
Aini tahu jika kata-kata Kaynara itu benar. Namun, ia juga tidak bisa jauh dari Clara.
"Bagaimana jika kita pulang saja ke tanah air?" ajak Aini kepada Kaynara. Kay pun menimbang ucapan dari adik ipar nya.
"Ak-aku akan membicarakan itu kepada Rangga nanti. Sudah jangan menangis lagi ya?" bujuk Kaynara mencoba menghibur Aini. Aini pun mengiyakan ucapan Kaynara
******
Pada malam hari, Kay mendekati suami nya yang baru pulang entah dari mana.
"Ada yang mau aku bicarakan." ujar Kay sambil memijit bahu suami nya.
"Katakan saja."
"Em, begini. Ap-apa sebaiknya kita pulang saja ke Indonesia? Mak-maksud ku, kita sudah cukup lama di sini. Dan aku rasa kita sudah bisa kembali. Aku merindukan Ibu, Ayah, kak Caca dan juga kak Shinta."
"Tidak bisa!" ujar nya lalu bangkit, meninggalkan kamar dan Kaynara seorang diri.
Rangga berfikir, bukan ia tak mau kembali ke tanah air. Namun, Rangga memikirkan keselamatan Kaynara.
Bagaimana jika Ryan masih saja mencari keberadaan kami dan akan melukai mu?
Rangga pun memilih duduk di dapur, mengambil segelas air minum. Aini menghampiri kakak nya
"Mengapa melamun kak?" Rangga menoleh ke arah sang adik, ia pun menggeleng kan kepala nya "Kakak ipar mu meminta kita kembali ke tanah air."
Terlihat senyuman bahagia di wajah Aini, ternyata Kaynara menepati janji nya.
"Lalu? Kita akan kembali ke Indonesia?"
"Tidak!"
"Kakak ipar mu sedang mengandung, dan perjalanan kita tidak sebentar. Tidak baik bagi nya untuk berlama-lama di perjalanan." ucap Rangga kembali memberikan penjelasan kepada adik nya, ia tahu jika Aini juga menginginkan alasan ia menolak kembali ke tanah air sekarang.
Aini hanya bisa mengangguk, walau hati nya sedih ia tak mau menjadi egois dengan kepentingan nya.
"Setelah kakak ipar melahirkan, kami akan kembali ke tanah air. Dan, aku bisa kembali bertemu dengan Clara." batin nya..
Aini berpamitan kepada Rangga untuk kembali ke kamar, Rangga pun mengiyakan ucapan adik nya. Sebelum Aini beranjak pergi, Rangga bertanya kepada sang adik apakah diri nya sudah makan atau belum.
Aini sambil tersenyum mengatakan jika diri nya sudah makan, ia senang karena saudara nya itu begitu perduli dengan diri nya.
"Sudah kak, aku sudah makan tadi. Apakah kakak sudah makan?" tanya Aini kembali kepada Rangga. Rangga menggelengkan kepala nya.
Ia belum makan karena juga baru pulang dari luar, Aini berfikir jika Kaynara tidak perduli dengan kakak nya sehingga tidak memperhatikan sang kakak. Ia pun mengambil inisiatif untuk memasak makanan untuk kakak nya.
"Biar aku masakan makanan untuk kakak ya?"
"Tidak perlu repot-repot, kakak juga tidak terlalu lapar."
"Sudah kak, jangan membantah lagi. Akan aku masak makanan untuk kakak."
Rangga menatap adik nya yang sedang sibuk dengan peralatan masak, ia merindukan adik nya. Walau saat ini Kimberly sedang hilang ingatan, namun Rangga masih mengingat kenangan mereka sewaktu kecil walau itu tak berlangsung lama.
Kaynara datang, ia meminta maaf kepada Aini dan juga Rangga karena telat memberikan makan untuk suami nya, Ia pun mengambil makanan yang ada di lemari yang sudah ia siapkan dari tadi.
"Tadi aku sudah memasak nya namun aku lupa memberitahu mu." ujar Kay kepada suami nya. Rangga pun mengangguk, memaklumi sang isteri.
"Lalu bagaimana? Aku juga sudah siap masak?" tanya Aini dengan sedikit merasa kecewa, mengapa Kay tidak mengatakan nya jika begitu masakan nya akan terbuang.
"Sudah jangan bingung, kebetulan aku sangat lapar. Dan aku akan menghabiskan makanan yang telah kalian dua masak." ujar Rangga yang tak ingin membuat isteri dan adik nya merasa sedih.