
Kay yang di pandangi terus menerus oleh suami nya pun tersipu malu. Terlihat dari pipi nya yang memerah.
"Maaf kan aku, Ya? seharus nya kita kemari untuk berlibur tetapi aku malah membuat mu mengurus ku seperti ini." ujar Rangga.
"Sudah lah! bahkan aku tak akan merasa keberatan jika harus mengurus mu, ini tugas ku sebagai seorang isteri bukan? aku yakin, isteri-isteri di luar sana pun pasti akan melakukan hal yang sama untuk suami nya." Kay tersenyum.
"Makan lah yang banyak." Kay pun menyuapi Rangga kembali dengan penuh lembut dan kasih sayang.
"Masakan mu sungguh lezat, aku sangat menyukai nya."
"Terimakasih."
Setelah selesai memberi kan makan untuk Rangga, Kay langsung menyuruh suami nya untuk minum obat, karena obat itu mengandung Obat tidur membuat Rangga langsung memejam kan mata. Tim medis yang di bawa oleh mereka pun memantau keadaan Rangga yang semakin membaik. Hanya memerlukan beberapa waktu lagi untuk Rangga istirahat agar kembali pulih seperti sedia kala.
*******
Clara menerima telepon dari atasan nya, ini adalah kabar yang sangat baik. Besok pagi, Clara akan pergi ke Paris. Wanita itu pun sudah merekomendasi kan nama Aini sebagai pendamping nya dan atasan nya pun mensetujui. Segera Clara menghubungi Aini untuk memberitahu kabar baik ini.
Panggilan terhubung.
Iya kenapa, Ra? aku baru saja ingin istirahat ~ Aini
Baik lah, aku akan bersiap. Apakah kita akan lama di sana? ~ Aini
Belum tahu, bisa seminggu, sebulan, setahun, atau beberapa tahun. Tergantung kondisi klien *yang kita tangani. ~ ujar Clara
Baik, sampai ketemu besok ya ~ Aini
Iya, aku akan menjemput mu pagi-pagi sekali~ Clara*
Panggilan terputus
*******
Aini yang memutus kan telepon itu pun meletak kan ponsel di sebelah nya. Ia menyeder kan kepala di dinding, air mata nya menetes ia sangat merindu kan mama angkat nya
"Apakah Aini harus pergi, Ma? Aini sangat bingung, tetapi setiap kali Aini pulang dan ingin tidur. Dada ini terasa sangat sesak sekali ma, begitu banyak kenangan yang ada di rumah ini bersama dengan mama. Aini sangat merindu kan mama." Tangisan Aini semakin terisak, kehilangan seseorang yang sangat berarti bagi nya. Tak ada ingatan lain selain kenangan ia bersama mama nya. Kenangan saat ia sendiri tak mengenal diri nya, Kenangan saat-saat mama nya dengan penuh hati menyayangi dan merawat nya dengan penuh sabar.
Aini berusaha sangat tenang, ia mengatur nafas nya perlahan yang semakin terasa sesak. Mencoba untuk tersenyum dan mengingat ucapan mama nya yang berkata untuk tidak lemah menjalani kehidupan. Aini pun menghapus air mata nya, pelan-pelan ia mengambil barang yang harus ia bawa ke Paris bersama Clara.
Aini melihat bingkai photo diri nya bersama sang ibu, ia pun mengambil bingkai itu dan memeluk bingkai nya. Lalu, memasuk kan bingkai itu ke dalam koper untuk dia bawa pergi. Aini mendengar kan lagu yang begitu sangat menyentuh dan membuat ia semakin merindukan ibu nya. Berusaha untuk tetap tenang, Namun air mata tak bisa ia hindari, dada nya masih sangat sesak.