
Clara mengantarkan pasien nya, ia memang wanita yang luar biasa. Andai, Ryan memahami ketulusan hati saudara tiri nya itu.
"Terimakasih banyak dokter, saya banyak berhutang jasa kepada dokter."
"Sudah aku katakan, panggil saja Clara. Tidak perlu memanggil dengan sebutan dokter begitu. Lagipula, ia juga bukan jam saya bekerja. Jadi, saya hanya wanita biasa."
"Terimakasih banyak Clara."
Ke dua pun pun berpisah, Clara melajukan mobil nya menuju rumah nya. Ia ingin memasak makanan untuk saudara tiri nya Ryan.
Clara tau Ryan tidak akan memakan nya namun jika ia meminta Jo untuk berbohong dan mengatakan itu masakan ibu nya Jo pasti Ryan akan memakan nya.
Sebelum pulang, Clara singgah ke minimarket untuk membeli keperluan yang akan ia masak.
Clara menghentikan mobil nya tepat di depan supermarket, di dalam ia bertemu dengan Jo yang sedang memilih beberapa bahan makanan.
"Jo." panggil Clara, Jo menoleh ia pun tersenyum kepada Clara.
"Clara."
"Sedang apa kau di sini? Dan siapa yang menjaga kakak ku?"
Clara cemas mengetahui kakak nya di tinggal oleh Jo.
"Tenang Clara! Penjaga kakak mu bukan hanya saya, dia memiliki banyak sekali anak buah untuk menjaga nya."
Clara tersenyum lega, ia tersenyum manis kepada Jo. Jo memalingkan wajah nya dari Clara, ia tidak tahan melihat senyuman dari Clara.
"Sedang apa kamu di sini Jo?"
"Sedang mencuci." jawab Jo yang berlalu pergi meninggalkan Clara sendirian.
Sudah tau di supermarket dengan polos nya Clara bertanya, jika Jo berada di supermarket berarti Jo sedang membeli sesuatu untuk keperluan kakak nya.
"Bukan begitu, tungguin!" Clara mengejar Jo yang sedang mengambil beberapa buah untuk Ryan.
"Tidak terlalu lama."
Jo tidak ingin menatap Clara lagi, ia pasti akan semakin lama melupakan Clara.
Jo tidak mau berlarut dalam menyukai Clara, itu akan membahayakan diri Clara sendiri.
******
Aini berbaring di tempat tidur, ia menghubungi Clara. Namun, Clara tidak menjawab.
Aini kesal, karena Clara sulit sekali di hubungi.
"Apa dia ada pasien? Tapi kan bisa mengangkat nya sebentar." Aini kembali bersedih, ia tidak tau jika sahabat nya itu sedang kasmaran dengan lelaki lain.
Kay sudah menyiapkan masakan yang akan di hidangkan untuk malam ini. Rangga pun membantu isteri nya.
Harus sekali masakan yang di masak oleh kaynara, Rangga tiada henti memuji nya.
"Istri ku memang cocok sebagai koki masak."
"Aku juga bisa masak karena kamu, sayang."
Belakangan ini perut kaynara sering sekali merasa kontraksi, Rangga sudah mengajak kaynara untuk memeriksa kandungan nya namun kaynara menolak.
Ia tidak mau menghabiskan uang Rangga apalagi kaynara tau jika Rangga belum mendapatkan pekerjaan yang layak di sini.
"Aku tidak apa-apa, sayang. Nanti juga akan sembuh sendiri. Ini terjadi untuk ibu hamil, kakak Shinta dan kakak Caca juga mengatakan itu kepada ku."
Kaynara ingin sekali bertemu dengan mereka, namun ia tidak bisa. Dan tidak mau menghubungi kakak-kakak nya, jika dia menghubungi keluarga yang ada di Indonesia kerinduan nya pasti akan memuncak. Mungkin juga, kaynara tidak bisa mengendalikan diri nya.
Ia pasti akan memaksa Rangga untuk cepat kembali ke indonesia, Rangga pun tak mau memaksa kaynara.
Rangga meminta istri nya untuk istriahat saja biar ia yang akan melanjutkan semua nya.