Kaynara

Kaynara
Perut Kaynara Bergerak?



Aini yang mengambil minum pun melihat kemesraan kakak dan juga kakak ipar nya. Ia tersenyum bahagia, Aini senang melihat mereka hidup bahagia. Namun, entah mengapa terkadang Aini sebal melihat kakak nya hanya memprioritaskan Kaynara.


Kapan ya aku bisa menikah dan hidup bahagia seperti mereka


Aini juga ingin memiliki pendamping yang begitu menyayangi dan mencintai nya seperti kakak nya yang begitu mencintai Kaynara.


Aini pun kembali ke kamar, mana mungkin ia mengganggu waktu ke dua nya


Kay tiba-tiba perut nya terasa sakit, Rangga begitu khawatir.


"Ada apa?" tanya Rangga yang menjauhkan bibir nya dari bibir Kaynara.


Kaynara menggeleng, ia menggigit bibir bawah nya untuk menahan rasa sakit itu.


Rangga ingin membawa Kaynara ke rumah sakit namun Kaynara menolak.


"Ti-tidak, aku baik-baik saja. Mungkin, ini hanya kontraksi, biasa di alami oleh ibu hamil."


Rangga sedikit lega mendengar ucapan Kaynara, ia pun mengajak Kaynara untuk kembali ke kamar agar Kaynara bisa istirahat dengan baik.


Kaynara mengikuti suaminya, perut nya masih sangat sakit namun ia tidak mau membuat suami nya khawatir.


Rangga memanggil Aini dengan suara yang panik, Aini yang mendengar panggilan kakak nya pun segera ke luar dari kamar.


"Ada apa kak? Kenapa kamu berteriak seperti itu?" Rangga mengatakan jika perut Kaynara sakit, Aini pun panik. Ia membantu Rangga untuk menuntun kakak ipar nya ke kamar.


"Kenapa bisa begini?"


Rangga dan Aini meletakkan tubuh Kaynara perlahan ke atas tempat tidur, Aini juga berlari ke dapur mengambil air minum untuk kakak ipar nya.


Terlihat Aini memang menyayangi Kaynara, ia begitu khawatir saat Kaynara merasakan sakit seperti ini. Aini menangis, apa mungkin Kaynara seperti itu karena kejadian tadi pagi.


Aini kembali masuk ke dalam kamar Rangga dan Kaynara. Ia memberikan air minum untuk Kay.


"Minum lah Kay!" Kaynara mengambil segelas air yang di berikan oleh adik nya, lalu meneguk dengan perlahan. Wajah Kaynara terlihat sangat pucat


Betapa sakit dan luar biasa nya perjuangan seorang ibu untuk mengandung anak nya.


Aini meminta maaf kepada Kaynara, andai ia tidak membuat keributan dan membuat Kaynara sedih mungkin Kaynara tidak akan mengalami hal seperti ini.


Aini berjanji kepada diri nya sendiri agar dia tidak akan memikirkan ego nya.


"J-jangan menyalahkan diri mu sendiri, Aini. Aku tidak marah kepada mu dan apa yang terjadi kepada ku itu juga bukan kesalahan mu."


"Kay, jika kau tidak merasa sedih pasti kau tidak akan mengalami hal Seperti ini. Sungguh, aku minta maaf."


Rangga mengatakan kepada adik nya untuk tidak merasa bersalah, semua telah berlalu.


Mendengar nama itu, kepala Aini terasa sangat sakit. Seperti ia mengingat kejadian yang tidak jelas.


"Aww!" Aini memegang kepala nya yang terasa dahsyat sakit nya


Kaynara dan Rangga yang melihat Aini seperti itu pun merasa takut, Kaynara ingin menolong adik ipar nya namun Rangga melarang.


Rangga memegang dan memeluk adik nya, ia meminta maaf kepada Aini. Namun, Aini tidak merespon kepala nya masih sangat sakit.


Aini yang tak tahan akhirnya pun terjatuh, tak sadar kan diri. Rangga segera menggendong tubuh adik nya.


Rangga ingin membawa adik nya ke dalam kamar, namun Kay melarang. Ia mengatakan jika sebaiknya Aini berada di samping Kaynara. Agar Rangga bisa menjaga ke dua nya dengan bersamaan.


Rangga pun mengiyakan ucapan istri nya, Kay menggeserkan tubuh nya perlahan. Walau perut nya sangat sakit, Kay mencoba menahan rasa sakit itu. Kini, Aini berbaring tak sadarkan diri di samping Kaynara.


"Dokter sudah memberitahu kita untuk tidak menyebut tentang masa lalu Aini dahulu, walau hanya nama. Biarkan dia mengingat semua nya dengan sendiri nya." ujar Kay dengan lembut kepada Rangga


Rangga begitu menyesal, mengapa ia tidak bisa mengontrol emosional nya. Walau ia sangat ingin memanggil nama asli adik nya namun lihat lah karena tindakan nya adik nya tidak sadarkan diri seperti ini.


Rangga di hadapkan langsung dengan ke dua wanita yang dia cinta sama-sama sakit seperti ini, merasa tidak berguna nya dia sebagai kakak dan juga suami.


Kay memberikan minyak kayu putih di hidung Aini agar Aini bisa mengirup harum itu. Tak lama, Aini pun tersadar. Aini membuka mata nya perlahan, ia melihat itu bukan lah kamar nya.


"Hati-hati." Rangga memegang bahu adik nya. Aini mengangguk, dan bangkit untuk duduk secara perlahan.


"Kak, kepala ku sangat sakit. Aku sekilas mengingat kejadian samar."


"Sudah jangan di pikirkan lagi, ya? Kakak mintak maaf karena sudah membuat mu seperti ini."


"Kak, siapa Kimmy? Mengapa nama itu tidak asing untukku?"


Rangga tidak menjawab, ia hanya meminta adik nya untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal yang tidak perlu di pikirkan.


"Kak apakah Kimmy namaku?" tanya Aini kembali, Rangga masih diam membisu, bukan nya ia tidak mau memberitahu adik nya namun Rangga takut jika adik nya kembali bereaksi seperti tadi.


"Nama kamu Aini. Kakak hanya salah manggil saja, sudah jangan di pikirkan. Nanti, kamu akan ingat dengan sendiri nya." ujar Kaynara memberikan pengertian kepada Aini. Aini menoleh ke arah Kaynara, ia mengingat jika Kaynara juga sakit.


"Kay, gimana perut kamu? Udah baikan?" Aini memegang perut kaynara dengan lembut.


Sayang, jangan buat mama merasakan sakit lagi ya nak? Kasihan mama nya.


Aini pun berbicara kepada anak yang ada di kandungan Kaynara. Seakan anak itu memberikan reaksi, perut kaynara pun bergerak dengan perlahan.


Mereka melihat itu lalu tertawa, akhir nya ketegangan yang terjadi berubah menjadi kebahagiaan karena anak yang ada di dalam perut kaynara aktif bergerak.