
"Maaf, Ma." Aini mengerat kan pelukkan nya kepada sang Ibunda. Mama Aini membalik kan badan dan membalas pelukan anak nya.
*****
Malam pun berlalu menjadi pagi hari, Kaynara membuka mata nya perlahan. Ia melihat Rangga sudah berada di samping nya. Rangga memberi kan sarapan pagi dan seperti biasa menyuapi Kay makan. Semakin hari kedua pasangan ini semakin kompak saja. Rangga juga tidak malu menunjuk kan rasa romantis nya pada Kaynara. Karena Rangga orang yang penyayang.
"Mengapa pagi-pagi sekali kau kesini?"
"Untuk diri mu." jawaban Rangga semakin membuat Kaynara salah tingkah. Rangga menyuapi Kaynara hingga Kay menghabis kan makanan nya. Dia juga membantu Kaynara untuk minum obat, Rangga mengupas buah pir dan memotong nya untuk di makan Kaynara.
"Aku harus pergi bekerja, Kay."
"Baik lah, hati-hati ya. Cepat lah kembali."
"Aku akan segera kembali." Rangga membelai pipi Kaynara dengan lembut lalu meninggal kan Kaynara sendirian. Kaynara sedang asyik menikmati buah itu. Diri nya pun tersenyum sendiri
"Begini ya rasa nya sedang jatuh cinta." batin Kaynara tanpa dia sadar ada orang lain yang masuk.
"Kay." mendengar panggilan dari seseorang kaynara menoleh ke arah suara itu berasal. Melihat Caca yang datang air mata Kay langsung menetes. Ia meletakkan buah pir itu di meja dekat ia berada.
"Jangan, Kay!" pinta Caca. Kaynara ingin turun dari tempat tidur nya namun di larang oleh Caca. Caca langsung menghampiri Kay dan memeluk sepupu nya itu.
"Maaf." suara Kay terisak, ia sangat menyesali perbuatannya dan mencaci diri nya sendiri. Caca melepas kan pelukkan mereka
"Tidak apa-apa, kau tidak sengaja melakukan nya. Lagi pula aku yakin, kamu tidak akan melukai ku atau pun calon keponakanmu." Caca pun menghapus air mata Kaynara dan mengecup kening nya.
"Tadi aku sudah bertemu dengan Dokter yang merawat mu. Dia bilang kau sudah bisa pulang besok, namun aku tidak sabar dan meminta mu pulang sekarang. Karena kondisi mu yang sudah membaik. Dia pun mengizinkan nya." sebelum masuk kedalam ruangan Caca dan Arvan sudah berbicara pada psikolog yang menangani Kaynara. Yaitu dokter Clara.
"Tidak kak."
"Kenapa, Kay?"
"Aku tidak ingin berada di dekat kalian. Aku tidak ingin kalian terluka kak, aku takut jika aku seperti kemarin tidak dapat mengontrol diri ku sendiri dan akhirnya melukai kalian." air mata Kaynara terus berlinang.
"A-akuu ti-dak ingin menjadi duri d-dalam kehidupan kalian semua." ucap Kaynara yang senggugukan. Seakan menyesali apa yang sudah terjadi.
"K-kak ak-aku sedari umur 15 tahun sudah hidup sendirian. Biar lah aku menjalani kehidupan ku sendiri. Aku tak ingin kalian terlibat dalam masalahku." mendengar ucapan Kaynara yang begitu membuat dada Caca sesak. Caca memeluk Kaynara dengan begitu erat. Kaynara menangis di pelukkan Caca dengan pilu
"Sudah, kau bukan lah duri dalam kehidupan siapapun. Bahkan kamu adalah cahaya penerang bagi kita semua. Malaikat tanpa sayap bagi anak mu kelak. Kau wanita terhebat di dunia bagi suami dan anak mu kelak. Jangan hancurkan hati anak dan Calon suami mu dengan keputus asaan mu, Sayang. Kita semua sangat menyayangi dan mencintai mu. Kamu adalah harta terindah yang Tuhan berikan untukku. Ibu dan Ayah mu pasti orang baik dan malaikat karena sudah memberikan aku adik seperti diri mu. Sudah ya, jangan berfikiran kamu itu tidak berharga. Karena bagi ku kamu adalah berlian yang tak ternilai harga nya. Kamu juga harus tau betapa kami sangat sangat dan sangat menyangi dan mencintai mu. Dunia kami hancur jika kau seperti ini." ucap Caca sambil menangis
"Aku berjanji tidak akan melakukan hal itu kak. Sekali lagi maaf kan aku." Caca pun melepas kan pelukan mereka dan tersenyum.
"Bagaimana keadaan mu?"
"Benar kah?" Kaynara pun tersenyum dan mengangguk malu.
"Seperti nya dia sangat mencintai adik ku ini ya?" ejek Caca yang ingin memecah kan suasana. Diri nya tidak ingin Kay terus terusan bersedih, Harus ada kebahagiaan dan Kaynara harus bangkit dalam keterpurukan. Mau sampai kapan Kaynara harus larut dalam keterpurukan? sebisa mungkin Caca dan yang lain nya mencoba menyembuh kan Kaynara.
"Bagaimana kabar yang lain nya kak?"
"Mereka sangat baik dan sangat sangat merindu kan mu, Kay. Semua orang ingin kau cepat kembali pulang ke rumah dan berkumpul bersama."
"Apakah kak Shinta masih marah pada ku, kak?"
"Tidak, Sayang! tidak ada yang marah pada mu. Bahkan mereka ingin sekali bertemu dan segera berkumpul dengan mu."
"Tetapi, mengapa mereka tidak datang menjenguk kak?"
"Mereka selalu menjenguk mu. Tetapi, kau selalu tidur dan kau tahu bagaimana kakak mu yang satu itu kan? dia tak akan mungkin mengganggu waktu istirahat adik yang paling kami sayangi, kesayangan kami semua." Kaynara pun tersenyum.. Dia merasa sangat beruntung memiliki keluarga seperti Ibu Syafa, Ayah Gunawan, Kakak Caca beserta suami serta kakak Shinta beserta suami dan anak-anak nya. Apalagi keponakan yang begitu imut, Syifa dan si kembar Alan, Alana.
"Apa kau sudah makan?" tanya Caca kepada Kay.
"Sudah kak."
Caca menemani Kaynara sampai siang hari, setelah itu berpamitan untuk pulang karena Rangga kembali datang dan membawa kan makanan untuk Kaynara. Walau di klinik itu selalu menyiap kan makanan. Kay akan selalu memilih memakan makanan yang di siap kan oleh Rangga atau pun masakan yang di bawa oleh teman baru nya Aini.
"Sebaik nya kakak pulang dahulu ya. Ada calon suami mu yang datang, kakak tidak ingin mengganggu kalian."
"Tidak, kak! kakak tidak menganggu. Di sini lah sebentar kak, aku masih merindu kan mu."
"Sayang, besok aku dan Shinta akan kembali kesini untuk menjemput mu. Sekarang, kamu mengobrol lah dengan calon adik ipar ku. Habis kan waktu berduaan kalian, okey!" Caca pun memain kan mata nya. Caca dan Arvan pun berpamitan untuk pulang ke rumah.
"K-kau kembali lagi?" tanya Kaynara yang salah tingkah, terlihat wajah nya memerah tersipu malu.
"Aku membawa kan ini untukmu."
"Un-yntuk k-ku?"
"Iya, ini untuk mu." Kay begitu kaget melihat bacaan "WILL YOU MARRY ME?" tangan Kay gemetar
"Ap-apa i-inii?" Rangga pun mengeluar kan sebuah cincin dari kantong nya.
"Apa kah ingin menikah dan hidup menua bersama ku?" Rangga memegang jemari Kaynara. Perasaan Kaynara begitu sangat senang tercampur haru yang luar biasa. Ia belum percaya bahwa Rangga sedang melamar diri nya.