
Syafa menangis memeluk Kay.
"Ada apa dengan kamu, Sayang?." Syafa menciumi Kay dengan tulus. Seperti ibu yang meng khawatir kan anak nya."
"Kita akan membawa nya sekarang."
"Tidak usah. Yah. Biar Tata saja. Tata hanya minta tolong untuk Syifa dan si kembar di sini dulu. Tidak mungkin mereka ikut."
"Biar anak-anak sama Ibu. Kamu pergi lah bersama Ayah mu membawa Kay. Kamu juga tidak boleh sendirian."
"Baiklah bu." Shinta dan Ayah nya membawa Kaynara dengan menggunakan Taxi online.
*******
Sesampai di tempat prakter Dokter Clara. Shinta menyuruh Gunawan untuk duduk. Biar ia yang menemui Dokter nya.
"Permisi."
"Silahkan masuk." Shinta pun masuk ke dalam ruangan Dokter Clara.
"Ada yang bisa saya bantu?" Shinta pun menceritakan semua nya kepada Dokter Clara.
"Di mana pasien sekarang?"
"Ada di luar Dok."
"Tolong bawa pasien ke dalam agar saya bisa memeriksa nya."
Setelah Shinta membawa Kaynara kepada Dokter Clara. Clara pun memeriksa keadaan Kay. Clara pun kembali duduk di tempat nya.
"Apa yang terjadi pada adik saya?"
"Adik anda mengalami PTSD atau yang di sebut Post-Traumatic Stress PascaTrauma. Gangguan ini muncul akibat pasien mengalami atau menyaksi kan peristiwa yang tidak menyenangkan. Dan membuat kecemasan korban akibat mengingat kejadian tersebut. Dan pasien juga menggunakan dan kecanduan obat-obatan dengan dosis tinggi untuk melupakan segala kecemasan dan melupakan kejadian tersebut. Jika ia tidak meminum obat itu. Tubuh nya akan gemetar dan pasien akan sangat agresif bahkan bisa membahayakan nyawa orang lain dengan tidak sadar. Pasien sudah sangat bergantung pada obat itu. Ia berfikir dengan menggunakan obat dengan dosis yang berlebih akan membuat diri nya tenang. Padahal justru membuat dirinya semakin terjebak dalam PTSD tersebut."
"Orang yang menderita PTSD biasanya akan sulit melupakan pikiran atau peristiwa yang tidak menyenangkan tersebut"
"Lalu bagiamana cara agar menyembuhkan adik saya?" tanya Shinta
"Tidak ada obat kimia yang tepat untuk penyembuhan kondisi ini. Namun, Anda dapat melakukan terapi sebagai tahap perawatan penyembuhan PTSD. Apa pun jenisnya, macam-macam gangguan jiwa yang dialami oleh seseorang perlu diobati oleh psikolog atau psikiater. Apabila tidak ditangani dengan baik, gangguan jiwa yang dialami bisa semakin parah dan berpotensi membuat mereka menyakiti dirinya sendiri atau orang lain."
Penjelasan dokter Clara bagaikan di samber petir di siang hari bagi Shinta. Shinta pun sadar, begitu banyak yang di alami oleh Kay. Dan itu tidak lah mudah bagi Kay melupakan segala nya. Dari kecil Kay menyaksikan sendiri bagaimana Kakek, Mama dan Papa nya di siksa dan di bunuh dengan Brutal bahkan Kaynara menjadi korban pemerkosaan dan itu semua ulah dari Elsa keluarga Kaynara sendiri. Yang seharusnya Elsa bisa melindungi Kaynara malah justru merusak mental dan masa depan Kaynara.
"Kita obatin satu-satu dulu ya."
"Maksud nya dok?"
"Baiklah dok."
"Untuk sementara biar kan pasien di sini dulu dan saya akan menangani nya." ucap Clara. Shinta sudah tidak tau harus bagaimana. Ia merasa sangat sedih melihat takdir buruk yang menimpa Kaynara
"Semoga kamu selalu di berikan kebahagiaan" harapan Shinta kepada Kaynara.
Shinta begitu sangat sedih dan hancur mengetahui kondisi Kaynara. Ia merasa sangat bersalah. Bagaimana tidak? Sebelum nya Shinta sudah menampar dan memberikan sumpah serapah kepada Kay.
"Bodoh! harus nya aku tidak melakukan itu. Harus nya aku memahami apa yang Kay rasakan." Shinta memukul kepala nya sendiri dengan begitu keras, Gunawan yang mengetahui itu langsung menghampiri anaknya dan memarahi Shinta.
"Apa yang kau lakukan nak?" Gunawan memegang tangan Shinta.
"Tata begitu menyesal Yah. Harusnya Tata tidak kasar pada Kay. Harus nya Tata mencari tahu terlebih dahulu. Harus nya Tata memberikan perhatian lebih pada nya. Tata sangat menyesal hiks." Gunawan memeluk Puteri nya yang menangis.
"Ini semua bukan kesalahan mu, nak. Kau terlalu khawatir dengan keadaan Caca sampai tidak bisa berfikir jernih." Gunawan mencoba menenangkan anak nya itu.
*******
Rangga yang sedang bekerja mendapat kan telepon ternyata itu dari Shinta.
"Rangga?"
"Iya, ada apa? apa ada hal yang terjadi pada Kaynara?"
"Iya, tolong kau segera ke sini ya." Shinta pun mencerita kan segala nya pada Rangga. Rangga yang mendengar penjelasan dari Shinta pun terkejut. Ia meng khawatir kan keadaan Kay. Rangga meminta izin kepada bos nya untuk pulang deluan.
"Barusan izin, ini kamu udah mau izin lagi! apa kamu berfikir ini bengkel keluarga mu sehingga sesuka mu mau datang dan pergi?" Rangga bukan lah bos besar, jadi seringkali ia mendapat kan segala hinaan dari atasan nya. Rangga pun menerima segala hinaan itu
"Maaf kan saya, Pak. Tetapi saat ini keadaan nya sangat darurat. Jika perlu, bapak bisa memotong gaji saya."
"Baik lah!" ucap bos Rangga. Rangga pun segera berlalu pergi dari bengkel menggunakan motor milik nya, Ia menuju ke tempat di mana Kaynara di rawat.
"Semoga kau baik-baik saja. Kuat lah, sebentar lagi aku akan menikah dan membawa mu ke tempat ku. Tak akan ku biar kan kesedihan lagi menghantui diri mu." batin Rangga dia pun melajukan motor nya dengan cepat agar segera sampai. Sesampai di tujuan, Rangga mencari dan menemui Shinta dan Gunawan. Rangga melihat keluarga angkat dari calon isteri nya, Rangga langsung mendekat ke arah Shinta dan Gunawan.
"Bagaimana keadaan Kaynara?" tanya Rangga. Gunawan pun menceritakan semua nya kepada Rangga. Rangga pun terdiam dan mencoba menenangkan diri nya.
"Boleh kah aku menemui Kay?"
"Sebaik nya biar kan dia istirahat dahulu." ucap Shinta namun Gunawan menyuruh Rangga untuk menemui Kay. Mungkin kehadiran Rangga bisa membuat Kaynara lebih baik kondisi nya. Shinta pun menuruti ucapan Sang ayah.
"Masuk lah." Rangga pun menemui Kaynara di ruang inap Kay. Ia memegang tangan Kay dengan penuh kehangatan. Rangga mengelus rambut Kaynara dengan kasih. Kaynara masih tertidur pulas.
"Bagaimana bisa gadis yang barusan saja bersama diri nya untuk makan siang bersama tiba-tiba mengalami kondisi buruk seperti ini? Kecanduan obat?" rasanya Rangga sangat tidak percaya. Wanita yang polos dan begitu baik di mata nya bisa menjadi wanita yang bergantungan pada obat-obatan dosis tinggi. Rangga memandangi wajah manis Kay yang sedang tertidur.