Kaynara

Kaynara
Menggoda



"Apa yang terjadi pada nya kak? mengapa dia terluka?" Revan tak menjawab. Kaynara yang kesal pun masuk ke dalam kamar.


Arvan mencerita kan segala nya pada semua orang, Caca dan Shinta pun kaget.


"Lalu bagaimana?"


"Aku akan segera mempercepat perjalanan mereka."


*****


Kaynara menangis di dalam kamar, ia sungguh tak tega melihat keadaan Rangga yang begitu sangat berantakan.


"Tolong, tolong lah bangun." suara Kaynara melemah. Dia terus menggenggam tangan Rangga.


"Bangun." Kaynara terus menggoncang tubuh Rangga. Syafa masuk ke dalam kamar untuk menenang kan Kaynara. Kaynara pun memeluk Ibu angkat nya itu.


"Bu, tolong suruh dia untuk bangun. Aku tak sanggup jika harus kehilangan nya."


"Aku sudah kehilangan segalanya. Tolong, jangan tinggal kan aku." Syafa tak kuasa mendengar tangisan Kaynara. Kaynara kembali depresi, ia terus menunggu Rangga untuk sadar, namun Rangga tak kunjung sadar.


"Sayang, tenang lah! ingat janin yang ada di kandungan mu." Syafa mencoba menenang kan Kaynara yang menangis histeris melihat keadaan Rangga. Kaynara melepas kan pelukkan nya dari Syafa, dia mengambil semangkuk ice untuk mengompres luka Rangga. Kay hanya terdiam membisu. Shinta, Caca dan yang lain nya sudah berusaha menenang kan Kaynara. Namun, Kaynara hanya diam membisu, air mata nya terus saja mengalir membasahi pipi nya.


"Aku sudah menyiap kan segala nya. Mereka bisa berangkat sore ini." ucap Revan.


"Kay, Rangga harus segera kita obati. Rumah sakit yang bagus untuk merawat nya ada di Paris. Kalian akan segera kesana." ucap Revan dengan berbohong. Apalagi yang harus ia kata kan? jika dia berkata yang sebenar nya Kaynara akan semakin ketakutan.


"Baik lah, Kak. Gimana baik nya saja." ucap Kaynara. Saat ini yang dia ingin kan hanya lah kesembuhan Rangga. Hati nya begitu hancur melihat Rangga yang berbaring tidak berdaya.


*********


Sore hari, Kaynara dan Rangga pergi ke bandara. lengkap di temani oleh tim medis juga kepolisian, Kepergian mereka ke paris akan lama, di pesawat Kay terus saja memandang wajah Rangga. Kesadaran Rangga perlahan membuka mata nya, ia melihat ke sekeliling ternyata ini bukan di rumah. Mereka berada di dalam pesawat. Rangga menoleh ke arah Kaynara dan tersrnyum lemah.


"Syukur lah jika kau sudah sadar, aku sangat takut." Kaynara memeluk Rangga dari samping, dan di balas oleh Rangga peluk kan nya.


********


Di sisi lain, ada wanita yang sedang berduka dengan kematian ibu nya. Yaitu Aini, sebab itu Aini tidak bisa hadir dalam pernikahan sahabat nya. Aini masih dalam keadaan berduka. Clara datang kerumah nya untuk menenang kan Aini.


"Ma-ma k-ku, dia sudah pergi meninggal kan ak-aku." ucap Aini terisak.


"Tenang lah, Ai."


"Aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang." hidung Aini memecah, mata nya sudah sembab akibat kebanyakan menangis.


"Bahkan aku juga belum mengingat siapa Diriku, hiks."


"Tenang lah, Aini! tenang!"


"Bagaimana aku bisa tenang? ibu ku pergi meninggal kan ku untuk selama nya."


"Sudah, kau jangan terus-terusan bersedih! Ibu mu sudah tenang di alam sana.


"Aku sendirian sekarang."


Tidak ada yang sanggup kehilangan Ibu tercinta, Clara waktu itu juga masih sangat kecil. Ia kehilangan ibu nya dan tinggal bersama kakak dan juga Ibu tiri nya. Ibu tiri Clara begitu baik, walau tidak bisa di ungkiri. ibu tiri nya lebih menyayangi saudara tiri nya. Bahkan kakak tiri Clara selalu bersikap tidak baik pada nya.


"Sebelum mama meninggal, mama pernah berkata bahwa aku masih memiliki saudara." ucap Aini.


"Bahkan saudara ku pernah datang ke rumah dan mencari ku. Namun, karena Mama sangat takut kehilangan ku. Dia berbohong dan berkata tidak tahu apa-apa. Saat itu, aku sangat kecewa dan marah pada mama. Kita bertengkar hebat sampai akhir nya mama jatuh karena serangan jantung. Aku sangat menyesal." Aini kembali menangis menyesali perbuatan nya. Tak seharus nya dia bersikap tidak baik pada ibu yang selama ini membesar kan nya.


"Sudah lah, semua akan baik-baik aja. Aku akan membantu mu untuk menemu kan saudara mu itu." janji Clara pada Aini.


"Jangan menangis lagi."


*****"""


Pandangan Kaynara tak mau beralih dari Rangga. Rangga pun tersenyum dan terus menatap Kaynara.. membelai rambut Kaynara dengan lembut. Seakan pesawat ini hanya milik mereka berdua..


"Aku tidak apa-apa. Percaya lah.!"


"Tolong, kata kan pada ku. Mengapa kau bisa seperti ini? bukan kah tadi kau berkata pada ku ingin bekerja?"


"Tadi ada sekumpulan preman yang ingin merampas milik ku. Aku tak akan membiar kan dia mengambil milik ku. Jadi dia marah dan menyuruh orang memukuli ku."


"Mengapa dia jahat sekali? ingin rasa nya aku mencari tahu siapa dia."


"Jangan pernah lakukan itu! aku rela mati untuk mu, jadi jangan pernah cari tahu siapa dia."


"Memang nya kenapa? seperti aku saja yang ingin dia ambil."


"Memang."


"Tapi tadi kau berkata bahwa dia ingin mengambil sesuatu milik mu. Kenapa aku?" tanya Kaynara bingung.


"Karena kau lah milik ku." Kaynara pun merasa malu mendengar ucapan Rangga. Pipi nya memerah, ia pun menundukkan dan menutupi wajah manis nya. Rangga memegang dagu Kay dan menatap wajah Kaynara.


"Kau cantik jika salah tingkah seperti itu." Rangga mencium dan ******* bibir manis milik Kaynara. Kaynara tersadar ini masih di dalam pesawat. Ia pun menjauh kan wajah nya dari Rangga.


"Kita masih berada di dalam pesawat." ucap Kaynara berbisik.


"Baik lah, kita akan melanjut kan nya kembali ketika sudah sampai di Paris." bisik Rangga dengan menggoda, membuat bulu kuduk Kay berdiri.


"Kau masih sakit tetapi tetap sajamenggoda ku."


"Apa aku harus menggoda pramugari di sini?" Kaynara pun memukul bahu Rangga dengan kuat.


"Awww." ringis Rangga.


"Apa yang sakit? maaf kan aku ya." Rangga pun terkekeh melihat tingkah Kaynara. Rangga memeluk Kaynara dan mencium pucuk kepala nya..


"Perjalanan kita masih panjang, tidur lah." Kaynara pun memejam kan mata nya di bahu kekar milik Rangga.


"Setidak nya, beberapa waktu ini aku bisa merasa aman melindungi mu di sini. Maaf kan aku yang tak menceritakan hal sejujur nya pada mu. Aku tak ingin kau merasa khawatir dan cemas lagi. Aku berjanji akan menjaga mu walau harus kehilangan nyawa ku sendiri.