
"Kamu juga banyak menderita karena perbuatan Ibu mu. Kamu kehilangan orang yang kamu cintai dulu karena ibumu, kamu harus jauh dari Syifa anak kamu sendiri selama bertahun-tahun. Kamu gak bisa dekat sama anak kamu karena Ibu mu yang jahat itu. Kamu harus kehilangan semua orang yang kamu cintai karena dia. Dan jangan lupa, baru-baru ini kamu juga kehilangan janin kamu karena siapa? Karena wanita yang kamu bilang Ibu kamu. Jadi stop! berhenti menyalah kan diri kamu sendiri atas penderitaan orang yang di lakukan oleh Ibu mu, kamu udah cukup menderita,Ca."ucap Shinta kembali. Caca semakin terisak di dalam pelukkan Shinta. Kaynara yang mendengar semua percakapan Caca dan Shinta dari luar menangis. Ia tak menyangka, bahwa Caca juga menderita selama ini, ia mengira bahwa Caca hidup bahagia tidak seperti diri nya yang menderita. Namun, ia salah. Caca juga menderita, bahkan Caca lah orang yang paling menderita, Ibu kandung nya sendiri yang tega menghancurkan kehidupan dan kebahagiaannya. Kaynara merasa sangat bersalah, ia tak seharus nya membenci Caca hanya karena ia Puteri dari wanita yang membunuh dan menghancurkan keluarga nya. Caca juga menderita, tidak jauh beda dari diri nya.
Kaynara masuk ke dalam dengan langkah yang gemetar dan menangis
"Ka-kakak," ucap nya dengan bibir yang gemetar, Caca dan Shinta yang mendengar langsung melepas kan pelukkan mereka. Mereka berdua menoleh ke arah Kaynara yang sedang menangis.
"Kaynara," Caca berdiri dan mendekat ke arah kaynara.
"Maaf kan aku, kak." Caca menahan tubuh Kaynara yang hampir terjatuh ke lantai.
"Kay, ada apa? berdiri lah!" perintah Caca. Kaynara pun bangkit dengan tangan dan bibir yang ber gemetar.
"Maaf kan aku," Kaynara langsung memeluk Caca dengan tangisan yang terisak. Caca, Shinta dan semua yang ada di ruangan itu tak mengerti. Sebelum nya, Kaynara wanita yang sangat angkuh dan dingin. Tapi, sekarang. Kaynara yang di hadapan mereka seperti adik kecil yang meminta ampun kepada kakak nya. Caca melepas kan pelukkan mereka.
"Kay, Ada apa?"
"Maaf kan aku, aku salah paham padamu." Kaynara memegang dan mencium pucuk tangan Caca.
"Aku mengira, kau hidup dengan mewah dan penuh kasih sayang dari kedua orang tuamu. Tidak seperti aku yang harus bekerja dari pagi sampai malam agar bertahan hidup. Tapi, nyata nya. Kau juga sangat menderita, maaf kan aku," Caca pun ikut menangis dan memeluk Kaynara kembali.
"Kau juga banyak menderita, tak seharus nya kau menerima sikap tidak baik dari ku. Ini semua bukan salah mu, Kak," Shinta pun tersenyum, amarah nya menghilang. Ia bersyukur, Kaynara sudah berubah dan menyadari bahwa apa yang terjadi pada nya bukan lah salah Caca. Sudah seharusnya sebagai seorang saudara mereka saling mengasihi dan melindungin. Kaynara melepaskan pelukkan nya pada Caca dan melihat ke arah shinta. Kaynara meminta maaf atas apa yang ia lakukan tadi, tak seharus nya ia membentak anak Shinta. Kaynara merasa sangat bersalah. Shinta tersenyum dan memegang bahu Kay.
"Asal kau tidak mengulanginnya lagi, dan belajar lah untuk menyayangi Syifa. Ia adalah anak nya Caca dan juga anak ku,"
"Aku berjanji kak, Aku berjanji tidak akan kasar lagi pada Syifa, maaf kan aku kak," Shinta pun memeluk Kaynara lalu melepaskan pelukkan itu
"Aku memaafkan mu," Ya, begitu lah Shinta. Walau pun ia sangat tegas, namun shinta wanita yang sangat lembut dan penuh kasih. Shinta mengelus pipi Kaynara dengan penuh kasih. Ia tahu, saat ini yang Kay butuhin adalah kasih sayang dan dukungan dari orang orang di sekitar nya. Mereka sangat bahagia. Caca dan Shinta mengajak kaynara untuk bertukar cerita tentang kehidupan mereka. Sering di selingin canda tawa, terkadang juga air mata mengingat masa kelam yang mereka hadapin. Sedangkan, Revan dan Arvan mereka memilih ke kamar si kembar Alan dan Alana dan bermain bersama mereka.
"Apa kau tahu, Kay. Dulu, Ibu ku pernah membawa seorang gadis berusia 14 tahun ke rumah. Ibu, Ayah dan aku sangat menyayangi nya. Namun, ia pergi dari rumah. Kami mencari nya kemana pun tapi tidak juga ada. Aku, Ibu, Ayah sangat merindukan nya." Kaynara yang mendengar ucapan Shinta menetes kan air mata dengan tidak sadar.
"Aku juga merindukan kalian,"
"Kay, kenapa kamu nangis?" tanya Shinta. Caca langsung menoleh ke arah Kaynara.
"Iya, Kay. Kamu menangis?"
"Tid-aak, eh. Maksud aku, Iya," Kaynara menghapus air mata nya.
"Jangan bicara seperti itu! Kita ini juga keluarga mu, kamu akan mendapat kan kasih sayang yang akan kamu dapat kan sejak dulu," ucap Shinta.
"Sudah! jangan ada lagi air mata. Ayo, kita ke kamar si kembar!" ajak Shinta. Caca dan Kaynara pun mengikuti Shinta.
Di dalam kamar si kembar ada Revan dan Arvan yang bermain dengan baby Alan dan Alana. Kedua pria itu menoleh ke arah mereka.
"Kami ingin bermain dengan baby Al dan Alana," ucap Shinta.
"Kalian para wanita pergi lah, kami sedang asyik bermain bermain dengan baby Al dan Alana," ucap Revan.
"Iya benar," Arvan pun menyetujui ucapan Revan. Caca melihat suami nya yang tersenyum bahagia bermain dengan si kembar, ia menetes kan air mata
"Ayo kita ke kamar syifa," ajak Shinta. Caca pun mengangguk, Kaynara yang melihat ketulusan di mata ke dua wanita yang ada di hadapan nya.
"Mereka saling menyayangi," batin Kaynara. Ia semakin merasa bersalah, tidak seharus nya ia dulu memusuhi Caca atas apa yang sudah Elsa lakukan.
"Kay, ayo!" Shinta memecah kan lamunan kaynara.
"Eh, iya." ia pun mengikuti Shinta dan Caca. Shinta membuka pintu kamar Syifa, mereka pun masuk ke dalam.
"Mama," teriak Syifa kegirangan, ia berlari mendekat ke arah Shinta dan Caca namun langkah nya terhenti ketika melihat Kaynara yang ada di belakang Shinta dan Caca. Syifa merasa sangat takut. Ia memaling kan tubuh nya
"Sayang, kenapa?" tanya Caca.
"Sayang, sini. Tante kaynara tidak akan memarahi mu lagi," Shinta mendekat ke arah Syifa dan memberikan sentuhan hangat pada Puteri nya. Ia mengecup dan memeluk Syifa.
"Jangan takut, Sayang!"
"Syifa tidak suka ma pada tante itu, dia jahat," ucap nya dengan nada gemetar. Shinta melepaskan pelukan nya dari Syifa.
"Sayang, apa kamu percaya sama mama?" Syifa mengangguk.
"Bagus! percaya pada mama bahwa tante Kaynara bukan lah orang jahat," Syifa melihat ke arah kaynara dengan menelan ludah nya . Dahi Syifa bercucuran keringat. Ia masih ingat, bagaimana sebelum nya wanita yang ada di hadapan itu bersikap sangat galak memarahinnya, membuat Syifa sangat takut.