Kaynara

Kaynara
Berusaha



Kay sedikit menggesser wajah nya dari tubuh Rangga, ia pun menyengir malu kepada perawat.


"Ki-kita mau buat cake kok, nggak ngapa-ngapain juga." ucap Kay seakan menutupi perbuatan mereka.


"Iya, kalian nggak ngapa-ngapain, saya pamit." seakan menyindir ke dua pengantin baru ini. Perawat itu pun berjalan meninggalkan mereka sambil tersenyum.


"Baik lah, aku akan menyiap kan bahan-bahan dulu." ujar Kay. Perasaan nya sedikit sedih karena makanan yang ia masak tadi gosong.


"Sudah tidak apa. Kan bisa di buat lagi?"


"Iya, tetapi.. aku sudah bersusah payah membuat nya untuk mu. Kita juga mau membuat cupcake namun makanan untuk kau sarapan tidak ada?" wajah Kay pun bersedih, Rangga mendongak kan wajah isteri nya.


"Sudah, tidak apa. Kita akan memasak bersama, atau begini saja. Kau duduk lah di sini! biar aku yang sekarang memasak untuk mu." Rangga menduduk kan tubuh Kay ke tempat duduk.


"Tidak! ini tidak benar! seharus nya aku yang memasak bukan kau."


"Apa beda nya kau dengan aku?" tanya Rangga dengan serius. Akhir nya, Kay pun mengalah. Rangga menyiap kan hidangan sesuatu untuk isteri kesayangan nya.


"Aroma makanan mu sangat menggugah selera makan ku. Aku jadi ingin makan yang banyak." ujar Kay kepada Rangga. Kaynara menyicipi masakan suami nya dan memang ternyata masakan suami nya sangat lezat.


"Ternyata kau sangat pintar memasak, bahkan aku tidak sepintar diri mu." puji Kay terhadap Rangga.


"Sudah, jangan memuji ku seperti ini. Aku hanya memasak hal yang biasa saja. Aku lihat, di kulkas ada sayuran jadi aku memasak untuk mu. Apa kau tahu, Kay. Aku ini adalah pria kampung yang tidak menyukai masakan luar. Aku lebih menyukai masakan Indonesia saja."


"Aku juga tidak terlalu menyukai makanan di sini. Iya, aku akuin, dahulu aku itu adalah anak yang sangat manja. Tetapi, ketika kepergian keluarga ku, aku selalu mengerjakan apapun sendiri. Bahkan, aku tak pernah merasakan makanan-makanan lezat." Wajah Kaynara terlihat sedih, Rangga langsung memeluk Kaynara.


"Sudah, jangan mengingat hal yang membuat mu semakin terluka. Yang lalu, biar lah berlalu. Ingat! kau dan aku, kita akan melanjut kan hidup untuk anak kita." Rangga mengelus perut Kaynara dengan lembut.


"Jangan hantui masa depan anak kita dengan masa lalu yang telah menyakiti kita. Kau, aku, anak kita berhak bahagia. Jangan ingat masalalu! jika kau terus berada di titik itu. Anak kita akan menderita nanti nya. Kay, aku mohon! bangkit dan berjuang lah untuk kebahagiaan mu dan anak kita. Berperang lah, kalah kan segala kepedihan mu." Rangga terus berusaha membuat isteri nya bangkit. Rangga sadar, seberusaha apapun ia membantu Kaynara. Jika, Kaynara tidak mau berusaha semua akan sia-sia.


"Jika tidak diri mu sendiri yang berjuang melawan rasa sakit dan trauma mu. Siapa lagi? ribuan psikolog juga tak akan mampu mengobati jika kau sendiri tak mau berusaha."