
Rangga memandangi wajah Kaynara yang tertidur dengan pulas nya. Tersenyum sendiri seakan ada kebahagiaan lagi ada pada diri nya. Kaynara yang sedang tertidur merasa ada yang memerhati kan diri nya. Kay membuka mata kaget melihat Rangga di samping
"Aaaa." teriak nya meloncat dari tempat tidur.
"Kenapa Kay?"
"Ke-kenapa kau ada di sini? sedang apa?"
"Aku kan suami mu."
"Astaga." Kaynara baru teringat kalau diri nya sudah menjadi isteri Rangga. Menggaruk tengkuk nya tidak gatal lalu menyengir Malu.
"Ma-maaf kan aku ya, aku lupa jika kita sudah menjadi suami isteri." Rangga pun tertawa melihat tingkah konyol Kaynara.
"Tidak apa! kau mungkin lelah, kembali lah tidur." pinta Rangga, Kaynara pun kembali naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Rangga. Pasangan suami isteri ini pun saling menatap satu sama lain, Rangga membelai rambut isteri nya perlahan dengan lembut. Jantung ke dua nya ber-detak dengan kencang. Rangga ingin mencium Kay. Namun, niat nya terhenti, dia tak ingin Kaynara merasa takut dan tidak nyaman. Rangga memilih untuk bangkit dan pergi keluar dari kamar.
"K-kau ingin kemana?" tanya Kaynara yang duduk di tepi ranjang. Ia mengerti apa yang Rangga rasa kan.
"Maaf kan tingkah ku tadi ya? kau berhak atas diri ku." ucapan Kaynara membuat langkah Rangga terhenti, dia menoleh kepada Kay.
"Apa yang kau kata kan?"
"K-kau Hem..Maksud ku, kau berhak atas diri ku." gugup Kaynara. Kay pun memegang tangan Rangga.
"Maaf, tadi aku hanya takut saja. Kau tahu bukan." Rangga membungkam mulut Kaynara dengan ******* bibir nya dengan lembut. Rangga menuntun Kaynara untuk berbaring di atas ranjang. Rangga menyerang bibir Kaynara tanpa kesiapan dari gadis itu hingga membuat Kaynara meraup udara dari mulut nya.
Gadis itu memejam kan mata nya, menarik nafas banyak-banyak dan mencoba mengikuti aluran permainan Rangga. Namun, Kaynara masih terdiam dia bingung harus melakukan apa. Karena ini hal pertama bagi nya, pemerkosaan yang dia alami dulu tidak ada semanis dan selembut itu. Semua terjadi begitu cepat, ia hanya merasa kan sakit. Rasa takut Kay kembali datang.
"Ini nggak akan sakit, aku janji." Rangga mengelus pipi Kaynara dengan lembut.
Tanpa menunggu lama, Rangga menarik tubuh nya berdiri dengan kedua lutut, lalu membuka satu persatu kancing kemeja dan melempar ke lantai.
Rangga kembali mencium bibir Kaynara, dengan lembut dan perlahan. Rangga tak ingin tergesa gesa dan membuat isteri nya takut.
Hisapan, kecupan, ******* di atas bibir nya membuat Kaynara mencengkram pundak Rangga erat. Sesekali bibir nya mengeluar kan desahan yang tertahan, apalagi saat Rangga mengusap paha nya.
Akhir nya Kaynara mulai sedikit mengerti apa yang harus dia lakukan. Ketika Rangga menggigit bibir nya, menyusup kan lidah nya di sela-sela bibir. Dengan perlahan Kaynara membalas belitan itu di dalam bibir nya.
Tubuh Kaynara bergetar hebat saat satu tangan Rangga masuk ke dalam baju dan mengelus perut nya dengan lembut. Sentuhan itu semakin menggila saat Rangga menemu kan dua buah gundukan yang sintal Kaynara yang masih ketutupan kain namun sangat pas jika di pegang di tangan nya.
Rangga meremas kuat payudara Kaynara, sementara bibir nya mulai turun ke leher, pundak dan kembali mengecupi telinga Kaynara. Hembusan nafas Rangga menyapu telinga nya Kaynara sehingga membuat wanita itu merinding.
Hal itu membuat Kaynara terkejut.
"Rangga." Kaynara berusaha menutupi tubuh nya dengan selimut, tapi Rangga menahan. Kedua tangan Kaynara di tahan ke atas, lalu dengan rakus nya Rangga mengecup kembali rahang Kaynara. Memberikan jejak kepemilikan nya.
Kaynara mendongak, membiar kan Rangga menciumi leher nya dengan mudah. Rasa itu begitu membuncang, sesuatu dalam diri nya seolah menjerit nikmat.
Kini, mereka berdua tak memakai sehelai benang sama sekali di tubuh nya. Kaynara berkali kali menutupi tubuh nya karena malu, namun Rangga menyingkir kan tangan nya dan kini mulai menindih tubuh Kaynara.
"Em, sakit..!" Kaynara mendesis.
"Tahan lah sebentar." Rangga kembali mencium bibir Kaynara dengan lembut hingga Kaynara tak merasakan sakit lagi.
Rangga dan Kaynara merasakan Gelagar baru di tubuh nya. Mereka sama-sama merasakan kenikmatan yang belum pernah mereka rasa kan sebelum nya. Keringat mereka membaur menjadi satu akibat suasana panas yang di cipta kan oleh tubuh mereka. Bahkan suasana yang menyelimuti dingin kamar itu membuat pasangan itu menghabis kan malam yang panjang. Hanya terdengar suara desahan dan deritan ranjang yang memecah isi kamar.
Rangga melepas kan kenikmatan nya berkali-kali. Dan menciumi Kaynara yang sudah terlelap dan tidak bertenaga.
******
Pagi itu, Kaynara terbangun dengan rasa linu di seluruh tubuh nya, apalagi area tubuh nya yang terasa nyeri. Matanya perlahan terbuka menyesuai kan cahaya yang datang dari lampu kamar. Ia masih mengumpul kan kesadaran saat telinga nya mendengar suara gemercik dari dalam kamar mandi
Kaynara mengerjap, menatap jam dinding yang menggantung. Masih terlalu pagi untuk ukuran jam bangun nya. Biasa nya Kaynara bangun pukul jam tujuh pagi, namun sekarang baru pukul lima pagi tetapi mata nya sudah meminta untuk terbuka.
Kesadaran Kaynara masih tipis, mata nya masih menjelajahi isi kamar yang penuh dengan bunga pengantin.
Kaynara tersentak, membuka mata nya lebar-lebar. Kilasan yang terjadi tadi malam terlintas cepat di otak nya. Buru-buru ia mengangkat tubuh nya, lalu beranjak dari posisi berbaring.
"Aw." Kaynara meringis merasa kan nyeri di bagian bawah.
Kaynara memeluk erat selimut menutupi tubuh telanjang nya, perlahan kaki nya turun untuk mempermudah mengambil pakaian dalam yang tergeletak di lantai. Namun, belum sempat kaki nya menyentuh lantai. Suara pintu kamar mandi terbuka, membuat tubuh Kaynara seketika menjadi kaku. Kaynara menoleh melihat Rangga berdiri di samping ranjang dengan handuk melilit di bagian pinggang.
Rangga terlihat sangat segar dengan rambut basah yang sebagian air nya masih menetes jatuh ke atas pundak nya.
Kaynara mendadak salah tingkah, wajah nya terasa sangat panas. Gadis itu menunduk dalam menyembunyi kan wajah dan mengerat kan peluk kan nya di dalam selimut. Jantung Kaynara masih bergedup sangat kencang, ia masih belum percaya bahwa Rangga sudah menjadi suami nya. Bahkan, tadi malam mereka melaku kan ritual layak nya suami dan isteri.
"Aku malu jika harus menatap wajah nya." batin Kaynara.
Rangga berjalan mendekati Kaynara yang masih menutupi wajah nya dengan selimut.