
"Hey, mengapa kau melamun?" tanya Aini. Kaynara pun menggeleng.
"Tidak!"
"Apa kau berfikir bahwa aku lebih beruntung dan kau ingin kau saja yang memiliki amnesia?" sidik Aini pada Kaynara.
Mengapa dia bisa tahu...?
"Tidak! mengapa kau menjadi orang yang sok tahu?"
"Jangan berbohong pada ku, aku bisa membawa jiwa manusia loh."
"Jika bisa memilih, lebih baik aku amnesia Ai. Jadi aku tidak harus mengingat masa masa sulit ku dahulu."
"Hey, dengar ya! tidak enak menjadi aku, apapun tentang diri sendiri tidak paham. Lalu, jika suatu saat aku mengingat segala nya, pasti ada hal yang juga menyakit kan. Aku juga akan merasa sedih. Sedang kan kau, akan pulih seiring dengan berjalan nya waktu. Tidak ada beda nya bukan? hanya menunggu waktu saja. Di mana kau akan baik-baik saja dan ikhlas menerima kenyataan. Sedang kan aku? aku akan menangis mengingat segala kenangan buruk." ucap Aini mencoba menghibur Kaynara.
"Sudah waktu nya kau minum obat. Minum lah ini." Aini memberikan beberapa tablet obat pada Kay. Dan menyuruh nya untuk minum.
"Kay, aku harus segera pulang. Karena sudah ada janji kepada Ibu ku. hari ini ibu ku ulang tahun."
"Benar kah? selamat ulang tahun ya. Aku titip salam untuk ibu mu, dan ucap kan terimakasih karena sudah baik kepada ku. Memasak makanann setiap hari untuk ku."
"Nanti akan aku sampai kan. Kau tidur lah istirahat, aku akan pulang setelah kau tidur."
"Pulang lah sekarang. Ibu mu pasti sudah menunggu mu."
"Tidak bisa, Kay. Aku harus menjaga mu sampai kau benar benar minum obat dan istirahat dengan cukup."
"Baik lah, aku akan tidur. Kau pergi lah!"
"Aku akan pergi setelah kau tidur."
"Kau keras kepala sekali ternyata ya. Baik..! baik...! aku akan tidur!" Kaynara pun membaring kan tubuh nya lalu memejam kan mata hingga terlelap. Setelah memasti kan Kaynara tidur dengan lelap. Aini pun pergi meninggal kan Kaynara untuk segera pulang.
*******
Aini membeli kan kue ulang tahun untuk Ibu nya di tokoh kue. Mata nya tertuju pada redvelvet yang sangat menyedap kan itu. Aini memesan Cake redvelvet yang sedang untuk ibu nya.
"Semoga ibu suka." batin nya. Dengan penuh semangat Aini kembali pulang ke rumah.
"Ibu."
"Kamu udah pulang? kenapa cepat sekali?
"Tadi Aini sudah izin dengan dokter Clara. Selamat ulang tahun, Bu." Aini dan Ibu nya pun memotong kue bersama.
***
Rangga ingin menjenguk Kay
"Aku ingin memasak sesuatu untuk nya." Rangga pun ke pasar membeli keperluan apa yang ingin dia masak, Rangga pria mandiri dia pun sangat pintar memasak.
"Tidak usah heran mah kalau dia! udah biasa." jawab salah satu langganan Rangga jika berbelanja.
"Suami idaman banget ya." Rangga hanya tersenyum Setelah membeli segala keperluan untuk memasak, Rangga kembali ke rumah nya untuk memasak. Dengan sepenuh hati Rangga memasak sup yang di bumbui penuh cinta.
"Sudah selesai." Rangga pun langsung memindah kan makanan yang ia masak tadi ke dalam mangkuk. Sebelum menemui Kay, Rangga bersiap siap terlebih dahulu.
"Sudah ganteng, waktu nya berangkat." ucap nya bersemangat. Tanpa menunggu waktu lama, Rangga langsung menuju ke rumah sakit yang merawat Kaynara.
Rangga masuk ke dalam ruangan, terlihat Kay yang sedang melamun. Mendengar suara seseorang masuk, Kay menoleh dan tersenyum melihat Rangga yang datang.
"Hai." sapa Kaynara, Rangga pun mendekati wanita yang sebentar lagi menjadi isteri nya.
"In-ini aku tadi membeli makanan untuk mu." ucap Rangga berbohong, ia malu jika harus berkata diri nya yang memasak makanan itu.
"Terimakasih."
"Makan lah sekarang! sup nya masih panas, pasti enak."
"Baik lah." Rangga pun membuka rantang dan memberikan sup untuk Kaynara. Ia menyuapi Kay dengan sepenuh hati. Awal nya Kaynara menolak namun Rangga tetap keras kepala dan tetap menyuapi Kaynara.
Kaynara merasa menjadi seorang ratu, untuk pertama kali nya ia merasakan di perlakukan dengan lembut oleh seorang pria. Diri nya pun begitu terharu.
"Andai Mama, Papa, Kakek dan Nenek masih ada di sini. Kalian pasti akan bahagia melihat seorang Pria yang begitu baik padaku." batin Kaynara.
"Sup nya sangat enak." puji Kaynara, tiba-tiba wajah Rangga memerah. Ia menahan kebahagiaan, di dalam hati nya begitu senang ingin rasanya ia berteriak dan memamerkan bahwa ini masakan nya. Namun, Rangga menahan dan mencoba bersikap biasa saja.
"Kau membeli nya di mana? kenapa bisa pakai rantang?"
"Karena aku sengaja membawa rantang dan menyuruh penjual nya meletak kan di rantang." jawab Rangga.
"Lain kali aku akan membeli nya, sup nya sangat lezat."
"Iya, setelah kau sembuh. Kau bisa makan sepuas nya kapan pun kau ingin. Sekarang makan lah dahulu." Rangga kembali menyuapi Kaynara dengan sepenuh hati dan kasih sayang.
"Boleh aku berkata sesuatu?" tanya Kaynara
"Silah kan."
"Apa menarik nya diri ku? maksud ku, mengapa kau ingin meng korban kan diri mu hanya untuk ku?" Rangga pun terdiam mendengar pertanyaan dari Kaynara.
"Maaf, bukan aku tidak tahu terimakasih. Hanya saja, aku tak ingin."
"Sudah lah! hal itu tidak usah di bahas. Habis kan makanan mu dan pikir kan kesehatan mu. Tidak usah memikir kan hal yang lain." sambung Rangga. Kay pun hanya terdiam dan menerima suapan demi suapan yang di berikan oleh Rangga. Setelah makan, Rangga memberikan obat untuk Kay.
"Minum lah obat nya." Rangga memberi kan obat dan segelas air putih, Kay pun menerima dan meminum obat tersebut, lalu meminum segelas air putih yang di beri kan oleh Rangga. Di dalam obat itu terdapat obat tidur yang membuat Kay mengantuk. Mata nya terasa sangat berat, Dokter Clara sengaja memberi kan obat tidur agar Kay bisa istirahat dengan cukup. Dokter Clara melihat dari Cctv bahwa Kaynara sering tidak tidur dan hanya kebanyakan melamun. Sebab dari itu ia memberikan obat yang tercampur obat tidur.
"Kamu tidur dan istirahat lah, aku harus pulang dan kembali bekerja." ucap Rangga, Kay pun menurut tanpa waktu lama Kay langsung memejam kan mata nya. Melihat Kaynara yang sudah tidur, Rangga membelai pipi Kaynara dengan lembut. Setelah puas dengan pipi Kay, Rangga bergegas pergi meninggal kan Kaynara seorang diri.
Rangga berjalan membawa Rantang bekas makanan tadi, Rangga menerima telepon dari seseorang. Melihat nama di layar ponsel nya membuat senyum Rangga mengembang. Terlihat harapan di mata nya.