
Rangga mengelus rambut Kaynara dengan lembut, Kaynara mengerjap, mengangkat kepala nya untuk melihat Rangga.
"Bersih kan diri kamu, Kay. Setelah memakai pakaian ku, aku akan menunggu di bawah." ucap Rangga. Rangga pun beranjak meninggal kan Kaynara dan memakai pakaian nya untuk bersiap bekerja. Ryan tidak tahu bahwa semalam pernikahan diri nya bersama Kaynara. Pasti diri nya menunggu Rangga. Setelah berpakaian, Rangga mengecup kening Kaynara terlebih dahulu lalu bergegas keluar dari kamar.
Rangga pun menuju ruang makan, semua sudah menunggu mereka untuk sarapan bersama. Tidak lama kemudian, Kaynara pun menyusul. Kay duduk di samping Rangga.
Semua makan dengan tenang, Revan pun membuka pembicaraan telebih dahulu.
"Ini, hadiah pernikahan untuk kalian." Revan memberi kan tiket berlibur ke Paris untuk Kaynara dan Rangga.
"Paris?" jawab Kay dengan senang. Shinta pun mengangguk.
"Iya, benar. Kalian akan bulan madu di Paris."
"Apakah ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Rangga. Bagi pria sederhana ini adalah hal yang berlebihan.
"Ini pasti mahal, biaya di sana. Aku tak ingin merepot kan kalian."
"Ini tidak merepot kan! kau sudah menjadi suami dari adik kesayangan kami. Terima saja." ucap Caca.
"Bahkan jika perlu selesai pulang dari Paris, kalian akan berbulan madu ke Jepang." imbuh Arvan. Kaynara merasa sangat senang. Melihat Shinta, Caca dan para suami mereka yang begitu menyayangi diri nya.
"Kalian akan berangkat Minggu depan"
"Minggu depan?"
"Apa ini tidak terlalu cepat?"
"Tidak. Seharus nya hari ini ada jadwal penerbangan nanti malam. Tetapi itu terlalu cepat untuk kalian makanya aku pesan yang Minggu depan."
Kaynara dan Rangga pun menerima hadiah pernikahan dari Shinta dan Revan. Caca dan Arvan akan memberikan tiket ke Jepang jika mereka sudah kembali dari Paris. Awal nya Caca ingin memberi kan sebuah rumah. Namun, Rangga menolak dengan lembut. Ia tak ingin keluarga Kaynara membantu dalam ke ekonomian diri nya. Itu akan membuat diri nya merasa menjadi tidak berguna. Lagi pula, Rangga masih bisa memenuhi kebutuhan Kaynara walau tidak bisa semewah yang di dapati Caca dan Shinta.
"Hari ini kami akan kembali ke rumah. Kedua orang tua ku besok akan sampai, sudah lama tidak bertemu dengan nya." ucap Revan. Caca dan Arvan juga pamit dengan Ibu Syafa, Ayah Gunawan, Kaynara dan Rangga.
Setelah makan, mereka mengantar Caca, Shinta, Revan, dan Arvan ke luar halaman. Mereka pun langsung bergegas pergi. Kini, hanya ada Rangga dan Kaynara yamg tersisa di rumah Syafa. Awal nya, Rangga dan Kaynara pun ingin pamit. Tetapi, Syafa meminta mereka jangan pergi sampai waktu nya mereka ke paris. Syafa merasa sangat kesepian, keramaian di rumah nya seketika menjadi hening. Membuat Kaynara tak enak hati dan memilih untuk tetap tinggal. Rangga pun langsung pamit dengan Syfa, Gunawan dan juga Kaynara untuk pergi bekerja. Rangga mengguna kan motor nya
*********
"Pengkhianat! ternyata wanita yang dia nikahi adalah Kaynara ku." kesal Ryan. Dia menyuruh anak buah nya untuk menghabisi Rangga. Ryan begitu sangat kesal, mengapa Rangga berbohong pada nya dan mengata kan bahwa tidak mengenal Kaynara. Sesampai Rangga di rumah Ryan untuk memberi kan laporan. Beberapa orang suruhan Ryan memukuli Rangga hingga babak belur. Rangga bingung mengapa mereka menghajar nya habis habisan.
"Mengapa kalian memukul ku." ucap nya terbata. Ryan masih sangat kesal dengan Rangga yang bersikap sok polos dan tak mengetahui apa-apa.
"Kau pengkhianat! dasar bajingan! kau tahu wanita yang aku cari adalah wanita yang kau nikahi semalam kan." mendengar ucapan Ryan membuat Rangga terkejut, tubuh nya melemah akibat pukulan demi pukulan yang di beri kan oleh orang suruhan Ryan.
"Mengapa kau membohongi ku! katakan!" bentak Ryan yang begitu mengamuk. Rangga sudah tak berdaya. Dia mendengar Ryan menyuruh orang suruhan nya untuk menghabisi Rangga dan membawa Kaynara kehadapan Ryan. Rangga berusaha sebisa nya untuk kabur dari sisa sisa tenaga nya.
Rangga pun kembali ke rumah Syafa, Kaynara yang membuka pintu merasa terkejut dengan kondisi Rangga.
"Ada apa? mengapa kau seperti ini? apa yang terjadi pada mu." Kaynara menangis melihat kondisi Rangga yang kritis.
"To-tolong ba-bawa aku masuk, dan sege-segera kunci semua pintu." pinta Rangga dengan suara terbata, seluruh tubuh nya merasakan sakit dan nyeri. Wajah yang penuh dengan luka dan darah.
"Ibu, Ayah. Tolong." ucap Kay menangis. Syafa dan Gunawan pun berlari menuju keluar.
"Apa yang tejadi?" Gunawan dengan sigap mengangkat menantu nya dan membawa Rangga ke dalam kamar.
"To-tolong kunci semua pintu nya." Syafa dan Kaynara pun mengunci semua pintu, dan jendela. Rangga meminta Kaynara untuk menghubungi Revan dan Arvan untuk datang segera mungkin. Dengan perasaan kacau Kaynara menghubungi Shinta dan Caca. Kaynara menangis dan memohon agar mereka segera kembali. Tidak butuh waktu lama Caca dan Shinta kembali bersama suami dan anak mereka.Syafa membuka pintu untuk anak dan menantu nya lalu menutup kembali pintu rumah.
Ketika melihat Revan dan Arvan, Rangga hanya ingin berbicara pada mereka berdua. Rangga meminta yang lain nya untuk keluar.
"Ada apa? mengapa keadaan mu seperti ini?" tanya Arvan bingung, begitu juga dengan Revan. Dengan suara melemah, Rangga menjelas kan segala nya pada Revan dan Arvan.
"Di-dia sudah tahu bahwa Kaynara adalah isteri ku. Dia ingin mem-bun-nuh ku dan ingin membawa Kaynara pergi jauh dari si-sini. To-tolong lindungi Kaynara k-ku. Jan-ngan biar kan apapun terjadi pada-da nya." Rangga semakin melemah. Orang suruhan Ryan memukul Rangga di bagian perut, dada dan juga kepala dengan sangat tragis. Rangga seakan tidak tahan lagi.
"Bertahan lah! kami akan membawa mu ke rumah sakit." ucap Arvan
"Ti-tidak us-sah! ak-aku baik-baik saj-saja. Tolong selamat kan Kaynara, lindungi dia."
"Aku akan memesan kan tiket kembali untuk keberangkatan kalian sekarang. Kalian harus pergi dari sini, dan aku akan membawa kan tim medis untuk perawatan mu di dalam pesawat." ucap Revan pada Rangga. Rangga pun mensetujui. Ia tak ingin Kay berada di sini dan mengalami hal yang bahaya. Revan keluar kamar dan menyiap kan segala nya. Rangga pun tak sadar kan diri, sebelum ia tak sadar kan diri. Rangga meminta kepada Revan dan Arvan untuk tidak memberitahu Kaynara apa yang terjadi. Rangga tak ingin Kaynara semakin terpuruk dan mengalami depresi kembali.
Kaynara yang melihat Revan dan Arvan keluar kamar meminta jawaban.