
Jika Jo mempunyai pilihan lain, ia akan pasti akan memilih pilihan itu agar bisa bersama Clara.
Namun, tidak menentang atau mengkhianati Ryan.
Jo membunuh perasaan nya demi kebaikan Clara dan juga Ryan.
Sudah lama Jo bekerja dengan Ryan, ia tidak mau mengkhianati bos nya hanya karena cinta dan seorang wanita.
Jo kembali ke ruangan Ryan, Ryan bertanya apakah Clara sudah pergi.
"Apakah wanita itu sudah pergi?" Jo mengangguk, ia tidak banyak mengatakan apapun.
Jo tidak mau Ryan menjadi kesal, kesehatan Ryan saat ini lebih penting dari perasaan nya.
Ternyata, bukan hanya wanita saja yang sering mengorbankan perasaannya, namun seorang pria pun bisa mengorbankan perasaannya demi sahabat atau orang terdekatnya.
"Jo apakah kau memiliki perasaan dengannya?"
Jo kaget mendengar pernyataan dari Ryan, Jo menelan slavinanya dengan keras namun dia berusaha untuk tetap tenang.
"Sudah saya katakan Jika saya tidak memiliki perasaan apapun dengan adik, tuan."
Ryan melempar barang yang ada di samping nya kepada Jo.
Ia tidak terima mendengar Jo mengatakan jika Clara adalah adik nya.
"Jangan membuat ku kesal, Jo!"
"Maaf, Tuan.. Namun, kenyataan nya dia adalah adik tuan walau kalian berbeda ibu."
Arghh!
Ryan terlihat gusar, ucapan Jo berhasil membuat mood nya hancur.
Ia pun tau jika mereka itu satu ayah, namun Ryan tidak mau menerima Clara sebagai adik nya. Ia hanya menganggap Clara dan ibu nya sebagai benalu dalam kehidupan nya dan juga keluarga nya.
"Pergi lah Jo! Aku tidak ingin melihat wajah mu!"
Ryan menahan Amara nya, namun ia kesal dan tidak mau bertemu dengan Jo.
Jo pun menuruti permintaan Ryan.
Ryan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Benci dan marah sekali ia jika seseorang mengingatkan status nya dengan Clara.
Jo pun ke luar dari kamar tuan nya. Ia tidak mau membuat keributan lagi, kepala nya sudah begitu penat.
Jo tersenyum, ia merasa berhasil melindungi Clara.
*****
Di dalam mobil Clara menangis, Iya sedih karena Jo melarangnya untuk menghubunginya atau menemui kakaknya itu.
"Jo apa kau tau, ingin sekali aku rasanya tinggal bersama kakak ku. Hanya dia yang aku punya."
Clara tau jika tidak ada kenangan indah antara ia dan Ryan, sejak kecil Ryan selalu menutup diri nya dan selalu menghindar dari keluarga.
Bahkan, Ryan memutuskan pergi dari rumah sebelum ke dua orang tua mereka meninggal.
Clara tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang kakak, apalagi mendapatkan perlindungan. Namun, ia yakin jika suatu saat kakak nya akan bisa menyayangi nya..
Ia yakin, Ryan akan bisa berubah pikiran. Dan mereka akan hidup bahagia. Layak nya saudara-saudara yang ada di luar sana.
Seperti Aini dan Rangga, rasanya sangat mustahil untuk mereka kembali bersatu.
Aini yang mengalami hilang ingatan dan juga operasi wajah yang berbeda. Karena kecelakaan yang membuat wajah lama Aini hancur.
Namun, tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak.
Walau Aini masih hilang ingatan namun ia sudah bisa berkumpul dengan keluarga nya.
Clara juga berharap hal yang sama, jika suatu saat Ryan merubah hati nya. Dan menerima Clara sebagai adik nya.
"Jangan menyerah Clara, ingat tidak ada yang mustahil jika Tuhan sudah berkehendak."
Clara menyemangati diri nya sendiri, ia pun tak mau menyerah pada keadaan.
Ia percaya jika niat baik akan mendapatkan hasil yang baik juga.
Clara tidak pernah menyakiti hati siapapun
Tuhan adil kepada setiap umat nya.
Clara tersenyum, melajukan mobil nya dengan perasaan yang lebih tenang.
Setidaknya, ia tau jika kakak nya Ryan sudah membaik dari sebelum nya..
Untuk apa Clara bersama dengan kakak nya jika kakak nya tidak berdaya seperti kemarin.
Clara tidak mau serakah, kesembuhan kakak nya jauh lebih penting dari apapun sekarang.
Clara juga berjanji tidak akan menganggu Jo seperti yang Jo ingin kan.