Kaynara

Kaynara
Menyesal



Kaynara mengatakan jika ia ingin bertemu dengan anaknya untuk terakhir kali. Ryan mengatakan jika anaknya sudah dimakamkan oleh Jo.


Kaynara semakin terisak, ia sangat tidak beruntung menjadi seorang ibu. Bahkan dirinya tidak diberi kesempatan untuk melihat wajah anaknya.


"Maafkan aku, Kay. Jika aku lancang namun Dokter menyarankan agar anakmu segera di makamkan."


Kaynara mengerti, ia juga tidak menyalahkan Ryan bahkan ia mengucapkan terimakasih banyak kepada Ryan karena sudah mau membantunya.


"Terimakasih, kau sudah banyak membantuku."


Ryan mengangguk. Dirinya tidak bisa mengatakan apapun lagi.


Jo sudah kembali dari pemakaman, ia pun mengucapkan bela sungkawa kepada kaynara.


"Nina, saya turut berduka atas kepergian Putra anda" kini Kaynara tahu jika ia melahirkan seorang Putra, Kay mengangguk


"Tuan, kamu sangat beruntung. Beruntung karena bisa melihat wajah anakku, tidak sepertiku."


Jo memahami maksud Kaynara, ia pun mengambil ponselnya. Saat di rumah sakit Jo masih sempat memotret wajah anaknya Kaynara.


Jo menunjukkan potret itu kepada Kaynara, kaynara terlihat sangat senang saat melihat wajah anaknya.


Walau ia tidak sempat bertemu dengan anaknya setidaknya Kaynara mengetahui rupa sang anak.


Begitu tampan, wajah bayinya begitu mirip dengan Kaynara. Air matanya kembali menetes


"Anakku!" Gumamnya, hatinya masih sangat teriris tidak mudah baginya kehilangan anak yang selalu di nanti-nanti.


"Tuan, Jo. Tolong kirimkan gambar anakku" Jo mengangguk, Kaynara memberikan nomer WhatsApp-nya kepada Jo


Hal itu membuat Ryan merasa cemburu, namun ia tidak bisa mengatakan apapun. Disaat seperti ini, ia harus memahami Kaynara.


Jo segera mengirimkan beberapa potret anak Kaynara sebelum di makamkan.


Ryan meminta kepada Jo untuk mencetak gambar anaknya Kaynara di bingkai yang paling besar sekaligus. Agar Kaynara bisa puas menikmati wajah anaknya


Jo mengangguk, ia pun segera pergi untuk melakukan hal yang disuruh oleh bosnya.


"Anakku!" ucapan Kaynara begitu berat, Ryan pun hanya bisa mengamati setiap rasa sakit Kaynara. Ia tidak bisa melakukan apapun, Ryan juga memberikan ruang agar Kaynara bisa menerima kenyataan yang ada.


Dulu, saat ibunya Ryan meninggal. Dirinya juga sangat terluka, bahkan mengalami depresi.


Jadi dirinya memahami apa yang Kaynara rasakan.


*******


Rangga yang sudah menandatangi surat perceraian itu pun merasa menyesal. Sudah beberapa pekan ia meninggalkan Kaynara.


Rangga memutuskan untuk menemui Kaynara di Paris. Namun Kimmy melarangnya


"Kakak enggak bisa menemui wanita itu!"


"Kenapa enggak bisa? Kakak mencintainya,"


"Tapi kakak udah janji sama aku enggak akan membuat aku kecewa! Kenapa kakak mengingkari janji yang sudah kakak buat? Kakak lupa siapa keluarganya?"


Kedua kakak beradik itu pun bertengkar, Rangga tahu janjinya kepada sang adik namun ia tidak bisa membohongi hati dan perasaannya.


Rangga gila jauh dari Kaynara. Ia tidak sanggup berpisah dari wanita yang ia cintai.


"Semuanya udah terlambat kak, dan aku yakin sebentar lagi Kaynara akan menandatangi surat perceraian itu!"


"Kakak akan menyusulnya, jika perlu Kakak akan merobek surat cerai itu. Kakak yakin pengacara belum sampai disana, kakak akan menyusul!"


"Kakak salah! Paman sudah sampai di Paris tadi pagi. Aku sudah berbicara kepadanya dan sore ini. Paman akan kerumah wanita itu atau dia sudah menandatangani surat perceraian kalian. Kakak enggak bisa lagi balik sama dia!"