
"Brengsek! Kau membuat ku sangat kesal! Aku sangat marah pada mu sekarang!" Ryan terlihat murka namun Jo begitu santai.
Setelah Ryan membunuh orang yang sudah menghancurkan masa depan Kaynara ia pun memutuskan keluar dari dunia gelapnya.
Ryan ingin menjadi pria biasa yang membahagiakan Kaynara, sebab itu ia tidak bisa melukai Jo lagi. Jika tidak, mungkin saat ini Jo sudah tidak bernyawa
"Tuan, maaf kan saya! Namun anda tidak bertanya terlebih dahulu kepada saya dan langsung memakannya!"
Ryan tak menggubris, ia langsung pergi meninggalkan Jo seorang diri. Kaynara yang belum pergi meninggalkan keributan dari luar pintu
Saat membuka pintu, Ryan kaget karena Kaynara masih ada didepan pintunya "Kaynara? Sedang apa kau di luar begini? Masuk lah"
Kaynara menggelengkan kepalanya "Tidak! Saya tidak Sudi masuk kedalam rumah orang yang tidak memiliki perasaan!"
Kaynara berlari, ia tidak langsung masuk ke dalam apartemennya namun ia berlari ke luar
Ryan mengejar, di saat musim dingin seperti ini Kaynara keluar tanpa menggunakan baju tebal
"Kay!"
Namun Ryan kehilangan jejak wanita itu, tapi tak membuat pria itu berhenti mencari keberadaannya. Kaynara berlari terlalu jauh. Suhu disekitarnya semakin dingin membuat wanita itu menggigil dan seperti membeku.
Kaynara lupa, jika kemarin telah turun hujan salju. Seharusnya ia keluar menggunakan baju tebal.
"Di-dingin sekali!" Ujarnya dengan suara gemetar, ia sungguh merasakan dingin yang luar biasa.
Musim salju seperti ini, orang-orang jarang keluar rumah. Mereka lebih memilih menghangatkan tubuh di dalam unit
"B-bagaimana ini?" Kaynara tak tahan lagi, bibirnya seakan membeku
Ryan langsung memberikan baju hangat, memeluk tubuh Kaynara dan membawanya untuk kembali ke apartemen namun Kaynara sudah tidak sanggup berjalan.
Ryan pun menggendong tubuh wanita yang selama ini ia cinta dalam diam. "Bertahan lah, Kay!"
Ryan berjalan dengan cepat, agar mereka bisa kembali ke unit. Tubuh lelaki itu pun merasa dingin yang hebat, namun ia menahannya.
"Aku harus bertahan, aku harus tetap bertahan agar bisa membawa Kaynara pulang!" Ryan tidak memikirkan kondisi tubuhnya yang mulai melemah.
Ryan pun akhirnya sampai membawa Kaynara ke dalam apartemen. Ia menekan bel unit milik Kaynara
Clara pun membuka pintu, ia kaget melihat keadaan Kaynara "Apa yang terjadi kepadanya?" Kaynara masih menggigil
Clara mengarahkan Ryan untuk membawa Kaynara kedalam kamar. Sementara itu, Clara membuatkan teh hangat untuk Kaynara.
Clara masuk ke dalam kamar kaynara, terlihat Ryan yang cemas dengan keadaan Kaynara "Sini berikan kepada ku!" Ryan merampas segelas teh yang ada di tangan Clara hingga membuat teh itu sedikit tumpah
"Aw!" Clara sedikit meringis karena kepanasan, namun Ryan tidak memperdulikannya. Ia langsung memberikan teh itu kepada Kaynara untuk di minum "Kay, minum lah dulu!"
Kaynara meneguknya dengan gemetar, dingin itu masih lengket di tubuhnya hal itu yang membuat Kaynara masih menggigil.
Clara pun memberikan selimut tebal "Ini Kay! Mengapa kamu pergi tanpa memberitahu ku?"
"Diam kau! Ini semua kesalahan mu, jika kau tidak menyuruh Kaynara ku mengantarkan makanan kepada Jo, kaynara tidak akan mengalami ini!"
"Mengantarkannya kepada Jo?" Clara begitu bingung, ia pun menangis mengapa Kaynara melakukan itu?
"Kau memang pembawa sial, Clara! Kau selalu membawa petaka bagi orang-orang di sekitar mu!"