Kaynara

Kaynara
Kelakuan Kedua Ibu hamil



Sesampai di rumah, Kaynara di sambut dengan penuh bahagia oleh semua orang. Shinta, Syafa dan yang lainnya sudah berdiri di depan pintu halaman rumah menyambut Kay.


"Ibu." dengan suara berat Kaynara memanggil memeluk Syafa dengan erat. Syafa pun membalas pelukan Kay.


"Sudah nak. Tidak apa, semua sudah berlalu." Syafa mencoba menenang kan Kaynara. Syafa melepas kan pelukkan mereka lalu mencium kening Kaynara dengan penuh kasih sayang. Kaynara menoleh ke arah Gunawan lalu menghampiri Ayah angkat nya itu.


"Ayah." dengan cepat Gunawan pun memeluk Kaynara.


"Semua akan baik-baik saja. Sudah ya!" Gunawan melepas kan pelukan mereka, Kaynara pun mengangguk. Gunawan mengelus kepala Kaynara dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Apa kau tidak ingin memeluk kakak mu ini?" ucap Shinta yang menggerutu tak jelas. Kaynara tersenyum dan berjalan melalui Gunawan untuk memeluk Shinta.


"Maaf."


"Sudah lah, tidak usah di ingat yang sudah lalu biar lah berlalu." Kaynara mengerat kan peluk kan mereka berdua. Ia menerima kehangatan yang di berikan oleh keluarga kedua nya ini setelah bertahun tahun tinggal sebatang kara. Kini ia tidak merasa sendirian lagi.


"Ayo masuk!" ajak Gunawan. Shinta dan Kaynara pun saling melepas kan pelukan satu sama lain. Syafa mengajak semua orang untuk ke ruang makan dan makan bersama. Shinta dan Syafa membuat kan makanan kesukaan Kaynara. Setelah selesai makan, Gunawan mengajak semua orang untuk ke ruang keluarga dan membahas tanggal pernikahan untuk Kaynara dan Rangga.


"Ayah dan yang lain nya pergi lah dulu. Biar Shinta membersih kan ini semua." ucap Shinta.


"Biar Syifa membantu mama ya?"


"Tidak, Sayang! kamu pergi lah bersama mama Caca dan yang lain nya."


"Iya, Sayang. Kamu pergi lah! biar mama yang akan membantu mama Shinta."


"Baik ma." Syifa dan yang lain nya pun pergi meninggal kan Caca dan Shinta berdua di ruang makan. Tadi nya Syafa dan Kaynara ingin membantu. Namun, mereka menolak.


**********


"Ca?"


"Apa? jangan menolak ku untuk membantu mu!"


"Hey! mengapa kau yang galak? Harus nya aku yang galak bukan?"


"Iy-ya terserah ku!"


"Sudah lah lebih baik kau bersama yang lain nya di depan! Biar aku mengerjakan ini sendiri."


"Aku tidak mau! jika kau ingin pergi, kau saja yang pergi!"


"Baik lah, terserah kau saja." ucap Shinta yang malas berdebat. Caca pun tersenyum menang.


"Begitu dong." jawab nya penuh semangat, Shinta melihat Caca dengan jengah. Kehamilan mereka membuat mereka seperti anak-anak. Hal kecil juga sering menjadi perdebatan untuk mereka. Tetapi bukan berarti mereka tidak saling menyayangi. Kalau di lihat-lihat. Hubungan mereka itu sangat lucu, walau pernah mencintai dan hidup dengan lelaki yang sama tidak membuat mereka membenci bahkan mereka seperti saudara.


Shinta dan Caca membersih kan meja makan dan mencuci piring kotor dengan kompak, kadang sifat jail mereka memberikan busa ke wajah dan menyiprat sedikit air ke wajah. Seperti anak kecil yang sedang bermain air dan sabun. Mereka berdua tertawa bahagia dan menikmati keusilan satu sama lain.


********


Di ruang keluarga, semua sudah menunggu mereka cukup lama. Tidak mungkin membahas tanpa kehadiran Shinta dan Caca.


"Biar Ibu melihat mereka." pamit Syafa, ia pun beranjak dari tempat duduk nya untuk melihat kedua anak nya itu sedang apa hingga sudah cukup lama tak kunjung datang


Wajah kedua nya di penuhi dengan busa sabun cuci piring tersrbut


"Ya ampun, Sayang." teriak Syafa yang tak habis fikir dengan kelakuan kedua anak nya.


"Kalian ini sudah besar, udah punya anak tetapi kelakuan masih saja seperti anak-anak." Shinta dan Caca pun hanya menyengir


"Sudah, cepat selesai kan pekerjaan kalian. Lalu cuci wajah kalian dengan bersih! semua orang sudah menunggu kalian malah seperti anak kecil saja." Syafa pun berlalu pergi meninggal kan ke dua anak nya. Hanya bisa menggeleng dan tersenyum melihat tingkah konyol Shinta dan Caca.


"Bagaimana ini?"


"Apa nya?"


"Ibu marah pada kita, bagaimana ini?" tanya Caca yang takut.


"Ibu Syafa begitu sangat marah tadi. Kamu sih!"


"Hey! kenapa aku?" Shinta melotot kan kedua mata nya pada Caca.


"Karena kamu yang lebih dulu memberi kan busa ini di wajah ku."


"Tetapi kau menyukai nya kan?" Tanya Shinta, mereka saling menatap lalu menahan tawa satu sama lain. Seperti anak kecil yang di marahi ibu nya lalu saling tuduh satu sama lain dan tertawa karena kekonyolan mereka.


"Sudah! ayo kita selesai kan dan segera menyusul yang lain nya. Kalau tidak, bukan hanya Ibu yang akan marah. Namun, Ayah dan suami kita juga akan marah."


"Hahahhaa"


Mereka berdua pun kembali tertawa, sungguh receh humor kedua ibu hamil itu, hanya hal yang garing mereka pun bisa tertawa.


*******


Shinta dan Caca menghampiri yang lain nya di ruang keluarga, Ibu Syafa melirik ke arah mereka seakan marah, padahal Ibu Syafa hanya berpura-pura saja. Shinta duduk di samping Revan, Caca pun duduk di samping suami nya. Arvan lalu memeluk isteri nya dengan manja. Arvan tidak akan segan menunjuk kan keromantisan nya pada yang lain, berbeda dengan Revan yang begitu gengsi menunjuk kan sifat sayang nya ke semua keluarga.


"Kenapa lama sekali, Sayang?" bisik Arvan dengan lembut di telinga Caca.


"Iy-iyaa, ta-tadi sedikit ada permainan." jawab nya jujur


"Permainan?" tanya Arvan dengan bingung. Namun, belum sempat mendengar jawaban isteri nya kembali. Gunawan sudah membuka suara untuk membahas pernikahan Kaynara. Semua orang pun diam dan fokus mendengar kan ucapan Gunawan.


"Sekarang semua nya sudah berkumpul, Ayah ingin pernikahan Kaynara di langsung kan minggu depan, bagaimana Kay?" tanya Gunawan pada Kaynara.


"Setuju!" jawab Caca dan Shinta dengan kompak.


"Husst! Diam lah, Ayah bertanya pada Kaynara bukan pada kalian." sahut Revan dan Arvan secara bersamaan. Caca dan Shinta memajukan mulut mereka dan saling menatap seakan memberikan kode satu sama lain.


"Bagaimana Kay?" tanya Ayah kembali.


"Kay, terserah pada Rangga saja, Ayah." ucap Kaynara


"Bagaimana nak Rangga?" tanya Gunawan pada calon menantu nya.


"Saya, siap." jawab nya singkat


"Hore!"


Teriak Caca dan Shinta dengan heboh


"Kita akan mempersiap kan acara ini dengan sangat mewah, dan aku akan memakai gaun yang sangat cantik."


"Aku juga. Akan memakai gaun yang sangat indah." ucap Caca tidak mau kalah.


"Kalian diam lah! berisik sekali, apa tidak malu pada anak kita Syifa? dia begitu sangat elegan tidak seperti kalian yang sangat kanak-kanak." ucap Revan dengan galak nya.