
Clara hancur dengan ucapan kakaknya, apakah benar jika dirinya hanya pembawa sial untuk orang-orang terdekatnya?
"Kau dah ibu mu sama saja! Kalian itu manusia pembawa sial! Kalian selalu melukai orang-orang sekitar demi keuntungan kalian sendiri!"
Ryan mengecam adik tirinya dengan ucapan-ucapan pedas yang tak bisa Clara terima "Cukup! Kau boleh menghina diri ku! Aku bisa menerimanya namun kau tidak berhak menghina mama ku. Siapa kau? Yang berani mempertanyakan tentang mama ku? Kau manusia tidak tahu diri Ryan! Mama ku selalu menyayangi museperti menyayangi dan mencintai ku anak kandungnya. Namun kau selalu mengatakan hal buruk tentangnya, padahal dia telah tiada!"
Clara seakan kehilangan kesabarannya, ia bisa menerima setiap hinaan yang Ryan berikan kepadanya. Namun Clara tidak bisa menerima jika mamanya di hina seperti itu!
"Kau harusnya berterimakasih kepada mama, karena mama sudah membesarkan mu. Saat ibu mu telah tiada! Jika mama ku jahat, dia bisa saja tidak mengurus atau menyiksa mu. Namun nyatanya, kau yang tidak pernah melihat ketulusannya!"
Clara menangis dengan penuh amarah "Cukup sudah! Cukup sudah kau menghina mama ku! Cukup! Kau tidak berhak untuk itu! "
Ryan memanas, ia mendekati Clara bahkan mencekik leher adik tirinya.
"Hentikan! Mengapa kalian ribut di sini!" Kaynara melerai mereka dengan tubuh yang masih lemah. Ia bahkan mendorong dan menampar Ryan!
Plak!
"Mengapa kau mengatakan hal buruk kepada Clara? Semua ini bukan kesalahan dan kemauan Clara! Ini semua keinginan ku sendiri! Siapa kau yang berani menyalahkan Clara, Ryan? Aku tidak meminta mu untuk mengejar ku! Aku tidak percaya, jika pria yang ku kenal sebagai pahlawan begitu bersikap kejam dengan adik nya!"
Ryan tanpa sadar, mengungkapkan rasa sakitnya. Clara tahu bagaimana perasaan kakaknya itu, namun itu semua belum tentu kesalahan mamanya Clara. Dan mama nya Clara sudah tiada, ia tidak bisa mendengar hal buruk tentang mamanya.
"Ryan, mengapa kau tidak bisa menerima kenyataan yang," belum selesai kaynara selesai berbicara, wanita itu sudah tak sadarkan diri
"Kay?"
Panggil keduanya, mereka sangat khawatir tentang kesehatan kaynara. Mengapa kondisi Kaynara selalu lemah setelah melahirkan
Ryan pun mengambil ponselnya di saku, ia menghubungi Jo. Memperintahkan Jo untuk memanggil dokter ke unit mereka, di saat seperti ini tidak mungkin Kaynara di bawa ke luar lagi.
"Kay, sadar lah!" Ryan menepuk pipi kaynara dengan lembut, ia merasa panik. Sesekali ia menatap Clara dengan tajam, namun tidak mengatakan apapun.
Ryan hanya fokus dengan kesembuhan Kaynara, setelah itu ia tidak memperdulikan apapun lagi!
"Kay! Bangun!" Ryan menepis tangan Clara, ia tidak ingin jika Clara menyentuh Kaynara. Baginya, Clara selalu membawa musibah untuk orang sekitarnya "Jangan menyentuh Kaynara ku! Kau pembawa sial, pergi lah!"
Clara tidak mendengarkan ucapan kakaknya "Bahkan, walau kau membunuh ku di sini. Aku tidak akan pergi, aku akan tetap di sini dengan Kaynara hingga ia sadar. Dan kau, ini semua karena mu bukan karena ku! Selama ini aku diam, karena aku menghormati mu sebagai kakak ku!"