Kaynara

Kaynara
Surat Perceraian



Ryan mendekat ke arah Jo, ia mengira jika Jo begitu membela Clara "Apa kau mencintainya?"


Pertanyaan itu berhasil membuat Jo bungkam sejenak, ia ragu untuk menjawab. Namun bukan kah sebagi pria sejati dirinya harus mengakui perasaannya? "Iya, Tuan!" Jo mengatakannya tanpa ragu.


Mendengar itu, Ryan begitu kesal. Namun ia tidak bisa menyalahkan tentang perasaan.


"Mengapa harus dia?" Jo pun menggeleng, ia pun tidak tahu, dirinya yang begitu sulit jatuh hati justru begitu gampang melabuhkan hatinya kepada Clara "Jo, aku sangat mengenal dirimu!"


"Maafkan saya, Tuan! Saya pun tidak mengerti dengan apa yang saya rasakan. Namun Tuan jangan khawatir! Biarkan itu perasaan saya pendam sendiri. Saya tidak akan terbawa perasaan dengannya!"


Bagaimana bisa tidak terbawa perasaan jika Jo sudah mencintai Clara? Ryan yang kesal langsung meninggalkan Jo seorang diri. Ungkapan hati Jo, membuat Ryan merasa kecewa.


Dia tidak melarang anak buahnya untuk jatuh cinta, namun mengapa harus dengan Clara?


*******


Kaynara berencana akan menyatukan kakak dan beradik itu.


"Walau sulit, aku akan berusaha!" batin Kaynara, Clara wanita yang baik. Ia berhak mendapatkan kebahagiaan dan kasih sayang dari keluarganya.


Kaynara kini sudah bisa kembali pulang, Kaynara mengajak Clara untuk tinggal bersamanya. "Tinggal lah bersamaku!"


Clara menggeleng, ia tak enak hati jika harus menumpang kepada Kaynara apalagi Kaynara baru mengalami duka.


"Tidak, Kay! Aku akan menyewa apartemen dekat sini. Aku berjanji akan berkunjung tempat mu setiap hari." Clara tersenyum kepada Kaynara namun Kaynara memaksa


"Tinggal lah bersamaku Clara! Di Negeri orang aku hanyalah seorang diri, dan kau tahu. Jika aku baru saja kehilangan anakku," Kay menangis saat mengingat anaknya yang telah tiada.


Clara yang tak enak hati pun mengikuti permintaan dari Kaynara. "Baik lah, aku akan tinggal bersamamu. Namun tidak gratis, aku akan membayarnya setiap bulan. Bagaimana?"


Kaynara hanya mengangguk "Aku berharap, kau tidak melakukan itu. Namun jika kau tidak mau berhutang Budi kepada ku, baik lah. Kau bisa membayarnya untukku di setiap bulan. Namun jangan di paksa kan ya?"


******


Keduanya pun sudah sampai di apartemen itu, Kaynara menunjukkan kamar untuk Clara "Ini kamar Aini dulunya, kau bisa tidur di sini."


Namun Clara melihat jika tidak ada satu pun album gambar Aini dan juga Rangga. Mungkin salah satu cara Kaynara agar melupakan masa lalunya "Aku, ak-aku,"


"Sudah lah, Kay! Aku mengerti, dan kau memiliki cara yang menurutmu terbaik!"


Kaynara tersenyum, Kaynara juga memajang gambar anaknya yang sudah tiada. "Ini pemberian dari Ryan, ia mencetak bingkai anakku, lebih tepatnya Tuan Jo. Aku sangat berterima kepadanya, dia memahami hatiku!"


Clara tersenyum, ia merasa sakit saat mengetahui saat Jo begitu perhatian kepada Kaynara. Kaynara memang wanita yang begitu lembut dan baik, wajar jika banyak orang yang menyayanginya.


Namun mengapa Clara merasa cemburu? Clara menepis rasa cemburunya.


Bel berbunyi, Kaynara melihat siapa yang datang. Clara pun mengikuti Kay. Saat Kaynara membuka pintu, terlihat seorang pria paru baya. Terlihat dari penampilannya itu adalah seorang pengacara.


Clara tahu, itu adalah pengacara keluarga Kimmy.


"Paman" Clara menyapa pengacara itu dengan baik, lelaki itu pun tersenyum. Namun menatap Kaynara dengan sinis.


"Nona Kaynara, ini surat yang harus anda tanda tangani!"


Kaynara mengambil amplop cokelat yang berisi kertas, ia membacanya


Itu adalah surat perceraian, belum saja luka Kaynara sembuh, Rangga membuat luka baru untuknya. Ia menatap surat perceraian itu dengan mata yang penuh banyak arti


Kaynara mengajak pengacara Rangga untuk masuk, namun pria itu menolak dengan halus. Ia hanya meminta Kaynara segera menandatangani surat perceraian itu, dengan berat hati. Kaynara pun menandatanganinya! Lalu memberikan surat itu kembali kepada pengacara, dengan cepat. Pengacara mengambil dari tangan Kaynara, ia pun berpamitan untuk segera pergi.