batin Jo


Jika saya Jo bisa seromantis itu kepada ku, jangan kan romantis. Bahkan menatap aku saja tidak ingin ~batin Clara


Baru beberapa waktu yang lalu, Jo jujur dengan perasaannya kepada Clara namun ia juga mengaku jika dirinya tidak bisa mengkhianati tuannya hanya Karena wanita. Ucapan Jo sedikit membuat Clara kecewa, namun ia juga lega. Lega karena ia tahu bagaimana perasaan Jo kepadanya.


Jo melirik ke arah Clara sejenak, lalu kembali fokus dengan makanannya. Ia tidak mau jika Ryan tahu tentang Jo yang sudah mengungkap perasaannya kepada Clara. Karena Jo tahu betul jika bosnya itu akan marah marah besar seperti waktu itu saat Ryan mengetahui perasaan Jo untuk Clara


"Lihat lah, pria tidak waras seperti kakak ku saja bisa romantis dan bucin dengan wanitanya, sedangkan kau?" Bisik Clara, namun Jo tidak menggubrisnya.


Ryan mendengar ucapan Clara, namun karena ia fokus kepada wanitanya saya. Ryan pun mengabaikan Jo dengan Clara. Bahkan ia menyesal mengapa mereka kembali, seharusnya Ryan meminta Jo untuk makan berdua dengan Clara di apartemen mereka. Biarkan ia dan Kaynara menikmati makan berdua.


Clara yang kesal karena Jo tidak ada respon dengan sengaja memijak kaki Jo dengan Hells yang ia gunakan. Namun hal itu tidak membuat Jo bergeming, pria itu sungguh datar bahkan saat merasa sakit pun ia terlihat biasa saja.


Clara tahu jika Hells nya sangat tipis dan tinggi. Pasti sakit sekali jika di gunakan untuk memijak kaki orang, namun Jo tetap santai menikmati makanannya


"Apakah kau manusia? Bahkan kau tidak merasakan sakit?" Bisik Clara lagi, namun Jo tetap tidak menggubris ucapan Clara. Ia tahu, jika dirinya menggubris dan berbicara kepada Clara akan membuat mood Ryan hancur. Jadi biarkan bosnya yang bercinta, ia akan diam seperti patung atau robot yang menikmati makanan yang sudah di sajikan


Bahkan Jo tidak memikirkan ucapan Clara yang berulangkali membisikkan


"Masakan ku lezat sekali ya?" Ryan kembali memuji dirinya sendiri padahal ia hanya membantu kaynara memasak sedikit saja


Setelah selesai makan, kaynara ingin membersihkan piring yang di bantu oleh Clara. Namun Ryan melarang adiknya dan mengatakan jika dia yang akan membantu kaynara


"Kau pergi lah, biar aku yang membantu bidadari ku!"


Ryan juga memberikan kode kepada Jo agar membawa Clara pergi. Jo mengangguk ia pun menggenggam tangan Clara keduanya pun menjauh dari sana


Clara menepis tangan Jo "Kau ini robot kah? Yang hanya menuruti permintaan tuan mu?" Clara kesal sekali, tadinya saat ia berbicara panjang lebar Jo mengabaikan dirinya dan saat Ryan memintanya membawa Clara pergi. Jo langsung menuruti


"Kau tidak mencintai mu Jo, namun kau mencintai kakak ku!"


Jo mengerutkan dahinya, ia menatap Clara tak percaya "Apakah kau mengira aku ini pria yang tidak normal?"


"Bisa jadi!" Clara ingin masuk ke dalam kamar, namun Jo mencengkal tangannya. Ia mendorong tubuh Clara hingga menyudut ke tembok "Apa kau ingin tahu aku normal atau tidak, Clara?" Jo berbicara dengan jarak mereka yang begitu dekat. Bahkan bernafas saja membuat Clara tidak berani, saat wajah Jo semakin dekat dengan wajahnya Clara hanya memejamkan mata dan gemetar.


Jo melepaskan Clara. Ia pun menjauh dan terkekeh "Jangan pernah memuji ku Clara. Aku tidak ingin kau ketakutan,"


Clara terdiam, ia tidak menyangka jika pria dingin seperti Jo bisa berbuat nekat seperti itu. Walau Jo tidak melakukan apapun kepadanya, namun dengan jarak yang begitu dekat di antara wajah keduanya bahkan ujung hidung mereka sudah menempel.


"Dasar tidak waras!" Gerutu Clara, mengapa Jo melakukan hal yang sangat menjijikan seperti itu.


"Itu hanya ingin kau sadar Clara, jika aku masih normal. Hanya saja, aku selalu bisa mengendalikan diri ku! Tidak terburu-buru mengambil keputusan apapun!"


Clara masih bungkam, yang ia tak habis pikir mengapa Jo selalu menuruti ucapan kakaknya Ryan. Seperti anjing yang menurut dan setia dengan tuannya


"Kau pulang saja Jo! Aku ingin istirahat!"


Jo mengangguk, tanpa berpamitan dengan Clara ia segera pulang. Clara langsung masuk ke dalam kamar.


*****


Kaynara membersihkan meja makan setelah meletakkan semua piring kotor yang ada di wastafel. Dengan sigap, Ryan mencuci semua piring yang ada di wastafel


"Bukan begitu! Tapi ini tugas ku, kamu tamu jangan melakukan itu aku jadi tidak enak!"


"Tidak masalah, karena aku yang menginginkannya!"


Ryan kembali mencuci semua piringnya, walau sudah sekuatnya kaynara berusaha mencegah namun pria itu tetap kekeh ingin menyelesaikan pekerjaannya.


Kaynara pun membantu Ryan membilas dan menyusun piring dan alat tempur lainnya yang mereka gunakan untuk memasak.


Kini keduanya semakin hari semakin dekat, bahkan saat bersama dengan Ryan. Wanita itu bisa melupakan kesedihannya walau sebentar dan Ryan selalu menghibur kaynara.


Bahkan Kaynara tidak pernah merasakan hal senyaman ini sewaktu dengan Rangga. Mungkin ini yang di namakan bahagia saat berpacaran.


Kaynara me-sadarkan dirinya sendiri. Jika dirinya dan Ryan bukan pacaran


Kay, bisa-bisanya Kau memikirkan hal yang tidak nyata ~batin Kaynara


"Jika pun nyata juga tidak apa-apa Kay!" Ujar Ryan membuat Kaynara batuk. Mengapa Ryan bisa mendengar isi hatinya?


Ryan mengambil segelas air putih dan memberikannya kepada Kaynara, kaynara mengambil lalu meneguknya perlahan.


Mengapa ia bisa mendengar isi hati ku? Apakah dia bukan manusia? ~batin Kaynara


"Aku manusia Kay, aku tahu karena kita satu hati. Sudah jangan malu-malu aku tahu apa yang kamu pikirkan" sambung Ryan kembali.


Kaynara tak percaya. Ini aneh namun sungguh nyata, bagaimana ada manusia yang bisa mendengar isi hati seseorang?


Sebenarnya Ryan tidak bisa mendengar isi hati dan pikiran orang. Ia hanya menebak saja, karena apa yang ia pikirkan ternyata sama dengan yang Kaynara pikirkan.


Ia merasa jika dirinya dan Kaynara seperti orang yang berpacaran. Dan Ryan berharap jika itu benar, bukan hanya sekedar menjalani hubungan pacaran..namun juga ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan. Dan Ryan tidak ada bosannya untuk menunggu kaynara sampai ia benar-benar siap berumah tangga lagi.


Ryan berjanji akan menjaga Kaynara bahkan jika harus mengorbankan nyawanya sendiri ia akan melakukan itu, apapun akan pria itu lakukan demi wanita yang ia cinta.


Setelah selesai mencuci piring, Ryan membantu kaynara menyusun piring-piring itu "Kenapa kamu meminta Clara dan Jo pergi? Nanti kamu julit dan mengatakan mereka siap makan langsung pergi?"


Ryan terkekeh mendengar ucapan Kaynara, apa yang Kaynara katakan memang benar ia akan mengatakan kepada Jo dan Clara jika mereka seenaknya pergi setelah selesai makan. Padahal dia sendiri yang memintanya


"Tidak Kay! Aku yang memintanya karena aku ingin berduaan dengan bidadari seperti mu!"


"Sudah lah jangan terus-terusan mengatakan aku bidadari karena aku bukan bidadari! Lebih baik kamu pulang,"


"Tidak mau!" Jawab Ryan dengan manja, sambil melipat kedua tangannya di atas dadanya yang kekar. kaynara tercengang melihat jawaban Ryan yang seperti anak kecil sambil "Kenapa tidak mau?"


"Aku masih ingin bersama bidadari ku! Lagipula, Jo dan dia sedang berpacaran. Masa aku sendirian di unit? Lebih baik aku bersama bidadari ku,"


Sungguh orang yang sudah lama mengenal Ryan tidak akan percaya melihat Ryan berubah menjadi anak kecil yang sangat manja dan begitu bucin.


Sosok kaynara mampu merubah dirinya "Dia siapa? Clara?"


"Iya, dia!"


"Dia itu adik mu, Ryan!"


"Bukan!" Kaynara kesal, Mengapa Ryan tidak bisa menerima Clara sebagai adiknya. Kay pun cemberut dan ngambek kepada Ryan


Keduanya seperti sepasangan kekasih yang sedang ngambekan jika salah satu permintaan kekasihnya tidak di turutin. Melihat wajah cemberut kaynara membuat pria itu bingung "Jangan cemberut Kaynara!"


Namun Kaynara tidak mendengarkan bahkan memalingkan wajahnya dari Ryan


Ryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Iya-iyaaaa! Dia adik aku, sudah jangan ngambek lagi dong?"


Mendengar ucapan Ryan membuat Kaynara menoleh ke belakang. Ia pun tersenyum lebar, Begitu bahagia mendengar pengakuan Ryan yang sudah mau menganggap Clara menjadi adiknya. Kaynara tanpa sadar meneteskan air mata, Ryan panik melihat air mata Kaynara


"Jangan menangis Kay! Maafin aku kalau aku telah menyakiti mu, tolong jangan menangis!" Kaynara menggeleng "Tidak! Ini bukan air mata kesedihan! Tapi ini air mata kebahagiaan karena kamu sudah mau menerima Clara. Aku senang banget,"


Mendengar itu Ryan hanya tersenyum tipis, apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan kaynara. Walau ia sendiri pun tidak tahu apakah dirinya benar-benar sudah bisa menerima Clara sebagai adiknya


"Sudah pernah aku katakan kepada mu, Kay! Apapun akan aku lakukan demi kamu! Demi kebahagiaan kamu!"