Kaynara

Kaynara
Salah tingkah



"Kau semakin cantik jika gugup seperti itu!" puji Rangga kembali membuat kaynara semakin salah tingkah. Rangga hanya tertawa melihat kegugupan calon isteri nya.


"Setelah kepulangan mu dari rumah sakit, aku ingin kita segera menikah secepat nya. Kay, aku bukan lah pria yang kaya raya. Aku hanya lah pria yang selalu bekerja keras untuk memenuhi segala kebutuhan hidup. Tapi aku berjanji, akan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mu dan juga anak kita. Kay, aku tahu! kita menikah bukan karena cinta dan sebelum nya kita bukan lah kedua pasang kekasih yang saling mengenal satu sama lain. Tapi, aku berharap agar kita bisa saling menghargai satu sama lain. Aku berharap, kita bisa membesar kan anak ini dan dia tak akan pernah merasakan kekurangan kasih sayang dari kedua orang tua nya. Kay, berjanji lah! apapun yang terjadi jangan pernah memberitahu anak ini siapa dia, latar belakang kehidupan nya. Ia harus tahu bahwa dia anak kita berdua. Kay, jika kita tidak saling mencintai tetapi aku berharap kita bisa hidup layak nya sebagai teman." Kaynara merasa sangat terharu dan menetes kan air mata nya.


"Mengapa, kau sebaik ini pada ku? padahal kita tidak saling mengenal sebelum nya."


"Tidak penting itu, Kay. Aku tahu, ini semua tidak mudah bagi mu. Tapi, jangan terlalu berlarut dalam kesedihan, Kay." Rangga menggenggam tangan Kaynara yang dingin dan gemetar.


"Aku tahu ini tidak mudah untuk mu. Namun, agar bisa membesar kan anak ini dengan baik, kau harus bisa keluar dari titik terlemah mu ini! Jangan terlalu berlarut, Kay! percaya lah. Akan ada hal indah di balik ini semua. Kau mungkin tidak bisa mengembali kan keadaan semula, tapi kau bisa mengubah nya menjadi lebih baik. Hidup ini pilihan, Kay. Dan aku tidak ingin kau hancur terus menerus, aku tidak ingin kau terus hancur seperti ini, Kay." Kaynara tidak mampu mengucap kan kata apapun lagi, ia hanya bisa menetes kan air mata nya.


"Kay, bangkit lah! jika tidak untuk diri mu setidak nya untuk anak yang ada di kandungan mu! Jangan hancur kan dia karena sikap mu, jangan! Jangan rusak mental nya kelak, jangan hancur kan kehidupan nya. Kau harus tetap bangkit untuk diri nya kelak! Dia tidak salah dan tidak tahu apapun, Kay. Jangan libat kan dia lagi!"


"Kau harus tetap bangkit untuk dia, jangan terus terusan begini, Kay. Aku tidak bisa merubah mu atau menghapus luka mu. Tapi, aku akan berusaha yang terbaik untuk kebahagiaan mu dan anak kita kelak. Kay, aku memang bukan lah pria kaya tetapi aku akan berusaha untuk memenuhi semua kebutuhan mu dan juga anak kita. Aku akan bekerja keras untuk kalian. Semua pekerjaan akan aku lakukan untuk kalian yang penting pekerjaan itu halal dan berkah untuk kita. Mungkin kelak, anak kita tidak bisa merasakan kemewahan yang berlimpah, tetapi aku akan berusaha untuk membuat diri nya tidak pernah kekurangan. Tidak akan aku biar kan kalian menderita!" Kaynara menangis dan memeluk erat tubuh Rangga.


"Aku tidak tahu apa rencana mu pada mu Tuhan, tapi aku tau Tuhan itu baik! terimakasih Tuhan, di saat aku berada di titik terlemah seperti ini. Kau mengirim kan pria baik ini untuk ku. Terimakasih Tuhan." batin kaynara dan memeluk Rangga dengan erat.


*********


Begitu banyak luka, kerapuhan, air mata yang Kaynara tutupi. Dia bisa terlihat tenang dan baik-baik saja di depan semua orang. Waktu demi waktu Kaynara bisa mengontrol diri nya. Walau terkadang di tengah malam, ia selalu menangis dalam sepi nya. Bahkan Kay selalu bergantung pada obat penenang untuk membuat diri nya tidak depresi. Wanita mana yang bisa melupakan hal yang tragis. Tidak mudah untuk Kaynara melupakan semua itu.


Semenjak keluarga nya di bunuh, Kay sendirian. Tidak ada siapapun yang menemani diri nya. Ia memilih untuk menyendiri dan tak berteman. Bagi nya pertemanan hanya membuat diri nya sakit hati seperti pertemanan nya bersama Kimmy. Kaynara mengingat masa bahagia nya dahulu bersama Kimmy.


Hari ini Kaynara sudah bisa pulang, dia pun pulang bersama Kedua orang tua Shinta. Sesampai di rumah, mereka makan bersama.


"Ini waktu yang tepat untuk membahas pernikahan Kaynara."


"Ap-apa ini ti-tidak terlalu cepat?" tanya nya gugup, sampai saat ini Kay bingung dengan hati nya. Apakah dia sudah mencintai Rangga atau hanya karena kebaikan Rangga saja?


"Sayang, semakin cepat itu semakin bagus."


"Terserah kalian saja, aku percaya kan semua nya pada kalian." ucap Kaynara. Lagipula keputusan apa yang harus ia ambil? bahkan dia sendiri tidak tau apa yang baik dan tidak untuk diri nya. Saat ini, Kay hanya memikir kan tentang anak yang ada di rahim nya. Ia tak ingin anak nya lahir dan menjalani kehidupan tanpa seorang Ayah. Kay tidak ingin anak nya hidup menderita seperti diri nya. Cukup dia saja yang sudah sangat menderita.


*******


Di perjalanan pulang, Rangga tersenyum tidak jelas. Ia pun melajukan motor nya dengan perasaan bahagia. Kini, Rangga sudah menyadari perasaan nya pada Kay. Ia ingin pernikahan ini segera di langsung kan. Memang Rangga hanya lah pria sederhana bukan pria kaya seperti Revan dan Arvan. Namun, dia berjanji akan selalu membuat Kaynara merasakan kebahagiaan. Sebelum nya Rangga juga sudah berdiskusi pada Kay. Ia tak sanggup membelikan rumah mewah seperti yang di tempati kedua kakak Kaynara saat ini. Tetapi ia berjanji akan berusaha sebisa mungkin untuk membuat Kay dan anak nya merasa nyaman tanpa harus kekurangan sama sekali. Rangga sampai di bengkel kerjaan nya. Iya, semua perkerjaan apapun itu Rangga lakukan. Asal itu perkerjaan yang baik. Rangga memperbaiki motor seseorang. Namun, saat memperbaiki motor tersebut dia selalu tersenyum dan membayang kan wajah manis Kaynara. Suara merdu dan juga senyuman dengan tatapan teduh nya.


"Awas gila bro!" tegur teman Rangga yang sama seperti diri nya bekerja di bengkel tersebut.


"Lagi jatuh cinta ya?" ledek teman nya lagi. Rangga pun menoleh ke arah teman nya.


."Siapa nama gadis itu?"


"Kaynara. Wanita yang memiliki rupa dan hati yang lembut seperti malaikat. Dia juga sangat cuek, namun senyuman dan tatapan teduh nya membuat siapapun yang melihat akan terpesona." ucap Rangga tanpa sadar.


"Hai teman, ayo lah! sejak kapan kau menjadi sangat puitis seperti ini?" ucap salah satu teman nya yang lain.


"Ah, maksud nya tidak seperti itu." Rangga pun merasa salah tingkah. Kedua teman nya tertawa melihat Rangga yang salah tingkah.