
Dua hari berlalu, kini Kaynara dan Ryan tidak pernah bertemu semenjak Kaynara menolaknya untuk menikah.
Kaynara cenderung lebih murung, Clara tidak tega melihat temannya yang sedih. Ia memutuskan untuk bertemu dan berbicara dengan Ryan walau ia tahu jika lelaki itu pasti akan mengusirnya.
Clara tidak perduli, baginya yang terpenting saat ini Clara harus bertemu dengan kakaknya dan berbicara
Clara memutuskan untuk pergi ke unit Ryan, dengan ragu ia memencet bel unit yang Ryan tempati
Jo yang membuka pintunya "Untuk apa anda ke sini?"
"Aku ingin bertemu dengan kakak ku!"
"Tidak bisa! Lebih baik anda pulang saja!"
Clara tidak mendengarkan ucapan Jo, ia mendorong tubuh Jo hingga dirinya bisa masuk.
"Kak, aku ingin berbicara dengan mu!"
Clara berteriak kepada Ryan, lelaki itu yang awalnya menikmati menonton televisi melihat Clara dengan sorotan yang penuh amarah "Tidak tahu malu, beraninya kau datang dan berada di depan ku!"
Clara tidak menggubris ucapan kakaknya itu "Lelaki seperti apa kau? Hanya karena cinta mu di tolak oleh Kaynara kau mengabaikannya? Dia merasa sedih karena kau tidak menemuinya dan ia merasa bersalah. Apa hanya segitunya cinta mu? Hanya karena ia menolak untuk menikah kau justru mengabaikannya?"
"Nona, sebaiknya anda pergi! Jangan mengacaukan tempat ini, jika tidak!"
"Apa? Apa yang ingin kau lakukan? Kau ingin memukul ku? Atau bos mu akan membunuh ku? Silahkan! Aku tidak perduli! Sudah aku katakan aku ke sini bukan sebagai Clara adiknya Ryan. Tapi sebagai Clara sahabatnya kaynara!"
"Nona, jangan melewati batas anda!"
"Biarkan saja Jo, biar kan ia mengungkapkan semua kekesalannya. Aku ingin mendengarkan sejauh apa burung ini berkicau!"
"Iya aku burung berkicau, dan kau pengecut! Sungguh kau ini pengecut Ryan! Aku mengira jika mafia kejam seperti mu bisa tegar namun nyatanya kau seperti Banci! Kalian bos dan anak buah sama saja! Setelah berhasil membuat orang luluh dengan perhatian yang kalian berikan, kalian pergi seenaknya! Mengapa manusia seperti kalian berdua bisa hidup di muka bumi ini! Kalian berdua sama saja, sama-sama pengecut! Pengacau hati orang!"
Setelah puas mengatakan itu, Clara langsung pergi meninggalkan keduanya
Padahal Clara mengatakan jika ia ingin berbicara dengan Ryan, namun lihatlah! Wanita itu juga meluapkan segala amarahnya bukan hanya kepada Ryan namun juga kepada Jo yan tidak tahu apa-apa
Jo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tidak mengerti apa yang Clara katakan, Ryan hanya tertawa. Bukannya marah, ia justru merasa sangat geli. Namun satu hal yang yang Ryan bingung, mengapa Clara marah dan mengatakan ia pengecut? Apakah wanitanya sedang sakit.
"Aku harus menemui wanita ku, Jo!"