Kaynara

Kaynara
Sepuluh menit lagi



"Alana, Sayang. Percaya lah! papi tidak jahat sama mami kamu, nak."


"Ndak mau! Papi jahat! Papi jahat! Alana enggak cuka. Huaaaa." kini Alana pun ikut menangis, bahkan Alana menangis yang kuat, Revan pun mendekati mereka


"Ada apa ini? mengapa anak ku menangis?"


"Papa, lihat lah! Papi jahat. Alana Ndak cuka! hiks.."Revan pun menoleh ke arah Arvan dan menatap nya seakan meminta jawaban.


"Aku tidak berbuat apa-apa." ucap Arvan yang kebingungan karena merasa di pojok kan. Menghadapi sifat Isteri nya yang sedang mengandung membuat nya merasa sangat pusing.


"Lalu mengapa dia menangis?" tanya Shinta dengan nada galak nya.


"Kalau aku jujur, pasti dia akan semakin memanasi Caca dan menyuruh ku melakukan ini." batin Arvan yang merasa di dilema. Namun, jika Arvan terus diam semua orang akan datang dan semakin memojok kan nya.


"Caca meminta ku berjoged layak nya badut." ucap nya kesal.


"Badut?" ucap Alana


"Mami, benal mami mau papi jadi badut?"


"Bukan menjadi badut, Sayang. Mami hanya minta papi joget seperti badut bukan berdandan seperti badut, namun papi tidak mau." adu Caca pada si Alana.


"Sudah lah! turuti saja apa kata isteri mu. Daripada menangis nya semakin kencang dan semua orang akan kesini. Jangan mengacau kan acara ini." ucap Revan.


"Enak saja, jika kau mau! kau saja yang melakukan ini!"


"Kenapa aku? kan isteri mu ingin kau yang melakukan nya."


Melihat Revan dan Arvan berdebat membuat kepala Shinta menjadi pusing.


"Sudah diam! kepala ku pusing jika kalian terus bertengkar seperti ini! Jika kau ingin, kau bisa joget bersama Arvan untuk menemani nya." ucap Shinta kepada suami nya.


"Ap-apa?" Revan mengeras kan nada suara nya.


"Apa kau sudah gila? tidak! aku tidak akan melakukan hal yang memalukan itu!"


"Tapi anak mu yang di dalam perut ingin melihat mu berjoget bersama Arvan. Layak nya badut yang menghibur anak-anak."


"Tapi kami bukan badut....!!!!" ucap Revan dan Arvan secara bersamaan


"Siapa bilang kalian badut....??" balas Shinta dan Caca secara bersamaan.


"Sudahi ide gila kalian ini. Sebaik nya kita kembali menikmati pesta nya." ucap Revan membujuk


"Iya." lanjut Arvan.


"Tapi Alana juga mau lihat papi belcama papa joget sepelti badut..." ucap Alana dengan polos nya.


"Alan ugak.." lanjut si kembar Alan


"Mengapa kalian di sini? dan ada apa? kenapa kalian berteriak? semua tamu melihat ke arah kalian. Dan ada anak-anak di sini. Apa kalian tidak malu?" tegur Gunawan.


Kaynara dan Rangga yang mendengar keributan juga langsung menghampiri Caca dan Shinta.


"Dengar! ini acara adik kalian, Ayah tidak ingin karena sifat ke kanak-kanak kan kalian. Adik kalian menjadi malu!" Kaynara kaget melihat Ayah Gunawan yang sangat marah besar.


"Papa, lihat lah anak-anak mu ini. Mereka ingin membuat kami malu dengan menyuruh kami menari seperti badut." adu Revan kepada Ayah mertua.


"Tidak! jangan lakukan itu. Dan buat kamu, Caca dan Tata. Jangan buat Ayah marah di sini! sifat kalian ini seperti anak kecil. Apa kalian tidak kasihan pada suami kalian? kalian bisa saja membuat mereka malu di hadapan semua tamu." Gunawan memarahi Shinta dan Caca. Ke dua ibu hamil itu pun tak berani mengucap satu kata pun. Revan dan Arvan pun tersenyum penuh kemenangan.


"Ada apa ini, ayah?" tanya Kaynara.


"Tidak ada apa-apa nak. Kembali lah ke acara kalian." Kay pun berjalan kembali menemui tamu yang di susul oleh Rangga.


"Terimakasih, Papa mertua sudah menyelamat kan kami dari kedua Ibu hamil yang aneh ini." batin Revan memandangi Shinta dan Caca yang menoleh pada mereka dengan tatapan sinis. Arvan menyengir lalu berlalu pergi begitu juga dengan Revan yang mengikuti Arvan.


"Kita selamat." bisik Arvan.


Mereka pun kembali menikmati pesta, Shinta dan Caca sudah melupakan keinginan mereka yang aneh itu. Begitu lah wanita hamil, keinginan nya dalam sekejap bisa berubah ubah. Hari semakin malam, pesta pun berakhir.


Semua orang pergi ke kamar untuk membersih kan diri dan segera istirahat.


Kaynara dan Rangga masuk ke dalam kamar mereka, ini pertama kali nya Rangga dan Kaynara berada di dalam ruangan berduaan. Kaynara pun masih bingung harus melakukan apa. Kedua nya saling salah tingkah satu sama lain.


"Walau hari sudah malam. Kau kelihatan sangat cantik." puji Rangga yang ingin mendekati wajah Kaynara lebih dekat. Kay langsung bangkit dan menghindar.


"Ak-aku harus membersih kan diri dahulu." Kaynara pun pergi ke kamar mandi untuk membersih kan diri nya. Sebenar nya ia hanya ingin menghindar. Kaynara masih malu dan bingung harus berbuat apa. Dia juga mengingat saat dahulu mahkota nya di renggut secara paksa. Rasanya begitu sangat sakit, Kaynara masih trauma. Dia sengaja me lama lama kan diri nya di kamar mandi.


Rangga yang di luar sudah menunggu dan tak melihat Kaynara yang tak kunjung keluar mulai meng khawatir kan keadaan Kaynara di dalam. Apakah mungkin karena terlalu lelah Kay jatuh pingsan. Rangga menghampiri dan mengetuk pintu kamar mandi.


"Kay? kamu ngga apa-apa?" Mendengar suara Rangga membuat Kaynara kaget.


"Iy-iya, aku nggak apa-apa. Hanya saja masih membersih kan diri."


"Apa kah masih lama? kamu sudah dua jam berada di dalam. Nanti kamu masuk angin, Kay. Segera lah keluar."


"Iy-iya, se-sebentar lagi aku akan keluar. Kamu tidur lah deluan, Ya?"


"Baik lah, aku akan tidur deluan. Kamu jangan lama-lama di kamar mandi ya? itu tidak bagus untuk mu. Kau akan masuk angin nanti." ucap Rangga. Rangga pun mendekati tempat tidur, karena tubuh nya sangat lelah, Rangga memejam kan kedua mata nya.


Kaynara masih berdiam diri dan mematung di depan cermin kamar mandi, rasanya ia juga begitu lelah terlalu lama berdiri dari pagi. Namun, ini cara yang bagus untuk menghindar dari malam pertama.


"Sebentar lagi aku akan keluar, dia pasti sudah tertidur nyenyak." batin Kaynara.


"Aku akan keluar dalam waktu sepuluh menit lagi. Dan akan langsung tidur, besok sebelum dia bangun. Aku akan bangun pagi-pagi sekali dan langsung keluar dari kamar."