Kaynara

Kaynara
Kegaduhan di tengah malam.



Seperti biasa, sebelum membersih kan diri nya. Shinta terlebih dahulu membersih kan tubuh si kembar Alana dan Alan. Ia juga mengawasi Syifa agar segera membersih kan diri untuk segera istirahat. Syifa sudah selesai membersih kan diri, ia membaring kan tubuh nya di samping si kembar. Untuk sementara waktu, Syifa sekamar dengan kedua adik kembar nya.


"Tidur lah, Sayang. Kamu pasti lelah." pinta Shinta kepada Syifa dengan begitu lembut. Shinta mencium kening Syifa. Tak lama kemudian, Syifa pun memejam kan kedua mata nya. Kini giliran Si kembar Alan dan Alana yang ia tidur kan. Shinta menyanyi kan lagu untuk ke dua anak nya itu. Alan sudah terlelap mengikuti kakak sulung nya, tinggal Alana yang belum tidur.


"Mama, Alana tidak bisa tidul." ucap nya dengan nada polos. Alana pun beranjak dari tidur nya dan duduk di pangkuan Shinta.


"Mengapa anak mama yang cantik tidak bisa tidur? hari sudah semakin larut, Sayang."


"Alana ingin belcama mami. Tadi papi jahat sama mami. Mami nangis."


"Sayang, Papi dan Mami pasti sudah tidur."


"Enggak mau. Alana mau temui mami...!" Alana pun turun dari pangkuan sang Ibu. Shinta ingin mengejar namun ia tak ingin membangun kan semua orang. Shinta tidak langsung pergi dari kamar. Ia memandangi Syifa dan juga Alan.


*********


Di tempat lain, sepasang suami isteri sedang bercumbu menikmati keheningan malam. Caca dan Arvan melupakan bahwa mereka saat ini masih menginap di rumah Ibu Syafa dan Ayah Gunawan. Caca dan Arvan menikmati setiap pergerakan, tanpa di sadari Caca merintih dengan keras. Dan di balik pintu ada anak kecil polos yang mendengar rintihan Alana. Alana yang polos mengira Mami nya sedang di sakiti oleh Papi. Alana pun berlari menangis ke arah kamar yang saat itu Shinta masih memandangi ke dua anak nya. Shinta di kaget kan dengan suara anak nya yang menangis begitu kencang dan berlari ke arah nya.


"Sayang, ada apa? kenapa menangis?" Shinta segera memeluk dan menenang kan anak nya.


"Mama, ayo bantu mami Hua....." tangisan Alana semakin memecah. Membuat semua yang ada di rumah terbangun dan masuk ke kamar anak-anak kecuali pasangan yang sedang menikmati malam dan terhanyut dan permainan mereka berdua. Siapa lagi jika bukan Caca dan Arvan.


"Ada apa?" tanya Revan kepada isteri nya.


"Aku juga tidak tahu."


"Sayang, Kenapa menangis?" Alana pun belum mengatakan apa-apa. Ia masih terus menangis dan memeluk Shinta.


"Tadi ia berkata ingin menemui mami nya. Setelah kembali, ia berlari ke arah ku dan menangis. Lalu berkata tolong mami. Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi." ucap Shinta memberikan penjelasan pada suami nya. Shinta masih saja menenang kan anak nya itu.


"To-tolong mami, mami kecakitan. Alana dengal mami teliak....Hua...!!"


"Sayang, tenang lah!"


"Ayo kita melihat keadaan Caca." belum mengerti maksud Alana, semua orang pun menjadi mengkhawatirkan keadaan Caca yang katanya berteriak kesakitan.


"Apa terjadi sesuatu pada kehamilan nya?"


"Entah lah, aku juga tidak tahu." lalu mereka pergi ke kamar Caca. Shinta mengedor kamar Caca dengan keras.


Tok....!!! Tok....! Tok.....!


Tidak ada suara sama sekali, gantian Revan yang menggedor kamar Caca. Tidak ada tanggapan, ketiga Ayah Gunawan yang ingin mengetuk pintu tiba-tiba terbuka.


"Mami." Alana berlari ke arah Caca, Caca pun langsung menggendong dan memeluk Alana yang menangis senggugukan.


"Ada apa, mengapa anak mami menangis?" tanya Caca pada Alana dan mengusap kepala Alana dengan lembut.


"Seharus nya kami yang bertanya, ada apa? mengapa Alana menangis dan berkata ia mendengar Caca kesakitan." Caca dan Arvan pun terdiam malu, mereka bingung harus menjelas kan apa.


Ehem...!


Suara Ibu membuat semua menoleh kepada Ibu, Ibu pun tersenyum dan melirik kan mata nya kepada rambut Caca yang basah. Semua orang pun melihat lalu tersenyum. Kini, mereka sudah mengerti.


"Astaga.. ternyata kalian habis.."


"Hustt..! Ada anak kecil di sini" tegur Ayah dan Ibu.


"Sudah kembali lah ke kamar kalian masing-masing. Dan istirahat lah." pinta Ayah Gunawan. Begitu juga dengan Ibu Syafa dan Ayah Gunawan


"Sayang, ayo kita kembali ke kamar. Kamu juga harus tidur." ucap Shinta pada Alana.


"Tidak mau...! Alana mau tidul cama mami dan papi."


"Sudah biar kan saja dia tidur bersama kami." ucap Caca.


"Baik lah, karena kalian yang sudah membuat keributan ini. Maka bersenang senang lah kembali dan biar kan anak ku meng ganggu kalian." ledek Shinta kepada Caca dan Arvan.


"Kau ini..!" ucap Caca dengan malu. Arvan pun hanya menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


Shinta dan Revan pun kembali ke kamar mereka.


**********


Di dalam kamar Shinta tak habis berhenti tertawa. Ia tak kuasa melihat wajah Caca dan Arvan yang sangat malu. Ia juga membayang kan bagaimana bingung nya mereka yang akan menjawab pertanyaan pertanyaan dari Alana.


"Apa kau juga ingin?" goda Revan yang memeluk Shinta dari belakang.


"In-ingin apa?" tanya Shinta gugup


Ya Tuhan...aku mohon jangan malam ini, aku sudah sangat lelah.


Shinta memejam kan mata nya dan memohon. Namun, tangan Revan sudah tidak bisa di kendali kan lagi. Ia membuka kancing baju Shinta perlahan dari belakang. Revan pun memberikan kecupan manja pada Shinta membuat Shinta merasa merinding.


"Su-sudah ya, aku ingin membersih kan tubuh dan segera istirahat. Aku sangat lelah." pinta Shinta. Revan tak mendengar kan ucapan Shinta dan melanjut kan aksi nya. Kini, Shinta akan melewat kan malam yang sangat panjang dan begitu melelah kan.


********


Di dalam kamar, Kay mengintip Rangga yang sudah tertidur. Dia pun merasa lega, akhir nya Kaynara mendekat ke ranjang, tertidur di samping Rangga yang sudah tertidur nyenyak. Kaynara begitu sangat lega, ia tahu bahwa diri nya pasti akan melakukan hal itu dengan Rangga. Namun, tidak sekarang. Diri nya merasa belum cukup siap.


"Aku berjanji, ketika aku sudah siap. Aku yang akan mengajak mu deluan." batin Kaynara. Kay pun segera tidur di samping Rangga. Rangga membuka mata nya perlahan. Dia tak benar-benar tidur, Rangga paham bahwa Kay belum bisa menyesuai kan diri. Dia pun tak ingin memaksa, Kaynara harus nyaman di samping nya bukan malah merasa takut.


"Aku hanya tidak ingin kau terus terusan menghindar dari ku." batin Rangga.