Kaynara

Kaynara
Kemarahan Ryan



Aini juga pernah kehilangan seorang ibu walau itu hanya ibu angkat namun sangat menyakitkan buat nya.


Dan mungkin, jika ingatan nya kembali. Ia juga merasakan sakit kehilangan keluarga nya.


Rangga tidak pernah membahas itu kepada kaynara atau pun Aini.


Dia hanya ingin mengubur kenangan yang begitu menyakitkan itu, Rangga mengatakan kepada istri nya agar tidak berlarut dalam kesedihan.


"Aku sedih, karena melihat kamu terus begini kak." Aini memeluk kaynara, ia benar-benar merasa sakit dan terpukul melihat kaynara yang selalu saja bersedih.


"Gapapa Aini, aku yang salah. Tidak bisa lepas dari masa lalu yang terus menghantui ku."


*Bukan nya lebay, namun memang apa yang di lalui oleh kaynara itu tidak mudah.


Ia mengira jika keluarga nya akan bahagia bersama namun ternyata ke dua orang tua dan juga seluruh keluarga nya di habisi di depan ke dua mata nya sendiri. Dan penderitaan itu tidak berakhir, kaynara juga di perkosa oleh beberapa orang dengan begitu kejam*.


Jika mengingat itu, kaynara kembali histeris. Perut nya kembali sakit, ia tidak tau harus apa.


Rangga dan Aini yang khawatir pun ingin membawa kaynara ke rumah sakit, namun kaynara menolak.


Ia tau, jika tamu suami nya akan segera datang. Ia tidak mau membuat kekacauan apalagi ini begitu penting buat Rangga.


"Kay, kesehatan kamu jauh lebih penting. Aku bisa kok kerja apa aja, aku enggak mau kamu begini terus." Rangga meneteskan air nya nya, ia begitu sedih dan sakit melihat wanita yang dia cinta seperti ini.


Kay mengelus pipi Rangga, meyakinkan suami nya jika diri nya baik-baik aja


"Sudah begini saja, kakak di rumah. Aku akan membawa kaynara ke rumah sakit."


"Tapi ini sudah malam, saat berbahaya untuk kalian ke luar apalagi di musim dingin seperti ini."


"Sudah, ak-aku bisa kok istirahat di kamar. Tolong antar kan saja aku ke kamar,"


Rangga dan Aini pun menuntun kaynara kembali ke kamar, sudah sering kali kaynara merasakan sakit seperti ini.


Rangga membaringkan tubuh istri nya di tempat tidur. Ia juga mengganjal badan kaynara dengan bantal.


Rangga mengecup kening kaynara, ia tidak mau jika anak dan juga istri nya kenapa-kenapa.


Bell berbunyi, mungkin tamu Rangga sudah datang..Namun, ia tidak bisa meninggalkan kaynara di kamar sendirian.


"Kak, aku akan menjaga kaynara. Kakak lebih baik temui tamu kakak."


Kay juga mengatakan hal yang sama dengan Aini.


"Sayang, ada Aini yang menjaga ku di sini. Jangan khawatir, aku baik-baik aja."


Rangga pun meninggalkan adik dan istri nya di dalam kamar. Ia mengatakan jika perut Kaynara sakit lagi, beritahu dia segera.


Kay dan Aini mengangguk, setelah Rangga keluar dari kamar. Aini mengompres perut Kaynara dengan air hangat, agar sakit nya berkurang.


Rangga turun ke bawah, ia membuka pintu nya. Terlihat wajah nya sangat gugup namun ia harus bisa mengendalikan diri.


Ia harus bisa meyakinkan tamu nya ini agar bisa mengajak Rangga bekerja sama dengan perusahaan nya.


"Selamat malam tuan, silahkan masuk."


Tamu itu masuk dengan wajah dingin nya, ia pun meminta Rangga agar tidak terlalu formal seperti itu.


"Panggil saja aku, Dimas.


"Baik Tuan, Dimas."


"Tidak perlu memakai kata tuan, kita sama."


Rangga pun tersenyum, walau pria itu adalah tuan muda yang sangat kaya raya dan sukses namun ia tidak sombong.


Rangga mempersilakan Dimas untuk duduk, ia mengamati seluruh rumah Rangga.


Terlihat fasilitas yang mewah, sulit bagi Dimas percaya jika Rangga meminta bekerja sama dalam perusahaan nya yang ia rintis di negara ini.


"Seperti nya, kamu tidak sesulit yang kamu ceritakan kepada ku." ujar Dimas dengan wajah dingin, memang begitu watak nya. Namun, hati nya sangat baik.


"Ini semua pemberian dari keluarga istri ku. Aku tidak ingin bergantung kepada mereka makanya aku mencari pekerjaan di sini."


"Kau sudah menikah?"


Rangga mengangguk, ia mengatakan istri nya sedang sakit di kamar jadi tidak bisa ikut gabung.


"Istri ku sedang tidak enak badan, makanya dia istirahat di kamar."


Dimas mengangguk, Rangga mempersilahkan hidangan yang sudah di siapkan oleh kaynara dan diri nya tadi.


Mereka juga berbincang tentang bisnis.


******


Kaynara kini mulai bisa tertidur, walau bergerak sedikit membuat perut nya sakit.


Aini begitu telaten merawat kakak ipar nya itu, lagipula saat kaynara di rawat dan di tangani oleh Clara. Ia juga merawat kaynara, memang Aini hanya asisten pskiater. Namun, ia juga mengerti sedikit demi sedikit tentang kesehatan.


Setelah memastikan kaynara sudah tertidur, Aini pun tertidur di samping kaynara.


*****


Clara yang habis telponan dengan Aini pun merasa bersalah karena sudah mengabaikan sahabat nya itu. Ia ingin sekali kembali menemui Aini.


Jo menelpon Clara, ia mengatakan jika Ryan sudah menghabiskan makanan yang ia masak.


Sungguh, hal itu membuat Clara senang. Walau ia tau, kakak nya menghabiskan makanan itu karena Jo mengatakan itu masakan mama nya Jo. Itu tidak masalah bagi Clara, ia akan rajin memasak untuk kakak nya sampai kakak nya itu sembuh total.


"Terimakasih banyak, Jo. Aku akan memasak kesukaan nya setiap hari. aku sangat senang Jo, aku mengira jika dia tidak akan memakan masakan Ku."


Jo mengatakan jika Ryan mengetahui siapa yang masak pasti ia akan membuang makanan itu, Jo juga mengatakan kepada Clara untuk jangan terlalu bersemangat. Jo tidak mau Clara merasa kecewa nanti nya..


"Jo, aku tidak perduli. Dan aku sudah berjanji kepadamu, aku akan berhenti saat kakak ku benar-benar keluar dari rumah sakit. Aku tidak akan merepotkan mu lagi."


Jo pun memutuskan panggilan mereka.


Sebenarnya, Ryan tidak benar-benar memakan masakan itu. Karena Ryan sudah mengetahui itu masakan Clara.


Namun Jo tidak tega membuat Clara sedih, ia menghabiskan masakan Clara.


Ia juga berbohong kepada Ryan, mengatakan jika dia sudah membuang masakan Clara


Memang benar, Jo membuang masakan Clara namun membuang langsung ke perut nya.


Ia juga memuji masakan Clara begitu lezat. Ryan memanggil Jo dengan nada yang tinggi.


Dia kesal, mengapa Jo membohongi nya.


Ryan melempar barang-barang yang ada di kamar.


"Kau telah mengkhianati ku, Jo sialan!" Ryan berteriak. Dia tak habis pikir mengapa Jo membiarkan Clara masuk ke dalam rumah sakit. Bahkan, memberikan makanan itu kepada nya.


Jo hanya diam, ia tidak mau membuat Ryan semakin marah.


Ia pun meminta maaf kepada Ryan, dan mengatakan tidak akan mengulangi nya lagi.


Ryan memaafkan Jo, karena hanya Jo yang menemani dan setia kepada nya sebagai anak buah.