
"Aku ingin sendiri," pinta Kaynara tanpa menatap mereka semua, ia menghapus air mata nya.
"Apa ucapan ku kurang jelas? aku ingin sendirian tolong pergi lah kalian!" Shinta, Caca, Revan, Arvan dan Rangga pun meninggal kan Kaynara sendirian di dalam ruangan itu. Mungkin Kaynara butuh menenangkan pikiran nya
"Apa kata yang tepat untuk protes terhadap takdir? Air mata lebih sanggup mengungkap kan kata lebih banyak daripada pesan yang di ungkap kan semua kata.
Itulah istilah kata yang tepat untuk Kaynara saat ini, walau hampa namun ia harus menjalanin ini semua.
"Ma, sebentar lagi aku akan seperti diri mu, aku akan menjadi seorang Ibu." Air mata nya terus saja menetes, Kaynara tak mampu membendung lagi kesedihan nya.
"Aku merindukan mu ma, Aku merindukan Papa, Nenek, Kakek. Aku merindukan kalian. Aku ingin seperti dulu kita lewati malam dengan bicara, tertawa, bicara semau nya."
"Hari-hari yang ku jalani terasa hampa tanpa kalian. Mungkin batu nisan memisah kan kita namun bayangan kalian tidak pernah hilang di setiap langkah dan nafas ku." Kaynara berbicara dengan nada rendah dan tatapan kosong. Ia menghapus air mata yang terus saja berlinang membasahi pipi nya. Ia sangat merindukan keluarga nya yang sudah pergi.
"Mama....." teriak nya histeris.
Ibu adalah kekuatan bagi anak-anak nya di saat mereka merasa rapuh dan tidak berdaya. Ibu akan memeluk anak-anak nya di saat mereka di dalam titik terlemah, Ibu adalah sinar dari setiap kegelapan yang di alamin oleh anak-anak nya. Ibu adalah tempat anak-anak nya mengeluarkan segala keluh dan kesah dan Ibu adalah rumah bagi anak-anak nya untuk bersandar dan berlindung.
Namun, tidak untuk Kaynara. Bahkan sejak umur nya 14 tahun ia harus mengorbankan masa remaja nya, ia berjuang hidup dan selalu di hina oleh orang-orang. Ia menjalani kehidupan yang sangat pahit tanpa ada nya seorang Ibu di sisi nya. Tidak mempunyai siapapun, harus berdiri tegak dengan kaki nya sendiri tanpa bantuan siapapun. Di saat remaja lain berusia 14 tahun masih memikir kan tentang sekolah, main bersama teman, liburan dan tak memikir kan apapun. Justru Kaynara harus memikir kan bagaimana cara nya agar bisa mencari uang untuk sekolah dan makan. Bisa makan sehari sekali itu adalah anugerah bagi diri nya. Bekerja keras setelah pulang sekolah sampai larut malam agar bisa mengisi perut nya.
Kaynara meringis mengingat itu semua.
"Aku berjanji, kau tak akan mengalami hal seperti yang aku alamin," ucap nya sambil mengelus perut rata milik nya.
"Sehat selalu, aku akan berjuang demi kebaikkan mu dan aku tak akan membiarkan serba kekurangan."
"Saat ini kau lah harta yang ku miliki nak, aku rela mengorbankan perasaan ku agar kau bisa lahir dengan orang tua yang utuh. Aku akan menyayangi melebihi diri ku sendiri, tak akan ku biar kan mereka menyakiti mu. Jika lelaki itu menerima dan menyayangi mu dengan tulus, aku rela menikah dengan nya demi kebaikkan mu, Nak.“ Air mata Kaynara terus saja berlinang, ia terus menerus membelai perut rata nya dengan lembut. Kaynara pun membaring kan tubuh nya di atas ranjang rumah sakit, ia mencoba memejam kan kedua mata nya namun tidak bisa tertidur
Kaynara terbengung dan merasa bosan, ia terduduk di ranjang rumah sakit dan mengambil ponsel genggam dan handsfree milik nya. Ia memasang handsfree tersebut ke kuping nya untuk mendengar kan lagu yang ia rasa begitu bermakna dalam kehidupan nya. Kaynara mendengar dan ikut bernyanyi
*Febby Putri - Usik*
*Tusuk halt gnay natagni gnajrenem
Tudusret uk ini gnaur tagnah malad
Tural halt gnay lah kaugnem
Tersesak beriring kabut
Menguak hal yang t'lah larut
Dalam hangat ruang ini kutersudut
Menerjang ingatan yang tlah kusut
Hanyut di dalam duniaku
Binasa seram kelam redup
Perlahan menjerit atas yang kuterima
Dari orang-orang yang tak paham
Hari-hari kujalani harap ada yang bermakna
Secepat seperti di lahirkan lagi
Tiada yang meminta seperti ini
Tapi menurutku Tuhan itu baik
Merangkai ceritaku sehebat ini
Tetap menunggu dengan hati yang lapang
Bertahan dalam macamnya alur hidup
Sampai bisa tiba bertemu cahaya
Tapi menurutku Tuhan itu baik
Tapi menurutku Tuhan itu baik
Hari-hari kujalani harap ada yang bermakna
Kembalikanlah senyumku
Secepat seperti dilahirkan lagi
Hari-hari kujalani harap ada yang bermakna
Secepat seperti dilahirkan lagi
Hari-hari kujalani harap ada yang bermakna
Secepat seperti di lahirkan lagi*.
******
Setelah selesai mendengar satu lagu itu, Kaynara memutar lagu lain yang menurut nya sesuai dengan keadaan ia saat ini
*Geisha - Seandai nya aku punya sayap
Seandainya aku punya sayap
Terbang, terbanglah aku
Kucari dunia yang lain
Untuk apa disini
Seandainya dapat kau rasakan
Kejam, kejamnya dunia
Tiada lagi keadilan
Untuk apa ku disini
Menjerit dan menangis, pilu dan derita
Merintih dan berdoa dimanapun berada
Seandainya aku punya sayap
Terbang, terbanglah aku
Kucari dunia yang lain
Untuk apa ku disini
Menjerit dan menangis, pilu dan derita
Merintih dan berdoa dimanapun berada
Oh-oh duniaku yang fana ooh
Menjerit dan menangis, pilu dan derita
Merintih dan berdoa dimanapun berada
Oh-oh duniaku yang fana ooh
Seandainya aku punya sayap
Terbang, terbanglah aku*
*********
Suara lemah lembut dan begitu merdu mengisi kekosongan ruangan tersebut, Kaynara menghayati setiap lagu yang ia dengar. Ia merasa, lagu tersebut yang tepat untuk mewakili perasaan nya. Karena terlalu menghayati lagu tersebut, Kaynara tidak sengaja menetes kan air mata nya. Kaynara sudah belajar untuk mengikhlaskan setiap yang terjadi. Namun, ia tetap lah wanita biasa dan lemah. Tidak mudah bagi nya untuk melupakan hal tragis yang menimpa diri nya. Kaynara kaget karena tiba-tiba merasakan tangan seseorang memegang pipi nya. Ia membuka mata nya perlahan
"Kau?"
"Ini, pakai lah!"
"Bukan kah tadi kau permisi untuk pulang?"
"Ya, aku memang permisi untuk keluar, tapi bukan untuk pulang ke rumah dan meninggal kan mu sendirian di sini. Aku akan menjaga mu dari luar ruangan. Tidak ku duga suara mu bagus juga." puji Rangga, pipi Kaynara memerah karena malu.
"Apa kau mendengar kan nya?"
"Bukan aku, tetapi telinga ku yang mendengar nya." Kaynara pun terdiam dan menunduk karena malu, ia terlalu terbawa suasana.
"Kau memiliki suara yang sangat merdu." puji Rangga kembali.
"Tidak, aku hanya iseng saja tadi. Dan aku tidak tahu, bahwa kau masih di luar ruangan dan mendengar kan aku bernyanyi." Kaynara terlihat sangat gugup