
Setelah kepergian pengacara itu, hati Kaynara hancur. Lukanya belum sembuh saat kehilangan anaknya, kini sudah di tambah dengan luka baru lagi.
Tanpa sadar, air matanya menetes! Clara yang tak tega melihat Kaynara hancur pun langsung memeluknya "Aku yakin, setelah ini. Akan ada kebahagiaan untukmu, jangan putus asa! Aku ada untukmu!" Kaynara mengangguk, ia melepaskan pelukannya dari Clara.
"Aku baik-baik saja, aku mohon, jangan beritahu keluarga ku ya? Jika aku mengalami ini semua. Hanya itu yang aku inginkan!"
"Kenapa? Bukan kah mereka harus tahu?" Kaynara menggeleng, memegang tangan Clara dengan lembut, "Aku enggak mau membuat mereka sedih. Sudah cukup aku menyusahkan mereka selama ini, tidak lagi sekarang!"
Clara mengangguk, ia tahu jika hati Kaynara masih rapuh. Ia tidak mau menambah beban lagi untuk Kaynara
"Jika itu keinginanmu, aku tidak akan mengatakannya kepada keluargamu. Tapi aku minta kepada mu, Kay! Jangan rapuh, tetap lah semangat!"
"Aku berjanji kepadamu!" Keduanya tersenyum, Kaynara mengajak Clara untuk masuk. Ia tahu, daripada bersedih lebih baik mencari cara agar tersenyum. Lagipula, Kaynara sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk mendekatkan Clara dengan kakaknya Ryan.
Itu Kaynara lakukan untuk membalas kebaikan keduanya yang selalu membantu dirinya.
Kaynara pun memasak makanan untuk Clara, Clara ingin membantunya namun ia tidak mau.
Ia juga mengambil ponselnya untuk menghubungi Jo, ia memberikan pesan kepada Jo untuk mengajak makan malam.
Semoga rencananya hari ini berhasil
*******
Di apartemen Ryan, suasana masih tegang. Mungkin saja, Ryan juga marah kepada Jo.
Jo melihat ponselnya yang berbunyi
"Tuan, nona Kaynara memberikan pesan. Dan mengajak kita makan malam bersama!"
"Ayo, bersiap!" Ryan mengajak Jo, Jo melihat jam di tangannya, masih ada waktu tiga jam lagi.
"Tuan, terlalu cepat untuk kita bersiap!"
"Kau ini bagaimana, aku harus terlihat tampan di depannya!"
Jo hanya diam, terserah Tuan-nya saja mau bagaimana, Ryan langsung bersiap-siap seolah melupakan kejadian yang sudah terjadi.
Di kamar, Ryan memilih jas terbaik untuk ia kenakan.
Dirinya tersenyum tipis, seorang mafia sepertinya mengapa begitu bodoh jika sudah berurusan dengan cinta? Hanya Kaynara yang mampu meluluhkan hatinya menjadi seorang Ryan yang begitu lembut.
Sudah bertahun-tahun, Ryan menyukai Kaynara dalam diam. Ia memikirkan bagaimana nanti mereka makan malam bersama tanpa ia tahu jika ada adik tirinya Clara.
*******
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Ryan dan Jo pun mengetuk pintu Kaynara yang tidak jauh dari apartemen mereka.
Kaynara membuka pintunya, tersenyum hangat dan menyuruh keduanya untuk masuk.
Ryan dan Jo pun masuk, betapa terkejutnya mereka saat melihat Clara yang juga ada di meja makan. Begitu juga dengan Clara, ia tidak mengetahui jika Kaynara mengundang Ryan dan Jo untuk makan malam bersama. Pantas saja, Kaynara masak begitu banyak. Saat Clara bertanya, ia hanya mengatakan jika akan ada tamu yang datang. Namun Kaynara tidak memberitahu jika yang datang adalah Ryan dan juga Jo.
Suasana kembali tegang, namun Kaynara berusaha untuk mencairkan situasi "Tuan Ryan, tuan Jo. Silahkan duduk!"
Ryan yang kesal pun memilih pergi, Jo ingin menyusul bosnya namun Kaynara melarang "Maaf, izin kan saya yang menyusulnya" Jo mengangguk, ia tahu jika hanya Kaynara yang bisa menenangkan emosi Ryan.