
Selesai makan siang bersama, Kay berpamitan kepada Rangga untuk pulang. Rangga pun meminta izin kepada bos untuk keluar sebentar mengantar calon isteri nya. Kay dan Rangga menaikki sepeda motor dan menuju rumah orang tua Shinta.
Di perjalanan kedua nya saling tersenyum. Terhanyut dalam pikiran masing-masing. Getaran di hati ketika sedang bersama. Apalagi jarak mereka sekarang dekat banget.
"Sudah sampai." ucap Rangga. Kay pun turun dari motor, mengucap kan terimakasih kepada calon suami nya. Rangga pun berpamitan langsung kembali ke kerjaan.
Kay masuk ke dalam rumah orang tua Shinta. Dia di sambut dengan hangat oleh semua orang. Shinta dan Caca yang begitu menyayangi diri nya. Apalagi kedua orang tua Shinta yang menganggap Kay sebagai anak mereka.
"Makan lah, Kay."
"Tidak, Bu. Kay sudah makan bersama Rangga." yang lain pun saling lihat dan tersenyum seakan memberikan kode. Kay yang tahu Shinta akan meledek diri nya memilih untuk pamit masuk ke dalam kamar.
*******
Kaynara mendudukkan tubuh nya di atas ranjang. Ia membuang nafas dengan perlahan. Walau semua terasa indah, Shinta, Caca dan kedua orang tua Shinta memperlakukan Kaynara layak nya anak dan adik. Tetap saja Kaynara selalu merindukan kedua orang tua nya yang telah tiada. Ia memejamkan mata nya perlahan dan memegang dada nya yang terasa sesak. Kay mencari sesuatu di tas nya dengan tergesa-gesa.
"Sial aku lupa membawa nya." kesal Kay. Ia berusaha menenangkan diri
"Aaaaa." teriak Kaynara dengan tertahan. Kay kecanduan obat penenang agar diri nya tak depresi. Namun, ketika ia tidak mengkonsumsi obat tersebut diri nya akan menjadi orang yang tidak terkontrol. Kay memegang kepala nya untuk menetral kan diri. Namun, semakin ia mencoba melawan rasa sakit itu semakin menjadi.
*****
Syafa yang ingin kembali ke kamar nya. Mendengar kan suara teriakan seperti menahan sakit. Syafa mendekat ke arah suara tersebut ternyata dari kamar Kaynara. Syafa mengetuk pintu kamar Kaynara namun tidak ada tanggapan.
"Kay? ini Ibu, nak." ucap Syafa memanggil kaynara dengan lembut.
Tok! Tok! Tok!
Syafa kembali mengetuk pintu kamar Kaynara.
"Sayang. Kamu baik-baik aja?"
Melihat tidak ada reaksi apapun dari Kaynara. Syafa semakin panik dan berlari memanggil suami, anak dan menantu nya. Shinta, Caca yang mendengar teriakan Syafa pun keluar
"Ada apa bu?"
"Kay. Tadi ibu berjalan dan mendengar suara teriakan. Ibu mencoba mengetuk pintu kamar Kay tetapi tidak ada tanggapan." jawab Syafa yang sangat panik
Revan dan Arvan pun segera berlari dan mendobrak pintu kamar Kaynara.
Terlihat Kaynara yang sangat sangat kacau. Tubuh nya bergetar hebat dan rambut yang berantakan.
"Kay." Teriak mereka secara bersamaan dan berlari ke arah Kaynara. Shinta dan Caca langsung memeluk tubuh Kaynara dengan hebat.
"Kak. Aku butuh obat ku!" ucap Kaynara dengan nada yang gemetar.
"Obat apa Kay?" tanya Caca dengan panik dan menangis. Ia semakin mengeratkan pelukkannya.
"Van ayo kita bawa Kay kerumah sakit." ucap Shinta pada suami nya. Revan pun mengiyakan
"Kay ayo kita kerumah sakit." ajak Shinta dengan lembut
"Tidak! aku tidak ingin!" bentak Kaynara. Kaynara melepas kan dirinya dari pelukan Shinta dan Caca. Sifat nya yang angkuh kembali lagi. Shinta dan Caca kaget.
"Kay?"
"Pergi lah kalian! pergi!." Bentak Kaynara kembali. Semua orang merasa sangat heran dengan sifat Kaynara yang tiba-tiba tidak bisa di kontrol. Kay sengaja mengusir mereka, dia takut bisa mencelakai keluarga itu. Kay berusaha untuk mengendali kan diri namun lagi lagi ia kalah dan lepas kendali.
"Tolong pergi lah, aku mohon. Menjauh dari ku." Kay mencoba untuk menjauh kan tubuh nya, rasa sakit nya semakin menjadi. Kepala nya sangat pitam.
"Jangan dekati aku. Tolong!"
"Kay, bicara ada apa?" tanya Shinta yang sangat bingung, tadi nya Kay terlihat sangat bahagia. Dia juga baru kembali setelah berjumpa dengan Rangga. Tetapi apa yang terjadi sekarang, seakan mereka melihat sisi gelap dari seorang Kaynara.
"Kay?" Caca kembali menyentuh bahu Kaynara dengan lembut. Namun, Kaynara mendorong tubuh Caca dengan kuat hingga Caca mengeluarkan darah. Paha nya yang putih dan mulus di basahi dengan sedikit darah yang mengalir deras
"Caca." Arvan langsung menggendong Caca dan membawa isterinya kerumah sakit yang di antar kan oleh Revan
"Kamu udah gila ya!" kesal Shinta kepada Kaynara
Shinta yang merasa begitu kesal dengan Kaynara ingin rasanya mencabik-cabik tubuh Kaynara. Namun, Syafa dan Gunawan menghentikan sifat ke bar-baran Shinta.
"Sudah, Tata. Ingat dia juga adik kamu!" ucap Gunawan yang memegang tangan Shinta. Sementara Syafa melindungi Kaynara
"Dia itu enggak mikir gimana nanti Caca. Sikap dia bisa membuat Caca kehilangan janin nya lagi. Dan jika itu terjadi aku enggak akan pernah maafin dan anggep kamu adik!" bentak Shinta pada Kay.
Kay semakin liar dan semakin tidak kontrol. Syafa menangis dan bingung harus bagaimana. Syifa dan si kembar pun menangis. Keributan yang terjadi membuat anak-anak merasa takut. Dengan rasa takut Syifa mencoba menghibur ke dua adiknya.
"Alan dan Alana jangan menangis ya adik-adik kakak." ucap Syifa.
Tubuh Kay pucat dan gemetar hebat. Syafa memeluk kay dan mencoba menenangkan gadis tersebut.
"Kenapa Ibu dan Ayah masih membela dia. Dia udah jahat dan buat Caca pendarahan." kesal Shinta lagi.
"Cukup Tata! Ayah tidak pernah marah dan membentak kamu. Jadi, Ayah mohon kamu untuk tenang dan segera hubungi dokter. Kita tidak tahu apa yang terjadi pada Kay."
"Baik lah." Shinta mengalah dan menghubungi Dokter.
********
"Tok! Tok! Tok!" Suara pintu berbunyi. Shinta melihat siapa yang datang.
"Akhirnya dokter sampai juga, silahkan masuk." pinta Shinta dengan ramah. Walau ia masih sangat kesal dan khawatir dengan keadaan Caca namun Shinta tetap bersikap tenang."
"Maaf saya lama tadi di perjalanan sangat macat." ucap Dokter tersebut.
"Tidak masalah." Shinta tersenyum. Shinta pun mengajak Dokter untuk masuk ke dalam kamar Kay dan memeriksa keadaannya.
"Apakah pasien ada meminum obat-obatan?"
"Obat?" tanya mereka dengan bingung.
"Kami rasa tidak."
"Sebaiknya kita membawa pasien ke pskiater." saran dari Dokter
"Untuk apa?" tanya Shinta dengan bingung.
"Mungkin mereka yang akan mengerti keadaan pasien. Jika kalian mau saya akan memberikan kartu nama teman saya. Namanya Dokter Clara. Walau masih muda, Dokter Clara bisa membantu kalian dalam menangani pasien."
"Baik lah dok. Apakah kami boleh meminta kartu nama beliau?" tanya Gunawan. Shinta terdiam membisu, dia begitu kaget dengan pernyataan sang dokter.
"Apakah Kaynara memiliki kelainan jiwa? Kay selama ini terlihat baik-baik saja. Namun, memang Kay sangat pendiam dan tertutup." begitu banyak pertanyaan di dalam hati Shinta.
"Saya pamit dulu."
"Mari saya antar" Gunawan pun mengantar dokter sampai luar rumah.