
Ryan beserta orang-orang suruhan nya mencari alamat Rangga. Ryan mendapat kan informasi bahwa Rangga dan Kaynara tinggal bersama keluarga angkat Kaynara. Ryan juga mengetahui hal yang menimpa Kaynara membuat diri nya mengeram kan kedua tangan nya, emosi nya meningkat.
"Cari wanita iblis itu!" perintah Ryan kepada orang suruhan nya.
"Aku tak akan mengampuni mu sekaligus kau seorang wanita."
Ryan berjalan dengan langkah kaki yang cepat
Bruk...!
"Ma-maf, aku tak melihat." ternyata itu Aini, sahabat baru Kaynara. Ryan membuka kaca mata nya.
"Maaf." Aini pun segera pergi meninggal kan Ryan. Ryan menoleh ke belakang memandangi wanita yang berjalan perlahan menjauhi diri nya. Membuka kaca mata hitam nya
"Dasar wanita tidak berguna!" gumam nya. Di sisi lain, Aini berjalan dengan perasaan yang tak menentu. Ia baru saja kehilangan mama yang begitu ia cintai, walau itu hanya lah ibu angkat nya. Aini menghapus air mata nya dan terus melanjut kan langkah kaki nya.
"Di mana aku harus mencari dia." ucap nya bingung, semenjak mama nya meninggal. Aini jarang pulang ke rumah, ia lebih sering di luar rumah berjalan tak tau arah. Ia mencari saudara yang di maksud oleh mama angkat sebelum meninggal. Ia pun tak pernah lagi memegang ponsel milik nya, sebab itu tak tahu jika Kaynara terus menghubungi diri nya.
"Aini." panggil seorang wanita dari belakang, Aini menoleh. Itu adalah Clara, sahabat sekaligus atasan tempat ia bekerja. Clara berlari mendekati diri nya
"Kau dari mana saja? aku mencari mu, aku begitu khawatir pada mu."
"Aku sedang mencari saudara ku. Hanya dia yang aku punya, Ra!"
"Tenang lah, Aini! aku berjanji akan membantu mu mencari dia. Tapi, aku mohon, jangan pernah pergi sendirian lagi. Pikiran mu saat ini lagi kacau."
"Hidup ku juga kacau, Ra." Aini ringis. Seakan ada makna dari ucapan nya.
"Ai, jangan berkata seperti itu!"
"Apa yang salah dari ucapan ku? semua nya benar kan?"
"Sudah, mari kita pulang!" ajak Clara, ia mengerti perasaan sahabat nya. Tak mau berdebat, saat ini ia harus membawa Aini pulang ke rumah. Aini pun menuruti sahabat nya Clara. Namun, di tengah jalan. Clara bertemu dengan Ryan, kakak tiri nya.
"Kau, sedang apa di sini?" tanya Clara pada Ryan. Namun, Ryan tak menggubris ucapan adik tiri nya. Ia berjalan meninggal kan Clara dan Aini.
"Pria itu." ucap Aini
"Kau mengenal nya?"
"Tidak! aku tadi dia sengaja menabrak diri nya."
"Oh." Clara pun mengangguk mengerti, mereka pun melanjut kan langkah mereka.
"Apa kau mengenal nya?"
"Sangat." Clara pun menghenti kan langkah nya, wajah nya sedikit murung.
"Ada apa, Ra? siapa dia? apa dia mantan kekasih mu?"
"Bukan, dia kakak ku."
"Kakak? dia kakak yang selama ini kau cerita kan?" tanya Aini. Clara pun mengangguk, Aini mencoba menghibur sahabat nya.
Apakah saudara ku akan memiliki sifat dan sikap seperti itu kepada ku? ~ batin Aini.
"Aku sangat menyayangi nya, aku ingin kita tinggal bersama. Namun, dia tak bisa menerima ku." ucap Clara bersedih.
"Sudah lah! mengapa kita saling bersedih?" Clara dan Aini pun tertawa di sepanjang jalanan.
"Tidak terasa kita sudah sampai." ucap Clara, Aini pun tersenyum. Kedua nya masuk ke dalam rumah Aini
"Duduk lah! aku akan membuat kan minuman untuk mu." ucap Aini. Aini segera ke dapur untuk menghidang kan makanan dan minuman untuk sahabat nya. Clara pun duduk di sofa, melihat sebuah bingkai di meja. Clara bangkit berjalan mendekati meja itu, ia melihat Poto Aini bersama mama nya. Terlihat di dalam gambar itu Aini begitu sangat bahagia mencium mama angkat nya.
"Itu sewaktu mama ulang tahun dua tahun yang lalu. Kami mengambil gambar untuk mengabadikan momen." Clara terkejut kan oleh suara Aini di belakang membawa hidangan makanan serta minuman. Clara meletak kan bingkai itu ke tempat semula.
"Mengapa kau harus repot mempersiap kan nya?" tanya Clara yang mendekati Aini.
"Lalu, apalagi yang harus aku lakukan?"
"Sudah lah, mari kita duduk bersama."
Aini pun melirik ke arah bingkai photo yang berada di atas meja.
"Maaf, aku sudah lancang memegang barang-barangmu."
"Tidak masalah, Ra!" Aini dan Clara pun duduk di sofa.
"Kemana aku harus mencari nya?" Aini terlihat sangat frustasi.
"Tenang lah, aku akan membantu mu." Aini mengangguk dan meneguk segelas teh milik nya.
"Kapan aku bisa kembali mengingat identitas ku, Ra?" hidung Aini memerah, mata nya sudah berkaca-kaca.
"Aku berdoa agar ingatan mu segera kembali secepat nya." Clara memegang bahu Aini dengan lembut, ia juga merasa sedih dengan apa yang di alami sahabat nya. Namun, apa yang bisa ia lakukan? ia pun sudah berusaha sebaik mungkin. Bahkan meminta bantuan pada teman-teman nya yang Dokter. Namun, tidak ada hasil juga.
"Rutin lah minum obat mu, mudah-mudahan dengan obat itu. Ingatan mu segera pulih."
"Aku sudah bertahun-tahun meminum nya. Namun, tidak ada hasil, Ra. Bahkan, aku sangat muak dengan obat-obatan itu."
"Aku juga bingung, biasa nya pasien yang menderita seperti mu meminum obat itu sebentar ingatan nya kembali dengan cepat. Jika lama, hanya butuh waktu satu tahun. Tetapi kau, sudah mengkonsumsi nya selama beberapa tahun. Tetapi, tidak ada hasil." Clara pun merasa sangat bingung.
"Entah lah, aku juga bingung."
"Apa jangan-jangan?"
"Jangan-jangan apa?" tanya Aini yang menatap Clara serius.
"Apa mama mu mengganti."
"Itu tidak mungkin, Ra! mama ku bukan lah orang seperti itu. Aku tidak suka jika kau berkata buruk pada mama ku!" nada Aini meninggi. Dia begitu sangat menyayangi dan mencintai mama angkat nya. Bagaimana pun, mama nya yang sudah menjaga dan merawat nya dengan penuh kasih sayang.
"Ma-maaf kan aku, aku tidak bermaksud seperti itu, Aini. Maaf kan aku ya?"
"Baik lah, aku memaaf kan mu kali ini. Namun, jika kau berkata yang buruk lagi tentang mama ku, aku tak akan mau berbicara lagi pada mu!"
"Aku janji tak akan berkata buruk pada Mama mu. Maaf kan aku, Aini. Mungkin saja memang obat itu tidak berpengaruh pada mu. Karena setiap orang memiliki reaksi tubuh yang berbeda." ucap Clara memecah kan ketegangan.
Ini gambar Aini bersama Mama angkat nya ya readers. Jangan lupa like, coment juga favorit kan biar ga ketinggalan update ya😘♥️