Kaynara

Kaynara
Terluka



Hai," sapa Kaynara.


"Sayang, tidak apa-apa," kali ini Caca mencoba menjelaskan pada Syifa.


"Tante kaynara ini adalah sepupu mama. Ia sangat baik dan pasti akan menyayangi mu," Caca membelai rambut Syifa yang panjang. Kaynara mendekat pada Syifa dan berjongkok untuk Menyeimbaingi tubuh Syifa.


"Maaf," Kaynara meletakkan jari di telinga nya sendiri.


"Maaf kan tante ya, Sayang,"


"Kenapa tante men jewer kuping tante," tanya nya dengan polos


"Karena tante sudah bersalah dan menyakiti hati mu,"


"Tante tidak akan melepaskan jari tante di telinga sampai kamu mau memaafkan kenakalan tante," Syifa menjauh kan tangan Kaynara dari kuping.


"Sudah, Tante!"


"Syifa memaafkan tante,"


"Terimakasih, Sayang." Kaynara memeluk Syifa. Ia menyadari walau Caca dan Syifa adalah keturunan dari wanita iblis Elsa. Namun, hati Syifa dan Caca sangat lembut dan penuh kasih sayang. Kaynara melepas kan pelukkannya dari Syifa.


"Apa kamu mau berteman dengan Tante?" Syifa pun mengangguk. Ia meletakkan jari kelingking nya tepat di depan Kaynara, Kaynara pun tersenyum dan meletakkan jari kelingking nya bersatu di jari kelingking Syifa.


"Teman," ucap Kaynara. Mereka pun tertawa bahagia. Kaynara pun meminta waktu agar bisa bermain berduaan dengan Syifa. Kaynara mengajak Syifa bermain berdua di dalam kamar, Syifa menceritakan tentang keseruan nya di sekolah. Bagaimana kasih sayang Shinta terhadap diri nya. Kaynara pun merasa sangat terharu. Setelah lelah bermain, Syifa tertidur. Kay keluar dari kamar Syifa dan menemui Caca dan Shinta. Caca meminta pada Kaynara agar wanita itu mau tinggal bersama diri nya.


"Aku mohon, tinggal lah bersama ku,"


"Baik lah kak." Kaynara tersenyum pada Caca.


******


Sudah pukul tujuh malam, Caca dan Arvan berpamitan untuk pulang. Namun, Shinta meminta mereka untuk makan malam bersama. Caca dan Arvan pun tak bisa menolak. Mereka sudah menganggap Shinta seperti adik mereka sendiri, kakak mana yang bisa menolak permintaan adik nya.


Mereka makan malam bersama, selesai makan mereka memutus kan berbincang-bincang bersama di ruang keluarga dan bermain kepada Syifa, dan si kembar Alan, Alana. sebelum Caca dan Arvan pulang kerumah. Ketika pukul setengah sembilan malam Caca dan Arvan berpamitan untuk pulang, tidak ada lagi alasan untuk Shinta menahan mereka.


"Kami pulang dulu ya,"


"Apa tidak sebaik nya kalian tidur di sini aja?" pinta Shinta dengan manja.


"Enggak bisa, Ta. Kita harus pulang dan besok pagi-pagi aku harus ke rumah sakit melihat keadaan mama ku," mendengar nama Elsa membuat hati Kaynara terluka, ia mengingat semua perlakuan Elsa terhadap dia dan keluarga nya. Shinta melihat ke arah Kaynara yang menggenggam tangan nya dengan kuat. Shinta memahami rasa sakit Kaynara. Pasti tidak akan mudah bagi nya untuk melupakan kejadian itu.


"Baik lah, Hati-hati di jalan ya. Kamu juga, Kay." Kaynara pun mengangguk.


"Ayo, Kay!" ajak Caca.


"Aku permisi dulu kak," pamit kaynara pada Shinta dan Revan. Kaynara pun mengikuti langkah Caca dan Arvan. Mereka masuk ke dalam mobil


*****


"Ini kamar kamu, semoga kamu betah ya. Kay" Caca memegang pundak Kaynara. Kaynara menatap caca dan tersenyum hangat pada nya


"Terimakasih. Kak,"


"Kamu adik aku, gak usah terimakasih sama aku ya," ucap Caca. Kaynara pun mengangguk.


"Aku pergi dulu, istirahat lah. Anggap saja ini rumah mu sendiri, buat se nyaman-nyaman nya ya," Setelah pamit Caca pun pergi meninggal kan Kaynara. Kaynara menutup pintu kamar nya, ia berjalan mendekati kasur, terduduk di tepi ranjang dan mematikan lampu kamar. Kaynara memijit dahi nya sambil memejam kan mata. Tidak mudah bagi Kaynara, ia bukan hanya melihat kedua orang tua, kakek nenek nya di bunuh secara tragis. Namun, ia juga harus di gilir oleh beberapa pria. Kaynara menangis terisak, dada nya terasa sangat sesak. Ia berfikir dulu, ketika ia melupakan masa lalu nya. Duka rasa sakit itu akan hilang, Namun tidak! Pertemuan nya kembali pada Elsa tidak hanya mengingat duka lama nya namun semakin membuat diri nya terluka. Elsa begitu kejam, seharus nya Elsa sebagai seorang bibi bisa melindungi nya. Namun, bukan nya melindungi diri nya Elsa malah menghancurkan kehidupan Kaynara.


"Aaaaaaa," Kaynara menangis sejadi-jadi nya, dada nya semakin sesak. Kaynara tidak ingin terus-terusan berada di titik terendah seperti ini. Namun, melupakan segala nya juga tidak mudah bagi nya. Ia seperti mayat hidup, Raga nya ada namun jiwa nya telah lama pergi.


"Mama, Papa. Kay ingin ikut bersama kalian, Kay sangat sakit hiksss,"


******


Caca terbangun ketika mendengar suara wanita yang menangis di jam tengah malam seperti ini. Ia membangun kan Arvan.


"Sayang, bangun lah! Apa kau mendengar suara tangisan?" Namun Arvan tidak menghirau kan ucapan Caca dan tetap tertidur pulas. Caca mendengus kesal, ia pun memutus kan untuk melihat sendiri dari mana asal suara tangisan itu. Caca turun dari ranjang dan berjalan keluar. Ia mendekat dari mana asal suara tangisan itu.


"Suara itu dari kamar Kaynara," batin nya. Ia pun mendekati kamar Kaynara dan membuka nya. Kamar Kaynara sangat gelap. Caca berjalan di kegelapan lalu menghidupkan saklar lampu nya


"Kay," teriak Caca yang langsung melepas kan pisau yang tertancap di perut Kaynara. Caca langsung memeluk Kaynara.


"Kay," Caca menangis dan berteriak meminta tolong


"Tolongggggggggg,"


"Arvan, Bibi, Paman. Siapapun yang ada di luar tolong aku," teriak Caca menangis.


"Kay, bangun lah. Hiks, tolong jangan tinggal kan aku,"


"Tolonggggggggggg!!!" Semua yang ada di rumah mendengar jeritan Caca dan masuk ke kamar Kaynara. Semua orang terkejut melihat Caca yang memegang tubuh Kaynara yang penuh darah.


"Kenapa kalian diam saja, tolong selamat kan dia!!!!" pinta Caca. Arvan langsung menggendong tubuh Kaynara dan membawa nya ke rumah sakit. Caca mengikuti Arvan dengan langkah yang gemetar ketakutan.


"Ya Tuhan, selamat kan adik ku. Tolong," sepanjang jalan Caca tidak berhenti menangis dan memohon doa untuk keselamatan Kaynara.


*******


Sesampai di rumah sakit, Dokter segera menangani Kaynara. Orang-orang yang ada di rumah sakit melihat penampilan Caca yang berantakan dan penuh dengan berlumuran darah. Tidak lama kemudian, polisi datang untuk meminta kesaksian dari Caca untuk menyelidiki kasus ini. Apakah Kaynara mencoba bunuh diri atau ada seseorang yang ingin mencelakai dirinya.


Caca menjelaskan segala nya pada polisi dengan bibir dan tangan yang gemetar, ia tak takut dengan pertanyaan polisi. Yang ia takutin saat ini adalah keadaan Kaynara. Dokter keluar dan menjelaskan bahwa Kaynara kritis akibat kebanyakan kehabisan darah. Caca semakin histeris, ia sangat takut Kaynara tidak selamat.


"Tolong aku, Tuhan. Tolong, selamat kan dia," ucap Caca yang memohon pertolongan pada Tuhan dengan tulus.