
Di perjalanan saat Clara ingin membeli sesuatu keperluan untuk diperjalanan, Clara bertemu dengan Kimmy.
Kimmy tersenyum kepadanya, ia pun membalas senyuman Kimmy.
"Kimmy, syukurlah kita bertemu. Aku ingin memberitahumu jika Kaynara sudah melahirkan dan anaknya,"
"Hentikan Clara! Aku tidak mau mendengar tentangnya lagi!"
Kimmy mengajak Clara untuk makan siang bersama, namun Clara menolak
"Maafkan aku Kimmy, lain kali saja. Aku ada urusan yang lebih penting!" Clara menjawab dengan ketus, ia semakin tidak mengenal sahabatnya Kimmy.
Mengapa Kimmy sekarang menjadi wanita yang tidak punya hati?
"Clara, kau tahu? Jika surat pengadilan perceraian kakakku dengan wanita itu sudah di proses. Pengacara keluargaku akan ke Paris untuk memberikan surat perceraian itu kepadanya, aku tidak sabar dan aku ingin"
Belum sempat Kimmy menyelesaikan ucapannya, Clara langsung memotong ucapan sahabatnya itu
"Maafkan aku Kimmy, aku harus segera pergi. Semoga kau bahagia selalu"
Setelah mengatakan itu, Clara segera pergi. Semakin mendengar ucapan Kimmy membuat Clara semakin sedih.
Saat ini Kaynara sedang berduka namun sahabatnya itu semakin melukai perasaannya.
Seperti luka yang di siram oleh cuka, semakin perih. Clara tidak bisa membayangkan jika Kaynara menerima surat perceraian itu hatinya pasti akan semakin rapuh.
Clara segera pergi ke Bandara.
*****
Ryan memegang tangan Kaynara dengan lembut, ia berharap Kaynara segera sadar.
Ryan bertanya kepada Dokter bagaimana membuat Kaynara bisa tenang? Tidak mungkin setiap saat dokter atau perawat menyuntikkan obat penenang.
Dokter mengatakan jika Kaynara membutuhkan seorang psikolog atau psikiater. Mentalnya saat ini tidak stabil, Ryan pun mengerti.
Ia menghubungi Jo untuk mencarikan psikiater terbaik di dunia untuk menangani Clara
Jo tidak mengangkat, dokter merekomendasikan psikiater terbaik di dunia
Psikiater itu akan melakukan penerbangan ke Paris.
Ryan tersenyum bahagia, ia berharap agar Psikiater tersebut mampu menyembuhkan luka baik di batin maupun mental Kaynara.
"Anakku!" Suara histeris kaynara membuat Ryan dan Dokter segera melihat keadaannya
"Kay" Ryan berlari mendekati Kaynara, kaynara masih histeris. Ia mengingat anaknya yang dinyatakan sudah tiada.
Hatinya sangat terpukul, Ryan memeluk kaynara dengan erat. Tidak ada penolakan dari Kaynara. Memang di saat seperti ini, Kaynara membutuhkan pelukan hangat dan dukungan dari orang sekitarnya.
Kaynara menangis, menumpahkan rasa sakitnya
"Tuan, kau tahu. An-anakku segalanya bagiku. Mengapa dia pergi, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi hiks!"
"Tenang lah, Kay! Jangan menangis, aku ada disini untukmu"
Ryan semakin memperdalam pelukannya, ia merasakan sakit yang luar biasa di dadanya, terasa begitu sesak.
Namun ia tidak bisa berbuat apapun, kepergian anaknya Kaynara itu diluar batas kemampuannya.
Andai ia bisa membuat bayi Kaynara hidup, ia akan melakukan itu. Namun dia pun tidak bisa melakukan apa-apa
Bahkan saat mamanya tiada, Ryan tidak berdaya.
"Tolong kembalikan anakku!" Kaynara menatap Ryan dengan begitu sendu. Terlihat di dalam matanya jika hatinya sangat hancur dan terluka.
"Maafkan aku, Kay. Aku tidak bisa melakukan apapun walau aku ingin"
Ryan menangis menatap mata Kaynara, hanya Kaynara yang bisa membuatnya menangis selain almarhum mamanya.
Kaynara memeluk Ryan kembali, ia merasa hancur. Semuanya sudah tidak ada gunanya.
"Aku bertahan hidup demi anakku, tapi mengapa dia pergi?"
"Aku tidak tahu, Kay. Semua sudah menjadi takdir dari Yang Maha Kuasa, aku juga tidak berdaya"
Entah mengapa, berada didalam pelukan Ryan membuat Kaynara merasa sedikit tenang. Ia berada dalam perlindungan