
"Kay, aku akan memberikan Psikiater terbaik untukmu. Tapi jangan gunakan dia!"
Ryan sudah tidak tahan lagi, dirinya pun tak rela jika Clara yang menangani Kaynara
"Kenapa? Mengapa kau mengatur diriku? Maaf tuan, mungkin aku banyak berhutang Budi kepadamu. Namun bukan berarti kau bisa mengatur hidupku sesuka hatimu!"
Clara terdiam, sementara Kaynara menatapnya dingin. Mengapa Ryan seperti itu? Apalagi Clara sudah jauh-jauh datang ke Paris hanya untuk menjenguknya.
"Maafkan nona, Tuan Ryan tidak bermaksud membuat anda tersinggung,"
Jo meminta maaf atas kelakuan Ryan, suasana menjadi semakin tegang apalagi semenjak kehadiran Clara.
Jo pun mengajak Ryan untuk pulang, Ryan mengangguk. Sebelum pulang ia berpamitan kepada Kaynara
Kaynara mengangguk, ia pun mengucapkan terimakasih karena Ryan sudah membantunya selama ini.
Segera keduanya pergi meninggalkan Kaynara dan Clara di ruangan
Clara mengatakan jika dirinya akan menjaga Kaynara disini.
"Tidak dokter Clara, anda tidak perlu seperti itu!"
"Panggil saja aku Clara, Kay. Apa kau marah kepadaku?"
Tanya Clara kembali kepada Kaynara.
"Sungguh, aku tidak marah kepadamu Clara! Aku hanya tidak mau kamu terlalu repot untukku. Aku bisa menjalani hari-hariku sendirian."
"Aku akan menemani mu, Kay! Sampai keadaan mu benar-benar pulih. Dan dokter tadi mengatakan jika aku menjadi psikiater untukmu."
"Clara apakah aku ini sudah tidak waras?"
Clara menggeleng, ia merasa salah berbicara. Wajar saja di saat hati Kaynara rapuh seperti ini. Hatinya lebih sensitif
"Bukan seperti itu maksudku, Kay! Namun Kay, Kau memiliki luka batin yang harus di obati. Bukan hanya kau, namun aku juga sama sepertimu! Memiliki luka batin yang dalam dan harus segera diobati. Jangan salah sangka, Kay!"
Kaynara hanya tersenyum, namun tatapan matanya begitu kosong
Bahkan wanita itu sudah tidak memiliki tujuan hidup lagi.
Semuanya terjadi sangat cepat, bahkan ia merasa takdir tidak adil kepadanya.
"Aku sangat bingung, dan juga kesal. Aku enggak tahu gimana lagi. Ra! Duniaku benar-benar hancur, aku seperti tidak punya tujuan hidup lagi."
Clara memeluk kaynara, ia mungkin tidak mengalami apa yang Kaynara rasakan namun ia dapat memahami kesakitannya.
"Aku hanya bisa berdoa demi kebahagiaan kamu, Kay."
"Udah enggak ada, Ra. Semuanya udah mati, aku seperti mati rasa saat ini!"
"Sudah jangan menyalahkan dirimu lagi, Kay! Aku yakin kau pasti akan mendapatkan kebahagiaan."
Kaynara melepaskan pelukannya dari Clara.
"Dulu, kamu dan Aini juga mendoakan kebahagiaan aku. Dan benar, kebahagiaan itu datang. Namun semuanya udah direbut kembali, aku seperti tidak boleh merasa bahagia."
"Jangan mengatakan itu! Kau pasti akan bahagia. Aku akan menemanimu hingga kau mendapatkan kebahagiaanmu, Kay!"
Kaynara mengucapkan terimakasih banyak kepada Clara, setidaknya Clara masih perhatian kepadanya
"Terimakasih, karena kamu udah perduli dengan aku."
Clara mengangguk, Clara pun merawat kaynara dengan baik.
Seketika Clara terdiam, mengingat Ryan. Kakak tirinya, kaynara melihat kesedihan Clara.
Walau ia sedih, namun dirinya masih memikirkan orang lain
"Ada apa? Apa kamu memikirkan Tuan Ryan?"
Clara terdiam, mendengar nama Ryan. Matanya berkaca-kaca. Namun Clara masih bungkam
"Apa dia kekasihmu? Atau mantan pacarmu, Ra?"
Clara menggelengkan kepalanya. Hatinya hancur berkecamuk. Tanpa sadar wanita cantik itu meneteskan air mata.
Kaynara tidak mau bertanya lagi jika itu akan membuat Clara sedih.