Kaynara

Kaynara
Lapar



"Kimmy juga berharap untuk kebahagiaan kakak. Kimmy menyayangi kakak, dan Kimmy percaya jika kita akan menemukan orang yang tepat! Namun saat ini Kimmy hanya ingin kakak bahagia, kakak tidak bersedih lagi!"


"Kakak juga mengharapkan hal yang sama denganmu, Kimmy! Dan kakak ingin kelak kamu mendapatkan suami yang menyayangimu dengan tulus. Bisa memberikan kebahagiaan yang tidak pernah bisa kakak berikan!"


Kimmy mengangguk "Saat kakak tidak bersamanya lagi itu adalah ketenangan dan kesenangan Kimmy!"


Rangga terdiam, ia tidak bisa mengatakan apapun lagi! Berdebat juga tidak ada gunanya, sebab Kimmy sampai kapan pun tidak akan bisa menerima Kaynara.


"Apakah Kaynara sudah melahirkan sekarang?" Rangga masih penasaran dengan kabar mantan istrinya, Kimmy pun memberitahu jika Kaynara sudah menerima perbuatan yang dilakukan oleh kakeknya.


"Apa kakak tahu? Sebelumnya Clara mengatakan kepadaku jika anak Kaynara sudah tiada. Kini, ia menanggung segala kesalahan kakeknya. Kaynara bisa merasakan apa yang kita rasakan saat kita kehilangan kedua orang tua kita."


Mendengar kaynara telah kehilangan hatinya membuat Rangga semakin bersalah. Saat ini Kaynara sedang berduka, namun ia semakin memberikan luka dengan cara memberikan surat perceraian


"Maafkan aku Kay! Aku berharap kau akan bahagia kelak!"


"Dan aku mengira jika ia pantas kehilangan anaknya itu, kak! Untuk apa anaknya hidup tanpa seorang ayah? Dan kita tahu jika anak Kaynara itu belum tahu dan jelas siapa ayahnya."


"Sudah lah Kimmy! Jangan mengatakan apapun lagi, hati kakak sangat hancur saat mendengar kau mengatakan hal buruk tentang Kaynara. Sebagai seorang manusia kita harus bisa memahami kesakitan orang lain! Jika itu bukan Kaynara, kita harus merasakan kesakitan dan penderitaan orang lain!"


"Sebelum ingatan ku kembali, kau sangat menyayanginya Kimmy. Kalian begitu dekat, dan kau sangat khawatir jika perutnya sakit saja. Kakak tahu kemarahan mu namun Kaynara juga tidak mengetahui apapun tentang masa lalu kakeknya. Jika kaynara ikut terlibat, kita oantas untuk marah kepadanya. Namun ia sendiri tidak mengetahui bagaimana keadaan dan sifat kakeknya."


"Kakak mengapa masih saja membelanya!"


"Tidak Kimmy! Kakak tidak membelanya, kakak hanya mengatakan apa yang menurut kakak benar. Misalnya begini, saat kakak melakukan kesalahan pada orang lain, apakah kau yang harus di salahkan?"


Kimmy menggeleng "Begitu juga dengan dirinya! Kita bisa tidak menerimanya karena ia cucu dari seorang pembunuh. Namun kita enggak bisa membenci atas apa yang tidak ia lakukan."


"Iya kak, sudah lah! Kimmy tidak mau membahasnya lagi. Lebih baik kita Istirahat dan tidur saja! Tidak ada gunanya kita berdebat hanya karena dia!"


Rangga mengalah, ia tidak mau adiknya melakukan hal yang konyol lagi.


"Lebih baik, kamu memasak untuk kakak. Kakak sangat lapar!"


"Kakak bisa saja, baik lah. Kimmy akan memasak makanan kesukaan kakak, dan akan Kimmy pastikan kakak memakannya dengan lahap!" Kimmy bermain mata dengan kakaknya, Rangga pun mengelus rambut adiknya Kimmy dengan penuh kasih dan sayang.


"Apa kakak tahu? Dulu aku merasa sendiri apalagi saat mama angkatku telah tiada. Namun kehadiran kakak membuat aku bahagia, dan hal yang membuat ku lebih bahagia lagi. Aku mendapatkan ingatanku yang telah hilang, dulu aku merasa seperti orang yang kehilangan arah hidup. Bahkan tidak tahu siapa diriku!"