
"jangan begitu, aku malu "pipi kay pun tersipu malu Rangga terus saja menggoda dirinya, bahkan pria itu tidak merasakan sakit yang melanda tubuhnya. Butuh waktu kurang lebih enam belas jam lagi baru tiba di Paris.
"Padahal aku masih ingin kita menghabis kan waktu bersama Ibu dan Ayah. Aku tak menyangka jika harus secepat ini." ucap Kay
"Aku juga tak ingin sebenar nya ke negara asing. Tetapi, keselamatan mu jauh lebih penting dari segala nya." batin Rangga. Rangga memikir kan bagaimana Ryan bisa mengetahui jika ia telah menikah dengan Kaynara.
"Apa hubungan nya dengan Kaynara." batin Rangga.
"Kay?"
"Iya?" Kaynara pun menoleh ke arah Rangga.
"Apa kau mengenal, maksud ku apakah kau memiliki teman yang bernama Ryan?"
"Tidak." jawab Kay dengan cepat, Kaynara merasa dia tak mempunyai teman siapapun kecuali Kimmy. Kaynara juga wanita yang cuek. Dan tidak pernah mau tahu apa yang tidak harus ia tahu. Kaynara memang tidak mengenal Ryan, karena Ryan selalu menyukai Kaynara dalam diam.
"Memang nya kenapa?"
"Tidak ada, aku hanya bertanya saja." ucap Rangga.
"Memang nya siapa Ryan itu? kenapa kau membahas nya?"
"Di, dia."
Jika aku memberitahu Kaynara, dia akan kepikiran dan merasa khawatir ~batin Rangga.
"Tidak! bukan siapa-siapa. Sudah, istirahat saja."
"Sejujur nya aku tidak nyaman jika di kawal seperti ini, seakan buronan saja." keluh Kaynara, ia tak habis fikir kenapa kakak-kakak nya begitu over protective terhadap diri nya.
"Padahal kita sudah dewasa, bisa menjaga diri."
"Kay, saat ini kondisi ku sangat tidak memungkin kan. Jangan kan menjaga diri mu, membawa diri ku sendiri saja aku masih lemah. Itu mengapa mereka membawa tim medis dan beberapa pengawal."
"Tapi, apa harus seketat ini? aku sangat tidak nyaman."
"Sudah, tenang lah. Aku di sini bersama mu." Rangga memeluk Kaynara, membaring kan kepala Kaynara di bidang dada milik nya. Rangga mengelus kepada Kaynara dengan lembut, Kaynara merasa sangat bahagia hingga diri nya terlelap di bidang milik suami nya itu.
"Maaf kan aku, aku tak bisa berkata yang sebenar nya." Batin Rangga.
Sejujur nya aku juga merasa tidak aman jika di kawal seperti ini. Namun, ke amanan mu jauh lebih penting dari apapun, Kay. ~Rangga
Perjalanan mereka masih lama, butuh waktu enam belas jam untuk sampai ke Paris. Rangga pun mencoba memejam kan mata.
"Kay."
"Tolong, jangan bawa aku."
"Lepas kan dia!" teriak Rangga.
*Dor....!
Suara satu tembakan* mengenai lengan kiri Rangga.
"Rangga." teriak Kaynara memecah.
Haha....Haha
Teriak kalian sekencang apapun, pesawat ini telah kami bajak! Tidak akan ada yang berani menolong kalian Haha....
Suara tawa dari para penjahat yang ingin menyakiti Kaynara. Keadaan Rangga yang melemah di tambah tembakan di lengan nya. Darah terus mengalir.
"Kalian mau apa." teriak Kaynara, ia melihat Rangga yang semakin kehilangan kesadaran. Rangga di pukuli tanpa ampun di bagian perut dan kepala.
"Rangga. Bangun, jangan tertidur!"
Tamparan keras di pipi Kaynara, membuat pipi nya bercap merah tangan seseorang yang memiliki tubuh yang tegap.
"To-tolong, jangan saki-ti di-a." pinta Rangga terbata. Seluruh pengawal dan orang yang ada di pesawat tak berani berkutik. Orang yang membajak pesawat membawa banyak senjata api yang sedang menodong diri mereka.
DEZI....!
suara tembakan di dada seseorang yang ingin melawan, darah nya pun mengalir banyak, tak butuh waktu lama meninggal di tempat akibat tembakan langsung di dada nya. Semua orang semakin ketakutan, hanya berusaha menyelamat kan diri sendiri. Rangga berusaha menyadar kan diri nya. Pandangan nya tak terlepas dari Kaynara, semakin Rangga berontak. Pukulan demi pukulan tanpa ampun menghantam diri nya.
"Jangan sakiti dia, brengsek!" kesal Kaynara pada para penjahat itu, Kaynara ingin mendekati suami nya namun ke dua tangan nya di pegang erat dengan para penjahat.
"Apa yang kalian ingin kan."
"Membunuh diri mu!"
"Jan-ngan saki-iti ister-i k-ku." Kaynara pun memberontak untuk melepas kan diri, dia ingin mendekati suami nya. Darah di mana-mana mengalir pesawat itu.
Terlihat seorang wanita paruh baya yang berjalan dengan sombong, memakai kacamata hitam dan topi menutupi wajah nya. Dari belakang, dia menjambak dan menyeret Kaynara ke belakang.
Kaynara pun terkejut dan menahan sakit.
"Lepas-kan dia brengsek."
Buk....!
Suara pukulan kembali menghantam Rangga di bagian kepala, pandangan Rangga semakin memburam.
"Rangga." teriak Kaynara menangis dengan kencang." wanita itu memukuli Kaynara dengan gila. Menginjak perut Kaynara Berulang-ulang hingga Kaynara mengeluar kan darah dari paha nya. Pukulan, tendangan itu semakin menggila. Kay terlihat sangat berantakan dari jauh. Tak sampai di situ, wanita gila itu pun mengeluar kan pistol milik nya dan ingin menembak Kaynara.
"Kaynara!" teriak Rangga.
Rangga pun terbangun, Kay juga bangun
"Ada apa?" tanya Kaynara yang bingung, kepala Kay menjauh dari dada Rangga. Terlihat Rangga yang berkeringat dingin. Kay mengelap keringat suami nya menggunakan tangan.
"Ada apa?" tanya Kaynara kembali. Rangga melihat sekeliling dan semua masih baik-baik saja. Nafas nya tak beraturan. Rangga pun memeriksa tubuh Kaynara yang baik-baik saja di samping nya.
"Ada apa? mengapa kau seperti ini?" Kaynara pun semakin bingung melihat tingkah Rangga.
Ternyata hanya mimpi~ batin Rangga.
"Rangga? ada apa? kau tidak menjawab pertanyaan ku dari tadi, mengapa kau berteriak? dan apa ini? mengapa kau berkeringat dingin seperti ini?" Rangga langsung memeluk dan mencium kening Kaynara.
"Tidak apa-apa. Aku hanya mimpi buruk saja."
"Mimpi apa? hingga membuat mu merasa takut.?"
"Sudah lah, tak usah di fikir kan. Hanya mimpi saja." ucap Rangga.
Mungkin perasaan ku yang ketakutan jadi terbawa ke dalam mimpi ~ Rangga.
Rangga mencoba mengatur nafas nya dengan normal. Mimpi itu seakan nyata sekali, bahkan rasa takut dan gemetar terbawa sampai ia tersadar. Rangga pun kembali melihat sekeliling pesawat. Semua masih keadaan baik-baik saja.
Syukur lah ini hanya mimpi saja
Kini, perasaan Rangga lebih tenang dan lega. Ia memeluk Kaynara dengan erat.
"Jangan seperti itu lagi, aku merasa khawatir." ucap Kaynara dengan manja.
Mungkin, bawaan dari bayi yang ada di perut nya membuat Kaynara menjadi lebih manja dan sensitif. Rangga mengelus rambut Kaynara dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Tidur lah!" Rangga meminta Kaynara untuk kembali istirahat dan tertidur. Namun, kedua nya tidak bisa tidur dengan tenang. Rangga masih takut dengan pikiran nya sendiri.
Bagaimana jika Ryan menemukan mereka dan mimpi itu menjadi kenyataan ~