
"Mengapa melamun nak? bukan nya kamu istirahat?"
"Tadi terbangun lagi, Bu."
"Yasudah, kamu makan ya. lalu minum obat." Syafa pun menyuapi Kaynara. Tidak lama kemudian Shinta, Caca dan para suami mereka masuk ke dalam kamar Terlihat Syafa yang sedang menyuapi Kaynara dan memberikan perhatian kepada Kaynara. Shinta dan Caca saling memandang satu sama lain dan tersenyum bahagia. Mereka berharap dengan ada nya Syafa. Luka Kaynara akan kehilangan Ibu nya dapat terobati sedikit demi sedikit.
"Ehemmm," Shinta masuk dan meletakkan makanan yang tadi mereka beli ke meja.
"Kalian sudah balik? kenapa lama sekali?" tanya Gunawan.
"Ayah, Ibu. Kita punya kabar gembira untuk kalian,"
"Kabar gembira?"
"Apa itu?"
"Iya, kabar gembira apa? aku sangat penasaran," sambung Kaynara.
"Aku dan Caca sedang mengandung bersamaan."
"Wah, selamat ya kak,"
"Selamat, Sayang." Syafa meletakkan mangkuk bubur tersebut di meja dan mendekati Shinta juga Caca.
"Selamat, Sayang." Syafa mencium dan memeluk Shinta dan Caca secara bergantian.
"Ini kabar yang sangat bagus,"
"Syifa dan si kembar akan mempunyai adik. Bukan hanya satu tapi dua sekaligus,"
"Aku berharap anak kalian kembar lagi agar aku akan banyak mempunyai keponakan." ucap Kaynara dengan heboh nya. Ia melupakan rasa sakit nya
"Jika kau ingin melihat keponakan mu, berhenti lah untuk mencoba mengakhiri hidup mu."
"Iya, Tata benar. Kau harus tetap hidup Kay agar bisa bermain dengan mereka," Caca mengelus perut nya yang masih rata.
"Aku berjanji kak tidak akan melakukan hal bodoh lagi," Kaynara sangat bahagia, bukan hanya dia saja yang bahagia mendengar kabar ini. Namun, semua orang merasa sangat bahagia.
Dokter pun masuk ke dalam ruangan, meminta mereka untuk meninggal kan ruangan karena Kay akan di periksa, yang lain nya pun keluar. Setelah selesai memeriksa keadaan Kay. Dokter memberitahu bahwa Kay sudah bisa pulang ke rumah. Semua orang pun senang. Kay meminta untuk tinggal di rumah Shinta, karena ia ingin membantu Shinta merawat Syifa dan juga si kembar. Apalagi saat ini Shinta sedang mengandung pasti sangat kerepotan. Shinta pun dengan sangat bersenang hati mengizin kan Shinta untuk tinggal di rumah nya. Bukan karena Kay akan membantu nya mengurus anak tetapi karena ia akan memiliki teman berbicara dan berbagi duka.
Kaynara pun kembali kerumah Shinta, Shinta mengajak Kay dan yang lain nya untuk sarapan terlebih dahulu.
"Sudah, ayo kita sarapan dulu." ajak Shinta. Semua orang pun mengambil nasi mereka, Kaynara merasa perut nya seperti di aduk-aduk. Ia merasa sangat mual dan ingin muntah.
"Permisi," Kaynara beranjak dari tempat duduk nya menuju kamar mandi. Shinta dan Caca yang merasa khawatir pun mengikuti Kaynara.
"Kay, kamu kenapa?"
"Kamu kenapa, Kay."
Uwekk.... uwek
"Kay." Shinta memijit leher Kaynara perlahan. Caca melamun
"Jangan-jangan," batin Caca. Ia mengkhawatirkan keadaan Kaynara.
"Ca, tolong ambil kan minyak kayu putih di kamar si kembar," pinta Shinta namun Caca masih melamun.
"Ca!"
"Eh, iya. Kenapa?"
"Tolong ambil kan minyak kayu putih di kamar si kembar."
"Iya," Caca keluar dan segera menuju kamar si kembar untuk mengambil minyak kayu putih. Setelah ia menemukan minyak kayu putih tersebut Caca berjalan dengan cepat dan memberikan itu pada Shinta. Shinta memberi kan minyak tersebut di leher Kaynara.
"Bagaimana, Kay?"
"Sudah agak mendingan kak, kepala ku terasa pusing." Kaynara memegang kening nya.
"Kay, ayo kita kerumah sakit," ajak Caca.
"Aku rasa tidak perlu kak, mungkin hanya masuk angin aja."
"Iya, Ca. Kau tidak usah khawatir, Kaynara sudah kata kan bahwa ia baik-baik saja." Caca mengalah
"Baik lah, ayo kita melanjut kan makan kita. Mereka pasti menunggu kita,"
"Ayo!“ mereka pun menuju ruang makan dan duduk di tempat semula. Namun melihat makanan itu Lagi-lagi Kaynara merasa sangat mual, ia berlari menuju kamar mandi lagi dan muntah.
"Kita harus membawa Kaynara ke rumah sakit!" tegas Caca.
"Baik lah, ayo kita bawa Kaynara ke rumah sakit." Shinta bangkit dan menemui Kaynara di kamar mandi. Perasaan Caca sangat tidak tenang, tangannya gemetar
"Sayang, ada apa?" tanya Arvan memegang jemari Caca. Kaynara dan Shinta sudah kembali ke ruang makan.
"Ayo kita ke rumah sakit," Caca bangkit dan mengajak semua nya ke rumah sakit, mereka pun pergi ke rumah sakit. Shinta menitip kan Syifa dan si kembar pada pelayan, sebelum nya ia sudah menelpon Ibu dan Ayah nya dan meminta tolong untuk datang menemani Syifa dan si kembar di rumah.
*******
Sesampai di rumah sakit dokter memeriksa Kaynara dan mengatakan bahwa Kaynara sedang mengandung jalan 2 minggu.
"Selamat atas kehamilan anda, Nona."
"Kalau begitu saya permisi dulu," ucap sang Dokter dan berlalu pergi meninggal kan Kaynara
Degg!!!!
Seperti tersambar petir, Kaynara merasa sangat kaget dan hancur. Kehamilan adalah kebahagiaan di setiap wanita, namun tidak dengan diri nya. Air mata Kaynara mengenang. Ia mengutuk diri nya sendiri.
"Kenapa, Tuhan?“ teriak nya histeris. Caca, Shinta, Arvan dan Revan pun masuk ke ruangan, setelah mendengar penjelasan dari Dokter tersebut mereka langsung masuk ke dalam ruangan dan melihat Kaynara menangis frustasi. Caca dan Shinta langsung memeluk Kaynara, Apa yang Caca takut kan terjadi. Ia merasa sangat bersalah pada Kaynara, bagaimana pun Ibu nya penyebab dari kehancuran dan penderitaan Kaynara.
"Bagaimana sekarang kak? aku sudah sangat hancur sekarang,"
"Mengapa kak? kenapa semua terjadi padaku? bahkan aku tidak tau siapa Ayah dari anak ku." ucap nya histeris.
"Rencana apa lagi ini Tuhan?" batin Kaynara. Bukan ia tak mengingin kan bayi itu. Namun, bagaimana bisa ia mengandung dan melahir kan tanpa ada nya seorang suami. Bahkan ia tak mengetahui anak siapa ini, kehamilan nya membuat Kay semakin drop dan mengingat kejadian buruk menimpa diri nya beberapa waktu yang lalu. Belum bisa ia melupa kan luka itu. Kini, ia harus di hadap kan dengan kenyataan telah mengandung anak dari hasil kekerasan serta pemerkosaan yang ia alami. Dada nya begitu sangat sesak, Kay tidak sanggup lagi menjalani kehidupan seperti ini. Shinta memeluk Kay dengan erat, ia mencoba menenang kan Kaynara dan berkata semua akan baik-baik saja.
"Bagaimana semua akan baik-baik saja kak? anak ku akan lahir dan tumbuh besar tanpa seorang Ayah. Aku akan hidup dan membesar kan anak ku tanpa seorang suami." ucap nya dengan nada terisak.