Kaynara

Kaynara
Melindungi Clara



Ryan mendekati Clara dengan tatapan yang begitu mematikan.


Jo berlari ke arah mereka, ia khawatir jika Ryan menyakiti Clara.


Clara mundur, dengan ketakutan.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk."


Diam!


Ryan berteriak kepada Clara, membuat wanita itu kaget.


Ia menatap Ryan, ia tahu jika saudara tiri nya itu begitu marah besar.


"Sudah aku katakan kepada mu jangan pernah muncul di hadapan ku. Apa kau memang aku menghabisi mu?"


Clara menggeleng, air mata nya menetes membasahi pipi nya.


Jo merasa tidak tega dengan Clara, seharusnya ia mengangkat ponsel nya tadi.


Jika dia mengangkat panggilan dari Clara, pasti semua tidak akan seperti ini.


Clara tidak harus datang dan bertemu dengan Ryan.


Rencana nya menjadi kacau, saat ini yang ia lakukan hanya memenangkan bos nya itu.


"Diam Jo, jangan kau bela wanita ini!" bentak Ryan kepada Jo, terlihat kegelisahan di mata Jo.


Ryan melayangkan tangan nya untuk memukul Clara, namun dengan spontan Jo menahan tangan Ryan.


Ia menarik Ryan keluar dari kamar tersebut dan membawa Ryan jauh dari sana.


"Maaf kan saya tuan, namun saya tidak ingin tuan kehilangan kendali. Ini di rumah sakit, banyak saksi mata, jika Tuan menyakiti nya di sini. Tuan bisa di penjara, saya tidak mau tuan di penjara hanya karena wanita itu." Jo terpaksa berbohong, Ryan yang kesal awal nya kepada Jo pun mengerti.


"Terimakasih Jo, aku mengira kau memikirkan nya dan takut dia terluka. Ternyata, kau mengkhawatirkan aku." Ryan tersenyum kepada Jo, kemarahan nya pun memudar.


Ryan senang, jika masih ada yang perduli kepada nya.


"Baik lah Jo, namun jika aku kembali bertemu dengan nya. Aku akan membunuh nya, aku tidak perduli jika di tempat umum.


Jo mengangguk, terserah apa yang bos nya katakan. Yang terpenting saat ini keselamatan Clara sudah aman.


Ryan meminta Jo untuk mengusir Clara, ia tidak mau mood nya hancur karena Clara.


Jo pun mengangguk, menuruti permintaan Ryan..


Ia juga ingin melihat keadaan Clara, pasti Clara merasa ketakutan karena sikap Ryan tadi.


Jo berjalan, mendekati ruangan Ryan yang terdapat Clara.


Terlihat Clara menangis ketakutan, Jo mendekat. Clara menatap dengan tatapan sendu.


Saat Jo mendekat, Clara langsung memeluk nya.


"Jo, mengapa dia sangat membenciku hiks." Clara menangis di pelukan Jo, hati Jo berdegup kencang. Ia tak tahan melihat Clara menangis seperti itu, namun Jo juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Ia membalas pelukan Clara, menenangkan Clara.


"Sudah saya katakan sebelum nya kepada mu Clara, namun anda tidak pernah mendengarkan nasehat yang saya berikan." Jo mengelus rambut Clara


Clara meminta maaf, ia terlalu antusias untuk melihat keadaan Ryan.


"Aku tadi sudah mencoba menghubungi mu, namun kau tidak menjawab nya."


"Jika saya mengangkat nya, berarti saya tidak bisa mengangkat nya. Kenapa kamu tidak sabaran Hem?" Jo merasa kasian kepada Clara, padahal ia hanya ingin menjenguk saudara nya namun Clara di perlakukan seperti orang asing.


Clara memeluk Jo semakin erat, merasa nyaman dengan pelukan Jo.


Jo melepaskan pelukan mereka, Jo mengajak Clara untuk segera pergi.


"Mari kita pergi! Aku tidak bisa menahan kemarahan nya untuk ke dua kali." ajak Jo megenggam tangan Clara.


Clara hanya diam mengikuti, Jo berjalan lawan arah tidak jalan dari tempat Ryan berada.


"Jo, makanan ku sudah hancur." gumam Clara bersedih, Jo juga sedih karena ia tidak bisa menikmati masakan Clara lagi.


Jo hanya diam, ia tak mau meladeni Clara, menurut nya wanita itu begitu rumit.


Jo menarik dan membuang nafas dengan kasar, ia begitu frustasi melihat keras kepala Clara. Sudah seperti ini masih saja memikirkan tentang makanan untuk Ryan.


"Masih untung hanya makanan mu saja yang rusak, tidak nyawa mu."


Clara merinding mendengar ucapan Jo, namun ia juga tau. Bagaimana sifat kakak nya itu.


"Jo, kau jadi pengawal ku saja. Melindungi ku,"


"Tidak bisa!" Clara kaget, ia memukul bahu Jo.


"Biasa aja dong bilang enggak bisa nya, kaget tau!"


Protes Clara, ia pun mendumel. Jo hanya menggeleng kepala nya.


Bagaimana bisa Clara berfikiran seperti itu, dia hanya anak buah Ryan.


Dan Jo, tidak akan berpaling dari bos nya itu.


"Jo, mengapa Kakak ku sebenci itu kepada ku?"


"Bersabarlah. Nanti dia akan sadar dengan sayang dan ketulusan mu." ujar Jo kepada Clara.


Jo juga meminta kepada Clara untuk tidak menghubungi nya atau datang ke rumah sakit lagi.


"Bos Ryan sudah membaik, dan sebaik nya kamu menepati janji untuk tidak mencoba menemui nya lagi. Dan tolong, pekerjaan saya sangat banyak jangan lagi menghubungi saya."


Clara merasa sedih dengan ucapan Jo. Entah karena Jo melarang nya bertemu dengan Ryan atau tidak menghubungi nya kembali.


Clara pun mengangguk, menghargai keputusan Jo.


"Baik lah aku tidak akan menemui nya atau menghubungi mu lagi, tolong jaga kakak ku ya." ucap nya sedih, Jo juga merasa sedih.


Mungkin ini pertemuan mereka yang terakhir, Jo seperti itu demi keselamatan Clara juga.


Ia tidak bisa melihat Clara terluka.


Clara pun pulang dengan perasaan yang sedih namun setidak nya ia bisa bernafas lega karena keadaan kakak nya sudah membaik.


Jo menatap punggung belakang Clara yang perlahan menjauh dari pandangan nya.


Jo berharap, Clara bisa bahagia dan menjaga diri nya dengan baik.


"Ini semua demi kebaikan kamu. Maafkan aku." gumam nya.


Clara menoleh ke belakang, melihat Jo namun Jo membuang muka sembarang arah, memalingkan wajah nya dari Clara.


Clara berfikir jika Jo tidak perduli dengan nya, Clara bingung dengan perasaan nya sendiri. Mengapa ia merasa sedih ketika Jo mengatakan jangan mengubungi nya lagi.


Mungkin, karena ia tidak bisa bertemu atau mengetahui keadaan kakak nya Ryan.


Jo kembali kepada Ryan, terlibat makanan itu berserakan di lantai.


"Sangat di sayangkan, padahal aku bisa memakan nya." batin Jo, ia melirik ke arah bos nya yang sudah lebih tenang dari sebelumnya.


"Jo, aku sangat lapar. Tolong belikan aku makanan." pinta Ryan dengan baik.


"Ada makanan tadi di buang, sekarang merasa lapar. Aneh sekali." gumam Jo.


"Aku mendengar ucapan mu, bajingan!" umpat Ryan, terlihat wajah nya mulai gusar dan kesal


Jo tersenyum dan meminta maaf kepada Ryan.


"Saya hanya bercanda, Tuan! Baik, saja akan membelikan makanan kesukaan tuan." ucap Jo.


Ia pun segera pergi membelikan makanan yang di inginkan oleh Ryan..


Jo melihat mobil Clara yang baru pergi dari parkiran rumah sakit, Jo menatap mobil nya.


Jo ingin selalu dekat dengan Clara, namun jika mereka dekat. Clara tidak akan aman, Ryan pasti akan marah dan mungkin menghabisi Clara.


Jo mengingat bagaimana Ryan menghabisi seorang wanita paru baya dengan begitu sadis.


Mungkin, wanita itu seusia ibu nya namun Ryan tidak ada rasa takut sedikit pun menghabisi nya. Dan Jo tidak ingin nasib Clara seperti wanita yang telah di habisi Ryan beberapa waktu lalu.