
Rangga ingin segera menemui isteri nya namun Aini sengaja dengan halus menahan Rangga agar tetap bersama nya. Kini, Rangga sudah tak tahan lagi. Rangga segera pergi menemui Kaynara.
Aini pun diam, namun terlihat wajah nya yang kesal. Ia hanya ingin memiliki waktu dengan kakak nya, namun kakak nya selalu memikirkan Kaynara. Kakak nya tidak pernah memikirkan Aini yang kesepian.
"Mengapa selalu Kay yang di utamakan? Apakah kakak tidak tahu jika aku ini kesepian, aku tahu jika Kay adalah istri nya namun aku juga adik nya kan? Aku juga mempunyai hak atas waktu mu kak!"
Rangga masuk ke dalam kamar, melihat Kay yang menangis.
Rangga mendekati Kay, memeluk istri nya. "Maafkan ku, Sayang. Jujur aku tidak tahu,"
"Enggak apa-apa, bukan salah kamu kok."
"Jangan menangis lagi, aku tak bisa melihat mu menangis."
Rangga menghapus air mata Kaynara, Kay pun terdiam.
"Tolong jangan marah pada Aini, dia juga tidak bersalah."
"Iya, kamu bener. Ini kesalahan aku,"
Kay memilih untuk mengalah dan tidak mau berdebat. "Bukan begitu, Sayang. Maksud nya ini kesalahan aku, Aini juga tidak sengaja. Aku hanya tidak ingin kalian salah paham, tolong mengerti lah. Kalian berdua adalah wanita yang paling aku cintai. Aku tidak bisa melihat ke dua wanita yang aku cinta salah paham begini."
"Aku tidak marah pada nya, namun aku tak mengerti mengapa Aini begini. Tadi aku sudah memasak terlebih dahulu. Ia langsung masak dan mengatakan rindu dengan masakan yang sering mama nya buat. Aku mengerti, aku mengerti dia. Tapi, kenapa dia tidak memberikan nya kepada mu? Seakan sengaja."
"Dia tidak sengaja melakukan itu, Sayang." Rangga mengacak rambut nya dengan kasar, kepala nya terasa mau pecah. Ia juga tidak menyalahkan Aini mau pun Kaynara. Menurut nya, ini hanya lah kesalahpahaman dan hormon ibu hamil begitu sulit di mengerti.
Kay menatap Rangga, ia mengira jika Rangga marah kepada nya. Ia pun kembali menangis, ini bukan kemauan Kaynara namun memang hormon bawaan hamil begitu melelahkan.
Rangga memeluk Kay, menenangkan istri nya. Memang Rangga belum mengenal Kay lebih jauh karena mereka juga belum pernah kenal sebelum nya. Namun, Rangga berusaha menjadi suami yang baik untuk Kaynara dan anak yang di kandung oleh Kaynara.
"Tidak, Sayang. Baik lah ini kesalahan ku. Maafkan aku ya?"
Kay pun menjauhkan kepala nya dari bidang besar milik Rangga. Ia pun mengiyakan ucapan suami nya.
"Kamu udah sarapan, Sayang?" tanya Rangga dengan begitu lembut, Kay menggeleng kan kepala nya. Memang benar, ia belum ada sarapan karena setelah selesai memasak, ia langsung membagikan sebagian masakan nya ke orang-orang yang ada di jalan.
"Ayo makan, aku juga ingin makan kembali. Masakan mu terlihat sangat lezat."
Terlihat bibir Kay yang mengembang tersenyum dengan sempurna, di tambah lesung pipi milik nya membuat Kay semakin manis.
Rangga mengulurkan tangan nya yang terbuka menyambut tangan Kay. Setelah tangan Kay menyambut kembali tangan nya. Rangga langsung mengajak Kay untuk sarapan
Ke dua nya pergi ke ruang makan, terlihat Aini yang masih duduk di ruang makan. Aini menoleh ke arah Kay dan Rangga. Rangga menyuruh Kaynara untuk duduk. Ia pun mengambil makanan yang udah di masak sebelum nya oleh Kay.
"Kak, kamu makan lagi?" tanya Aini kepada Rangga.
"Iya, Dek. Tadi belum puas makan nya."
"Masakan aku kan masih ada. Ini makan."
"Iya, masakan kamu nanti kakak makan lagi ya? Kakak lagi mau rasain masakan kakak ipar mu,"
Kaynara tersenyum, Rangga menepati janji nya untuk selalu berusaha menjadi suami yang baik.